RADAR SURABAYA – Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 memberikan dampak yang sangat luas secara global.
Termasuk berdampak kepada industri nasional, mengingat Selat Hormuz yang ditutup akibat serangan tersebut, selama ini dikenal sebagai lalu lintas kapal minyak dan distribusi barang secara global.
Muaranya, para pelaku usaha lebih memilih mengambil kebijakan bijak dalam menjalankan usahanya, salah satunya dengan melakukan penyesuaian di sana sini.
Salah satu pelaku usaha, Yusuf Wiharto mengatakan, tahun ini menjadi waktu yang berat bagi sektor industri karena sejumlah sentiment negatif sudah muncul di triwulan I/2026.
"Yang sangat jelas dan sudah terjadi adalah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran,” kata Yusuf, Jumat (6/3).
Direktur Utama (Dirut) PT Moga Djaja ini menjelaskan, Selat Hormuz mempunyai peran sangat strategis dalam dunia usaha.
Kalau Selat Hormuz sampai ditutup maka imbasnya sangat luas, bahkan hingga ke Indonesia.
“Distribusi minyak akan terhambat, padahal BBM pegang peranan kunci dalam distribusi barang, termasuk di industri kita lho,” lanjut pemimpin perusahaan distributor Viva Cosmetic Kawasan Indonesia Timur tersebut.
Lebih jauh Yusuf menjelaskan, saat ini 80 persen bahan baku Viva Cosmetic masih didominasi impor.
“(Bahan baku, Red) kita impor dari negara-negara di Eropa, Jepang, hingga Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa,” ungkapnya.
Yusuf yang juga President Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Surabaya itu mengungkapkan, sudah tiga tahun terakhir Viva tidak menaikkan harga.
Sementara di sisi lain, Viva juga tetap mempertahankan kualitas dan terus berinovasi agar konsumen tetap percaya.
Kebijakan itu dipilih dengan berbagai pertimbangan, utamanya soal daya beli konsumen.
“Berat bagi kami untuk mengambil keputusan tidak menaikkan harga padahal biaya operasonal terus naik karena inflasi, UMK naik 10 persen dan seterusnya,” jelas salah satu pemegang saham PT Vitapharm itu.
Yusuf menambahkan, tahun ini mereka akan sedikit mengerem produk baru.
Kalau biasanya setahun sampai rilis 20 produk baru maka tahun ini produk baru yang disiapkan sekitar 5 hingga 10 saja. “Kita juga tetap andalkan inovasi,” imbuhnya.
Ditambahkan Yusuf, tahun ini perusahaan menargetkan pertumbuhan penjualan dua digit.
“Meskipun ini tahun yang berat tapi kami tetap optimistis bisa tumbuh dua gitit. Kami yakin bisa di atas 15 persen lah,“ pungkas ayah dua putra itu. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa