Permainan bajul-bajulan hingga kini lestari dimainkan anak-anak TK hingga SD di Kota Surabaya. Dolanan atau permainan ini banyak dimainkan oleh anak- anak yang wilayahnya berdekatan dengan daerah aliran Sungai Bengawan Solo ataupun Sungai Brantas.
Bagi yang didapuk sebagai buaya tak perlu mengunakan kostum buaya, hanya sifatnya perilakukanya saja yang ditiru. Misalnya suka memangsa manusia dan hidupnya di air.
Biasanya mereka yang memainkan permainan ini tinggal di dekat daerah aliran Sungai Bengawan Solo ataupun Sungai Brantas.Semakin banyak anak yang ikut bermain, semakin seru. Dan dipastikan akan riuh. Tapi biasanya melibatkan 5-10 orang.
Satu pemain berperan menjadi bajol. Untuk menentukan siap yang menjadi bajol, mereka melakukan hompimpa terlebih dahulu. Atau dengan cara cara lain yang disepakati seperti gunting batu kertas.
Setelah menetapkan 1 orang menjadi bajol. Selebihnnya berperan sebagai menusia. Sebelum permainan dimulai, telah disepakati wilayah wilayah dimana bajul bisa beregerak. Atau dimana saja bajul dilarang memangsa.
Artinya bajol tidak bisa memegang pemain dalam area tersebut. Sebagai tanda pembatas biasaya digunakan tumpukan batu-batuan, teras-teras rumah, tiang, meja, dll, tergantung tempat bermainnya. Daerah itu mini- mal dapat disinggahi oleh 2 pemain. Daerah tempat singgah pemain biasa disebut daerah darat, dan daerah lainnya milik bajol yang biasa disebutdaerah air atau sungai.
Disebut seperti itu, karena jika manusia berada di daerah darat maka sibajol tidak dapat menerkam si manusia. Para pemain juga menetapkan batas waktu untuk si manusia berada di pijakannya (daerah darat) sesuai dengan kesepakatan mereka.
Sebelum permainan dimulai para manusia menyelonjorkan kakinya ke daerah air/ sungai sambil bergaya mencuci pakaian dan menyanyikan lagu :
"cuci cuci baju bajunya belom bersih buaya belom datang" dan ketika manusia menyanyikan lagu
"cuci cuci baju bajunya sudah bersih buaya sudah datang yang menjadi bajol datang permainan pun dimulai.
Si bajol mulai menggapai para manusia. Para manusia harus berlari untuk singgah ke daerah lain, manusia juga tidak boleh singgah dipijakannya terlalu lama, karena mereka sudah menyepakati waktu yang ditentukan. Jika melebihi batas waktu tersebut, sama saja si manusia mati dan menggantikan posisi si bajol.
Manusia harus berlari dari pijakan satu ke pijakan lain, jika pijakan yang ditempatinya disinggahi lebih dari 3 manusia. Saat manusia berlari untuk berpindah pijakan mereka tidak boleh sampai tertangkap oleh si bajol.
Sedangkan bajol harus tetap berusaha menangkap para manusia. Jika manusia berada di daerahnya, bajol hanya bisa mengulur-ngulurkan tangannya untuk menggapai si manusia. Jika tangan si bajol dapat menyentuh tubuh si manusia, maka manusia akan mati dan bertukar peran dengan bajol. Begitu seterusnya sampai permainan dinyatakan selesai.
Pemerhati sejarah Loemaksono mengatakan bajol-bajoan banyak dimainkan anak-anak diwilayah yang berdekatan dengan aliran sungai, terutama Sungai Bengawan dan Brantas. Sedangkan filosofi dari permainan Bajol-Bajolan ini sendiri yaitu berasal dari kata 'bajol' yang artinya 'buaya'.
Pada jaman dahulu, buaya adalah salah satu hewan reptil yang sangat ditakuti oleh masyarakat sekitar, karena dikenal buas. Setiap sungai yang ditempati warga untuk mandi atau mencuci baju selalu ada buayanya, sehingga warga selalu berhati-hati dengan datangnya buaya ini. Namun,para orang tua mengajarkan anak-anaknya agar tidak takut dengan buaya, tetapi agar tetap berhati-hati.
Loemaksono yang juga Lurah Pekauman mengatakan ada versi lain lain permainan ini muncul akibat pertarungan antara Joko Tingkir dengan para buaya. Sedangkan untuk persebaran permainan ini di daerah Gresik sendiri yaitu karena daerah Gresik merupakan daerah pesisir dan dekat dengan daerah Lamong yang juga daerah aliran Sungai Bengawan sehingga permainan ini juga dimainkan oleh anak-anak Gresik.
Tumiran yang merupakan Tokoh Masyarakat atau sesepuh Kelurahan Sukorame ini mengatakan bahwa terdapat beberapa versi yang menjelaskan permainan ini menyebar ke daerah- daerah lain, akibat peran para Wali Songo.
Mereka berdakwah ke berbagai daerah sambil mengenalkan berbagai macam permainan yang tujuannya mendidik dan menumbuhkan karakter seseorang. Jadi sebelum penjajahan pun permainan ini sudah dimainkan. Permainan ini mulai tidak dimainkan lagi sekitar tahun 70'an akibat banyaknya perkembangan yang jauh lebih maju yang menuntut kita untuk meninggalkan permainan ini
Editor : M Firman Syah