RADAR SURABAYA - Kenaikan harga pangan pokok kembali menjadi sorotan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya lonjakan harga gula pasir di berbagai wilayah Indonesia.
Hingga minggu ketiga April 2026, tercatat 171 kabupaten/kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) gula pasir, meningkat dari 153 daerah pada minggu sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kenaikan harga gula adalah mahalnya biaya kemasan.
Baca Juga: Gunung Semeru Kembali Erupsi, Luncuran Awan Panas Capai 4,5 Kilometer
“Gula pasir dijual dalam kemasan plastik. Kenaikan harga plastik otomatis mengerek harga jual ke konsumen,” ujarnya, Jumat (24/4).
Selain itu, fluktuasi pasokan bahan baku plastik yang dipengaruhi dinamika global turut memperburuk kondisi. Hal ini membuat biaya produksi dan distribusi gula semakin tinggi.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa pemerintah sedang mencari solusi untuk mengatasi masalah pasokan plastik.
Baca Juga: Kejar Swasembada, Target Produksi Gula Nasional Capai 3,04 Juta Ton
“Pemerintah tidak diam, sedang mencari upaya agar problem kekurangan pasokan bahan baku plastik segera terselesaikan. Kami percayakan kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian,” katanya.
Ketut menambahkan bahwa meski harga gula naik, sebagian besar daerah masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP).
Dari 171 daerah yang mengalami kenaikan IPH, hanya 135 kabupaten/kota yang melampaui HAP.
Baca Juga: Gol Menit 90+4 Hancurkan Real Madrid, Barcelona Makin Nyaman di Puncak
Dalam pantauan Bapanas, rerata harga gula konsumsi nasional naik dari Rp 18.412 per kilogram menjadi Rp 18.770 per kilogram pada 20 April. Kenaikan ini masih tergolong wajar, yakni sekitar 1,94 persen dalam sebulan terakhir.
Proyeksi produksi gula kristal putih dalam negeri juga diperkirakan meningkat signifikan dari 58,3 ribu ton pada April menjadi 276,4 ribu ton pada Mei. Lonjakan produksi ini diharapkan mampu menekan harga di pasaran. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari