RADAR SURABAYA – Kinerja ekspor Jawa Timur menunjukkan tren positif sepanjang Januari hingga April 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat nilai ekspor Jatim mencapai US$8,52 miliar atau tumbuh 2,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekspor Jatim 2026 tersebut ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan yang masih menjadi kontributor terbesar dalam perdagangan luar negeri Jawa Timur.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan peningkatan ekspor didorong oleh membaiknya kinerja ekspor nonmigas yang mendominasi struktur perdagangan daerah.
“Nilai ekspor Jawa Timur Januari–April 2026 mencapai US$8,52 miliar atau naik 2,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan ini didukung peningkatan ekspor nonmigas yang masih menjadi kontributor utama perdagangan luar negeri Jawa Timur,” ujar Herum, Selasa (2/6).
Berdasarkan data BPS Jawa Timur, nilai ekspor nonmigas selama Januari–April 2026 mencapai US$8,38 miliar atau meningkat 3,45 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Baca Juga: Tampilkan Pesona dan Karakter Perempuan Jawa Karya Perupa Hasil On The Spot di Balai Pemuda Surabaya
Sementara itu, ekspor migas masih memberikan kontribusi yang relatif kecil terhadap total ekspor daerah.
Secara bulanan, kinerja ekspor Jawa Timur juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Pada April 2026, nilai ekspor tercatat sebesar US$2,45 miliar atau tumbuh 12,62 persen dibandingkan April tahun lalu. Adapun ekspor nonmigas mencapai US$2,44 miliar atau meningkat 15,33 persen secara tahunan.
Menurut Herum, capaian tersebut menunjukkan produk-produk unggulan Jawa Timur masih memiliki daya saing yang kuat di pasar internasional.
“Peningkatan ekspor pada April menunjukkan permintaan pasar global terhadap berbagai produk ekspor Jawa Timur masih cukup kuat, terutama untuk komoditas industri pengolahan,” katanya.
Lemak dan Minyak Nabati Jadi Penyumbang Kenaikan Terbesar
Dari sisi komoditas, kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) menjadi penyumbang kenaikan ekspor terbesar selama Januari–April 2026.
Nilai ekspor komoditas tersebut meningkat US$184,60 juta atau tumbuh 26,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tingginya permintaan dari berbagai negara tujuan ekspor menjadikan komoditas ini sebagai salah satu andalan perdagangan luar negeri Jawa Timur.
Sebaliknya, kelompok perhiasan atau permata (HS 71) mengalami penurunan terbesar. Nilai ekspornya turun US$284,74 juta atau terkoreksi 24,34 persen dibandingkan Januari–April 2025.
“Komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati memberikan kontribusi peningkatan terbesar terhadap ekspor nonmigas Jawa Timur. Sementara penurunan terbesar terjadi pada kelompok perhiasan dan permata,” jelas Herum.
Industri Pengolahan Dominasi Ekspor Jawa Timur
Berdasarkan sektor usaha, industri pengolahan tetap menjadi penggerak utama ekspor Jawa Timur.
Nilai ekspor nonmigas dari sektor ini mencapai US$8,04 miliar atau meningkat 5,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, sektor pertanian mengalami penurunan ekspor sebesar 25,24 persen. Sementara itu, ekspor hasil pertambangan dan sektor lainnya turun 20,79 persen dibandingkan Januari–April 2025.
“Industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor Jawa Timur. Struktur ekspor daerah saat ini masih didominasi produk manufaktur yang memiliki nilai tambah lebih tinggi,” ujarnya.
Impor Jatim Naik, Aktivitas Industri Tetap Bergairah
Di sisi lain, aktivitas impor Jawa Timur juga mengalami peningkatan. Selama Januari–April 2026, nilai impor tercatat mencapai US$10,39 miliar atau naik 7,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Impor nonmigas mencapai US$8,74 miliar atau meningkat 9,85 persen. Sementara impor migas turun 4,43 persen menjadi US$1,65 miliar.
Menurut Herum, peningkatan impor nonmigas mencerminkan tingginya aktivitas produksi dan kebutuhan industri di Jawa Timur.
“Kenaikan impor nonmigas menunjukkan aktivitas produksi dan industri di Jawa Timur masih berjalan baik karena kebutuhan bahan baku dan barang penolong terus meningkat,” katanya.
Dari sisi komoditas, buah-buahan menjadi kelompok barang impor dengan kenaikan terbesar.
Nilai impornya meningkat US$150,35 juta atau melonjak 40,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, impor besi dan baja mengalami penurunan terbesar, yakni turun US$48,32 juta atau berkurang 8,51 persen dibandingkan Januari–April 2025.
Berdasarkan penggunaan barang, impor bahan baku dan barang penolong masih mendominasi dengan nilai mencapai US$8,25 miliar atau naik 4,24 persen dibandingkan tahun lalu.
Impor barang konsumsi tercatat sebesar US$1,23 miliar atau meningkat 17,57 persen, sedangkan impor barang modal mencapai US$0,91 miliar atau melonjak 26,04 persen.
“Kenaikan impor barang modal menjadi indikator positif karena menunjukkan adanya peningkatan investasi dan ekspansi kapasitas produksi di berbagai sektor ekonomi,” terang Herum.
Meski neraca perdagangan Jawa Timur masih mencatat impor lebih tinggi dibandingkan ekspor, BPS menilai aktivitas ekonomi daerah tetap menunjukkan prospek yang kuat.
Penguatan industri pengolahan, diversifikasi pasar tujuan ekspor, dan peningkatan daya saing produk lokal diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekspor Jawa Timur pada periode berikutnya.(mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan