Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tekan Kematian Abses Otak dengan Antibiotik dan Penggunaan CT Scan - MRI

Administrator • Selasa, 6 Desember 2022 | 01:02 WIB
Abses otak yang dapat menyebabkan kematian (foto kiri) dan peralatan MRI yang bisa mendeteksi dini adanya abses otak pada pasien. (foto kanan). (ISTIMEWA)
Abses otak yang dapat menyebabkan kematian (foto kiri) dan peralatan MRI yang bisa mendeteksi dini adanya abses otak pada pasien. (foto kanan). (ISTIMEWA)
SURABAYA - Angka kematian abses otak sangat tinggi. Namun, akhir-akhir ini angka kematian tersebut dapat ditekan. Hal ini berkat penggunaan antibiotik yang tepat dan diagnosa dini abses otak dengan alat penunjang baik CT Scan (Computerized Tomography Scan) maupun MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Abses otak merupakan infeksi sekunder dari penyakit otogenik (sinus paranasalis, telinga tengah, mastoid cel), odontogen, trauma kepala, tindakan pembedahan kraniotomi, endokarditis dan infeksi lain di dalam tubuh, dan berhubungan dengan penyakit jantung bawaan. Infeksi tersebut sampai ke otak secara perkontinuitatum, hematogen atau kombinasi keduanya.

MRI adalah teknik pemindaian radiologi yang menggunakan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk menghasilkan gambar struktur tubuh. Mesin MRI berbentuk seperti tabung yang dikelilingi oleh magnet melingkar yang besar.

Dalam pemeriksaan MRI, pasien ditempatkan di tempat tidur yang kemudian dimasukkan ke lubang magnet. Medan magnet yang kuat akan terbentuk dan menyelaraskan proton atom hidrogen yang kemudian terkena pancaran gelombang radio. Hasilnya berupa sinyal yang dideteksi oleh bagian penerima pada mesin MRI. Komputer lalu memproses informasi penerima dan menghasilkan gambar.

Gambar dan resolusi dari MRI cukup detail dan dapat mendeteksi perubahan kecil pada struktur di dalam tubuh. Dalam beberapa prosedur, bahan kontras seperti gadolinium digunakan untuk meningkatkan akurasi gambar.

Gejala klinis yang terjadi pada abses otak ditandai dengan infeksi umum seperti demam, malaise, sakit kepala, muntah, kejang fokal/umum, kaku kuduk, gangguan bicara, kelemahan separuh tubuh, gangguan penglihatan dan gangguan endokrin.

Pemilihan modalitas untuk menunjang penegakkan diagnosa ini sangat penting, karena akan memberikan banyak informasi kepada dokter klinisi untuk memberikan obat atau terapi kepada pasien.

Pada gambaran CT scan, stadium serebritis ditandai area densitas rendah (hipodens) tanpa kontras dan dengan kontras ring positif bila ditunggu 60 menit tampak difusi kontras ke daerah hipodens.

Pada stadium abses tanpa kontras menunjukkan ring tipis dan dengan kontras tampak ring, bila ditunggu 60 menit tidak ada difusi kontras ke area hipodens. Dengan CT ini dapat diketahui tingkat perkembangan abses, lokasi dan banyaknya abses (tunggal atau ganda).

Sedangkan pada MRI akan menghasilkan gambaran yang lebih unggul dibandingkan modalitas lainnya karena, MRI mampu mendeteksi beberapa kelainan jaringan lunak seperti otak.

Selain itu, MRI juga memberi gambaran detail anatomi dengan lebih jelas, mampu melaksanakan pemeriksaan fungsional seperti pemeriksaan difusi, perfusi dan spektroskopi yang tidak dapat dilakukan dengan CT scan, mampu membuat gambaran dengan berbagai potongan tanpa merubah posisi pasien.

Zat kontras MRI jarang menghasilkan reaksi alergi, juga bersifat no invasif (tanpa pembedahan) dan yang paling akhir MRI tidak menggunakan radiasi pengion yang dapat membahayakan tubuh.

Dengan kelebihan tersebut, maka MRI dan CT Scan akan sangat berdampak terhadap kesembuhan pasien dari abses otak. Karena, abses otak tidak memiliki gejala yang khas sehingga dokter mendapatkan diagnosa yang tepat. (*/mri1/jay) Editor : Administrator
#mri #Tekan Kematian #Antibiotik #Abses Otak #Penggunaan CT Scan