Ekspor Melemah-Impor Melonjak di Awal 2026, Neraca Perdagangan Jatim Defisit USD 1,17 Miliar
Mus Purmadani• Jumat, 3 April 2026 | 20:50 WIB
Nilai ekspor Jawa Timur yang menurun membuat neraca perdagangan defisit. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)RADAR SURABAYA – Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur pada awal tahun 2026 menunjukkan tekanan. Nilai ekspor mengalami penurunan, sementara impor justru meningkat signifikan, yang berujung pada defisit neraca perdagangan.Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengungkapkan bahwa nilai ekspor Jawa Timur periode Januari–Februari 2026 tercatat sebesar USD 4,02 miliar. Angka tersebut turun 0,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.“Sejalan dengan itu, ekspor nonmigas yang mencapai USD 3,97 miliar juga mengalami penurunan tipis sebesar 0,04 persen,” ujarnya.Baca Juga: BNNP Jatim Tak Puas, Buru Pengendali Dua Kurir Satu Kilogram Sabu di SurabayaSecara bulanan, kinerja ekspor pada Februari 2026 juga melemah. Nilai ekspor tercatat sebesar USD 1,97 miliar atau turun 5,48 persen dibandingkan Februari 2025. Ekspor nonmigas pada bulan yang sama sebesar USD 1,92 miliar, turun 5,10 persen secara tahunan.Meski demikian, beberapa komoditas masih mencatatkan kinerja positif. Dari sepuluh komoditas utama nonmigas, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) menjadi penyumbang kenaikan terbesar, yakni naik USD 107,85 juta atau 32,34 persen dibandingkan tahun lalu.Baca Juga: Persebaya vs Persita: Bernardo Tavares Ungkap Bahaya Transisi Cepat LawanSebaliknya, komoditas tembaga (HS 74) mengalami penurunan paling dalam, yakni sebesar USD 57,48 juta atau turun 16,10 persen.Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas dari industri pengolahan masih tumbuh positif. Nilainya mencapai USD 3,81 miliar atau naik 1,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ekspor sektor pertanian turun tajam hingga 31,46 persen, sementara sektor pertambangan dan lainnya juga turun 0,77 persen.Baca Juga: Atap Rumah Warga di Tulungagung Hancur Gara-Gara Kejatuhan Balon Udara Berisi PetasanDi sisi lain, impor Jawa Timur justru mengalami lonjakan cukup tinggi. Nilai impor Januari–Februari 2026 mencapai USD 5,19 miliar atau naik 13,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.“Kenaikan ini terutama didorong oleh impor nonmigas yang mencapai USD 4,56 miliar atau naik 23,97 persen,” jelas Herum.Sementara itu, impor migas tercatat sebesar USD 0,63 miliar, mengalami penurunan 31,01 persen dibandingkan tahun sebelumnya.Baca Juga: Tak Hanya Rumah Pompa, Ini Strategi Baru Cak Eri Tangani Banjir di SurabayaDari sisi komoditas, lonjakan terbesar terjadi pada perhiasan atau permata yang meningkat hingga USD 514,87 juta atau melonjak 467,66 persen. Sebaliknya, impor besi dan baja mengalami penurunan terbesar, yakni turun USD 91,89 juta atau 28,93 persen.Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku atau penolong masih mendominasi dengan nilai USD 4,20 miliar, naik 12,40 persen. Baca Juga: Komisi C DPRD Jatim Sebut Efisiensi BUMD Harus Tepat Sasaran Impor barang konsumsi mencapai USD 0,52 miliar atau naik 7,56 persen, sedangkan impor barang modal sebesar USD 0,47 miliar, tumbuh 26,26 persen.Kondisi tersebut menyebabkan neraca perdagangan Jawa Timur pada Januari–Februari 2026 mengalami defisit sebesar USD 1,17 miliar. Defisit ini terjadi karena nilai impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor.Secara rinci, defisit neraca perdagangan berasal dari dua sektor sekaligus. Defisit sektor migas tercatat sebesar USD 576,72 juta, sementara sektor nonmigas juga mengalami defisit sebesar USD 594,80 juta.Baca Juga: Film “Ghost in the Cell” Karya Joko Anwar Tembus 86 Negara Sebelum Tayang di Indonesia“Defisit ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih cukup kuat, terutama dari sisi peningkatan kebutuhan impor di tengah perlambatan ekspor,” pungkasnya. (mus) Editor : Nurista Purnamasari