Pengecualian termasuk pasien dengan dugaan sindrom cauda equina, infeksi, tumor, fraktur, atau defisit neurologis progresif. Pasien yang tidak membaik dalam waktu satu bulan harus mendapatkan pencitraan resonansi magnetik jika dicurigai adanya herniasi diskus (Humphreys, 2002).
Sebelumnya perlu diketahui, apa Low Back Pain (LBP) itu?
Low Back Pain (nyeri punggung bawah) atau masyarakat umum sering menyebutnya dengan istilah saraf kejepit adalah rasa nyeri pada pinggang atau tulang punggung bagian bawah yang dapat terasa hingga ke bokong dan paha. Bahkan pada beberapa kasus, nyeri menjalar hingga ke kaki (Dwi, 2020).
Saat ini data epidemologi mengenai LBP di Indonesia memang belum ada. Prevelensi LBP di Indonesia sebesar 11,9% yang pernah menderita nyeri pinggang dengan prevelensi pada laki-laki (30,6%) dan pada wanita (69,4%) (Saputra,2020).
Penyebab Low Back Pain (LBP) paling umum adalah otot maupun ligamen yang robek atau tertarik. Hal ini bisa dalam bentuk keseleo atau ketegangan punggung bawah yang bisa terjadi tiba-tiba atau bisa berkembang perlahan seiring waktu karena gerakan berulang.
Keseleo dan ketegangan yang memicu nyeri punggung bagian bawah dapat disebabkan beberapa faktor seperti mengangkat benda berat, gerakan tiba-tiba yang membuat terlalu banyak tekanan pada punggung bawah seperti jatuh, postur tubuh yang buruk dari waktu ke waktu, cedera olah raga yang melibatkan putaran atau kekuatan benturan yang besar (Mitra Keluarga, 2022).
Kenapa MRI?
Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah salah satu modalitas radiologi diagnostik yang memanfaatkan medan magnet berkekuatan tinggi sehingga tidak menimbulkan efek radiasi. Resonansi magnetik (MR) didapatkan dari interaksi antara inti atom dan medan magnet yang diterapkan. Inti yang paling banyak mendominasi jaringan biologi merupakan atom hidrogen (Westbrook, 2008).
Saat ini MRI merupakan pemeriksaan rutin di rumah sakit besar. Pada prinsipnya hampir seluruh organ tubuh dapat diperiksa dengan MRI. Pemeriksaan MRI 90% dilakukan pada kepala dan vertebrae. Sedangkan sisanya sebesar 10% untuk pemeriksaan organ yang lain (Rasad, 2011).
MRI Lumbal merupakan pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosis kelainan di daerah lumbal.
Indikasi Pemeriksaan MRI Lumbal
Indikasi pada MRI Lumbal menurut Westbrook (2014) yaitu:
- Nerve compression
Sindrom kompresi saraf, atau neuropati kompresi, adalah kondisi medis yang disebabkan oleh tekanan langsung pada saraf. Hal ini dikenal bahasa sehari-hari sebagai saraf yang terperangkap, meskipun ini juga dapat merujuk pada kompresi akar saraf.
- Spinal dysraphism
Spinal dysraphism adalah kelainan bawaan pada perkembangan kolumna vertebra yang berhubungan dengan lesi neuroligik.
- Discitis
Discitis adalah pembengkakan (inflamasi) dan iritasi ruang antara tulang-tulang belakang (ruang disk intervertebralis).
- Failed back syndrome
Failed back syndrome adalah kondisi pasien yang belum memiliki hasil yang sukses dengan operasi punggung atau operasi tulang belakangdan telah mengalami rasa sakit lanjutan setelah operasi.
- Arachnoiditis
Arachnoiditis adalah peradangan pada arachnoid, salah satu membran yang mengelilingi dan melindungi saraf dari sumsum tulang belakang.
Kelebihan MRI
Keunggulan pemeriksaan MRI yaitu:
- Bersifat non-invasif (tanpa pembedahan)
- Tanpa radiasi
- Zat kontras MRI jarang menghasilkan reaksi alergi
- Gambar struktur jaringan lunak sangat jelas dan detail dibanding teknik pencitraan lain
- Dapat dengan mudah membuat ratusan gambar dari hampir semua arah dan orientasi apapun
- Dapat digunakan untuk melihat apakah kanker telah menyebar dan membantu menentukan pengobatan yang terbaik. (*/jay)