Harga Emas hingga Daging Ayam Naik, Inflasi Jatim Agustus Tembus 3,32 Persen

Mus Purmadani • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 06:47 WIB
Harga daging ayam yang naik membuat inflasi di Jatim tertekan. (Andy Satria/Radar Surabaya)
Harga daging ayam yang naik membuat inflasi di Jatim tertekan. (Andy Satria/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA – Inflasi Jawa Timur pada Agustus 2026 mencapai 3,32 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Kenaikan harga emas perhiasan hingga sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras turut memberikan tekanan terhadap inflasi di Jawa Timur.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur pada Agustus 2026 mencapai 112,26.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan inflasi tahunan tersebut terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.

“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year on year (yoy) Provinsi Jawa Timur sebesar 3,32 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,26,” kata Herum, Selasa (1/9).

Sumenep Catat Inflasi Tertinggi di Jatim

Secara spasial, Kabupaten Sumenep menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di Jawa Timur pada Agustus 2026.

Baca Juga: Bursa Transfer: Enzo Fernandez Akhirnya Resmi Gabung Manchester City

Inflasi Sumenep tercatat 3,99 persen dengan IHK sebesar 116,04. Sementara itu, Banyuwangi mencatat inflasi terendah, yakni 2,69 persen dengan IHK 112,60.

Perbedaan laju inflasi tersebut menunjukkan adanya variasi perkembangan harga antarwilayah di Jawa Timur.

Perawatan Pribadi Jadi Penyumbang Inflasi Tertinggi

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat tingkat inflasi yoy tertinggi, yakni 9,09 persen.

Selanjutnya, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 4,65 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami kenaikan sebesar 4,36 persen.

Kelompok lainnya yang mengalami inflasi antara lain kesehatan sebesar 2,48 persen; informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 2,32 persen; serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,67 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 1,54 persen.

Sementara itu, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,61 persen; pendidikan 1,36 persen; serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,12 persen.

Adapun kelompok pakaian dan alas kaki mencatat inflasi paling rendah, yakni 0,32 persen.

Harga Emas hingga Daging Ayam Dorong Inflasi

Sejumlah komoditas memberikan andil terhadap inflasi tahunan Jawa Timur. Emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang turut mendorong kenaikan harga.

Dari sektor pangan, komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi antara lain daging ayam ras, daging sapi, cabai rawit, minyak goreng, dan beras.

Baca Juga: Bursa Transfer: Fulham Rekrut 3 Pemain di Deadline Day, Alvaro Arbeloa Boyong Talenta Real Madrid

Selain itu, komoditas lain yang turut memberikan andil adalah bensin, angkutan udara, laptop/notebook, Sigaret Kretek Mesin (SKM), nasi dengan lauk, telepon seluler, sepeda motor, tahu mentah, air kemasan, akademi/perguruan tinggi, tempe, Sigaret Kretek Tangan (SKT), kontrak rumah, dan mobil.

Meski demikian, sejumlah komoditas justru memberikan sumbangan terhadap deflasi tahunan.

Komoditas tersebut antara lain bawang merah, telur ayam ras, kelapa, dan tomat.

Inflasi Bulanan Jatim 0,34 Persen

Selain inflasi tahunan, BPS Jawa Timur mencatat inflasi secara bulanan. Pada Agustus 2026, inflasi month to month (m-to-m) mencapai 0,34 persen.

Sementara itu, inflasi secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) mencapai 1,82 persen.

Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi bulanan.

Kenaikan harga juga terjadi pada cabai rawit, emas perhiasan, akademi/perguruan tinggi, beras, udang basah, daging sapi, kacang panjang, ketimun, dan cumi-cumi.

Di sisi lain, angkutan udara, bawang merah, tomat, bawang putih, dan bensin menjadi komoditas yang memberikan tekanan deflasi secara bulanan.

Makanan dan Transportasi Jadi Penekan Inflasi

Jika dilihat berdasarkan andil kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 1,20 persen.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,64 persen, sedangkan transportasi memberikan andil 0,58 persen.

Selanjutnya, penyediaan makanan dan minuman/restoran menyumbang 0,29 persen; informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,15 persen; serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,13 persen.

Kelompok pendidikan memberikan andil 0,10 persen.

Sementara kesehatan serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga masing-masing menyumbang 0,09 persen.

Rekreasi, olahraga, dan budaya memberikan andil 0,03 persen, sedangkan pakaian dan alas kaki sebesar 0,02 persen.

Dengan inflasi Jawa Timur sebesar 3,32 persen pada Agustus 2026, perkembangan harga pangan, transportasi, emas perhiasan, serta kebutuhan rumah tangga masih menjadi perhatian.

Kenaikan harga komoditas tersebut berpengaruh terhadap daya beli masyarakat dan perkembangan inflasi daerah.(mus)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Inflasi Jatim 2026 harga daging ayam BPS Jawa Timur harga emas