Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bukan karena Permintaan Tinggi, Ini Dia Biang Kerok Harga Pangan Melonjak saat Ramadan dan Jelang Idulfitri

Nofilawati Anisa • Minggu, 1 Maret 2026 | 04:28 WIB

SIAP: Telur menjadi salah satu komoditas pangan yang selalu mengalami lonjakan harga saat Ramadan dan jelang Idulfitri.
SIAP: Telur menjadi salah satu komoditas pangan yang selalu mengalami lonjakan harga saat Ramadan dan jelang Idulfitri.

RADAR SURABAYA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan terus menjaga kewajaran harga pangan selama Ramadan 1447 Hijriah dengan mengintensifkan pengecekan kondisi riil komoditas pokok strategis ke pasar induk hingga turunan.

"Ini dilakukan untuk menjamin stabilitas harga di level konsumen akhir, mengingat pasar-pasar menjadi tumpuan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan harian," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikutip, Minggu (1/3).

Dia menyampaikan berdasarkan hasil peninjauan lapangan tingkat harga pangan pokok strategis masih relatif bagus.

Pemerintah ingin mempertahankan kewajaran harga agar masyarakat merasa nyaman dalam mengakses kebutuhan konsumsi pangannya.

"Mudah-mudahan ini bisa bertahan harganya sehingga ke depan masyarakat juga lebih nyaman untuk memperoleh barang-barang yang wajar, khususnya untuk pangan," ujar Ketut.

Menurutnya harga jual mulai dari daging sapi, produk hortikultura dan unggas sampai beras, terpantau masih berada dalam koridor kewajaran dari ketentuan harga yang ditetapkan pemerintah.

Bahkan harga cabai rawit merah juga mulai ada penurunan.

Meskipun harga masih fluktuatif, tapi masih dalam koridor yang wajar terhadap Harga Eceran Tertinggi (HAT) dan Harga Acuan Penjualan (HAP).

Ketut mengaku telah meninjau langsung beberapa pasar seperti Pasar Senen hingga Pasar Gondangdia di Jakarta.

Kepala pasar dan tim mendampingi Ketut di Pasar Gondangdia untuk memantau harga pangan, dimana harga daging sapi maksimal Rp 140.000 per kilogram (kg) serta daging ayam sekitar Rp 39.000 hingga Rp 40.000 per kg.

Ia juga mencatat bawang merah Rp 42.000 hingga Rp 43.000 per kg, cabai rawit merah turun menjadi Rp 100.000 per kg, telur Rp 30.000 sampai Rp 31.000 per kg, bawang putih Rp 38.000 hingga Rp 39.000 per kg, serta beras medium Rp 12.000 hingga Rp 12.500 per kg.

Dalam data Indeks Perkembangan Harga (IPH) sampai minggu ketiga Februari 2026, jumlah daerah secara nasional yang mengalami penurunan IPH bergerak positif dibandingkan kondisi IPH sebulan sebelumnya.

Hal itu menandakan volatilitas harga pangan masih terkendali dan program intervensi pangan pemerintah cukup ampuh.

Ketut mencontohkan bawang putih, dengan jumlah daerah mengalami penurunan IPH hingga minggu ketiga Februari 2026 tercatat sebanyak 138 kabupaten/kota atau naik dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya sejumlah 65 kabupaten/kota.

Telur ayam ras juga mencatatkan peningkatan jumlah daerah dengan penurunan IPH di 171 kabupaten/kota hingga minggu ketiga Februari 2026 dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebanyak 129 kabupaten/kota.

Adapun jumlah daerah dengan penurunan IPH tertinggi ada di komoditas bawang merah yang sebanyak 232 kabupaten/kota.

Kemudian minyak goreng 207 kabupaten/kota, cabai merah 145 kabupaten/kota, daging ayam ras 88 kabupaten/kota, cabai rawit 81 kabupaten/kota, beras 79 kabupaten/kota, gula pasir 49 kabupaten/kota, dan daging sapi 22 kabupaten/kota.

Di sisi lain, fluktuasi harga pangan yang melebihi HET dan HAP salah satunya diakibatkan perilaku pedagang atau pengecer di pasar tradisional yang sengaja menaikkan harga untuk mendapatkan margin lebih.

"Ini kerap terjadi karena untuk persiapan Hari Raya Idulfitri mendatang. Hal ini menjadi temuan Satgas Saber Pelanggaran Pangan," beber Ketut. (ara/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Harga Pangan Melonjak #harga eceran tertinggi (HET) #Bapanas #Ramadan dan Idulfitri #Permintaan Tinggi #harga acuan penjualan