Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Amdal Blok Masela Terbit, Groundbreaking Paling Lambat Akhir Maret 2026

Nofilawati Anisa • Rabu, 25 Februari 2026 | 15:09 WIB

 

ILUSTRASI: Groundbreaking Blok Masela ditargetkan berlangsung paling lama akhir Maret atau sepekan sebelum Idulfitri.
ILUSTRASI: Groundbreaking Blok Masela ditargetkan berlangsung paling lama akhir Maret atau sepekan sebelum Idulfitri.

RADAR SURABAYA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan persetujuan dokumen analisis dampak lingkungan (Amdal) Inpex Masela Ltd. untuk proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, sudah terbit.

Saat ini, Inpex sedang menyelesaikan pembayaran kompensasi atau ganti rugi tanam tumbuh bagi masyarakat yang terdampak proyek tersebut, agar dapat rampung satu pekan sebelum Idulfitri 2025 atau sebelum groundbreaking yang ditargetkan akhir Maret.

“Nah, ini tadi mengenai ask for help dan permintaan bupati Tanimbar supaya kompensasi tanam tumbuhnya kepada masyarakat. Kita selesaikan seminggu sebelum Lebaran kalau bisa,” kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam rapat Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) di Kementerian Keuangan, dikutip Rabu (25/2).

Djoko mengungkapkan besaran ganti rugi yang ditetapkan bagi lahan masyarakat yang terdampak dinilai masih cukup kecil.

Sehingga terdapat tim terpadu yang berisi pemerintah daerah untuk melakukan negosiasi terkait dengan besaran dana ganti rugi tersebut.

Terkait dengan perizinan lahan dan lingkungan, Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan (PPKH) telah terbit pada 7 Januari 2026.

Sementara itu, persetujuan Amdal didapatkan pada 13 Februari 2026.

Untuk sisi komersial, Djoko mengungkap progres draf LNG development agreement (LDA) saat ini mencapai 35 persen dengan target selesai pada kuartal II/2026.

Adapun, head of agreement (HOA) dengan PT PLN EPI, PT PGN, dan Pupuk Indonesia bersifat tidak mengikat sejak Mei 2025.

Djoko juga menargetkan penyelesaian FEED EPCI SURF & GEP pada periode Juni-Oktober, sedangkan FEED FPCI OLNG & FPSO ditargetkan rampung pada Juni-November.

”Pekerjaan awal atau early work dijadwalkan mulai pada kuartal I/2026. Target akhir untuk finalisasi LDA dan final investment decision (FID) dipatok pada Desember,” jelasnya.

Djoko mengungkapkan dalam waktu dekat, Inpex akan menyelesaikan sosialisasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan serta penyelesaian kompensasi tanam tumbuh pada Maret.

“Kemudian, groundbreaking dan dimulainya konstruksi OLNG direncanakan pada April, diikuti dengan target gas sales agreement (GSA) pada November,” urainya.

Sekadar catatan, SKK Migas sebelumnya mengungkapkan Inpex telah mengamankan pendanaan proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela senilai USD 20 miliar atau sekitar Rp 335,98 triliun (asumsi kurs Rp 16.799 per USD).

Adapun, hingga saat ini Inpex masih belum mendapatkan pembeli gas dari lapangan di Blok Masela tersebut.

Djoko, dalam kesempatan sebelumnya, mengaku akan terus mendorong Inpex agar segera menemukan pembeli gas dari lapangan tersebut.

Apalagi, SKK Migas telah memberikan berbagai kemudahan dalam proses pengurusan perizinan Inpex untuk menggarap lapangan gas alam raksasa tersebut.

Proyek Abadi Masela ditaksir sanggup memproduksi 9,5 juta ton gas alam cair atau LNG per tahun, setara dengan lebih dari 10 persen impor LNG tahunan Jepang.

Selain itu, proyek ini juga diestimasikan mengakomodasi gas pipa 150 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).

Pemegang hak partisipasi atau participating interest (PI) di Blok Masela adalah Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65 persen.

Kemudian Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela menggenggam 20 persen PI dan Petrolian Nasional (Petronas) Masela Berhad sebesar 15 persen.

Dalam perkembangannya, SKK migas menargetkan pembangunan perdana atau groundbreaking proyek Gas Masela dilakukan pada akhir Maret atau sebelum Idulfitri 1447 H.

Adapun, SKK Migas sempat mengonfirmasi terdapat tambahan biaya investasi di Blok Masela untuk mengimplementasikan penambahan fasilitas CCS.

Perusahaan migas asal Negeri Sakura tersebut menambah biaya USD 1 miliar atau setara Rp 16,34 triliun (asumsi kurs Rp 16.350) untuk proyek tangkap-simpan karbon di Blok Masela.

Dengan demikian, proyek yang awalnya senilai USD 20,94 miliar, kini bengkak menjadi USD 21,94 miliar. (blo/opi)

Lapangan Gas Abadi Blok Masela

*Lokasi:
1. Laut Arafura
2. 800 km sevelah timur Kupang NTT
3. Kedalaman laut 300-1000 meter

*Luas area 4.291,35 km persegi
*Administratif: Pulau Yamdena, Tanimbar, Maluku

* Infrastruktur utama:
1. Kilang LNG darat berkapasitas total 9,5 juta ton per tahun
2. Jaringan pipa gas domestic
3. Fasilitas ekspor LNG

*Groundbreaking akhir Maret
*Produksi:
1. Gas alam cair
2. Jumlah 9,5 juta ton per tahun

*Nilai proyek USD 21,94 miliar
*Pemegang hak partisipasi:
1. Inpex Masela Ltd Jepang 65 persen
2. Pertamina Hulu Energi Masela 20 persen
3. Petronas Masela Berhad 15 persen

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Djoko Siswanto #INPEX Masela Ltd #gas alam cair #groundbreaking blok masela #SKK Migas