Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ada 1.728 Unit Usaha Industri Hasil Tembakau di Jawa Timur, Segini Tenaga Kerja yang Diserap

Mus Purmadani • Sabtu, 14 Desember 2024 | 02:41 WIB

 

 

BERKONTRIBUSI: Di Jatim terdapat 1.728 unit usaha IHT yang berperan dalam penyerapan tenaga kerja.
BERKONTRIBUSI: Di Jatim terdapat 1.728 unit usaha IHT yang berperan dalam penyerapan tenaga kerja.
RADAR SURABAYA - Industri hasil tembakau (IHT) mempunyai peran penting dalam menggerakkan roda perekonomian di Jawa Timur (Jatim).

Industri hasil tembakau Jatim memberikan kontribusi sebesar 22,78 persen dan peringkat kedua tertinggi terhadap pembentukan produk domestik regional bruto (PDRB)  industri Provinsi Jatim.

"Ini selaras dengan posisi Jawa Timur sebagai penghasil tembakau terbesar di indonesia dengan nilai kontribusi sebesar 43,9 persen dari total produksi nasional," kata Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono saat mendampingi Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM RI Rosan Perkasa Roeslani meresmikan fasilitas produksi sigaret kretek tangan (SKT) PT HM Sampoerna Tbk. di Jalan Kalirungkut Surabaya, Jumat (13/12).

Jumlah industri rokok sebagian besar juga berada di Jawa Timur dan berkontribusi sekitar 60 persen terhadap total penerimaan cukai secara nasional.

Tahun 2024, lanjut Adhy, di Jawa Timur terdapat kurang lebih 1.728 unit usaha industri hasil tembakau yang mempekerjakan 287.180 tenaga kerja.

Angka ini, belum termasuk tenaga kerja yang bergerak di bidang pendistribusian dan perdagangan produk industri pengolahan tembakau sampai dengan sektor retail.

Sementara itu, perekonomian Jatim sampai dengan triwulan III tahun 2024 tumbuh sebesar 4,91 persen year on year (yoy).

Jawa Timur berkontribusi sebesar 14,37 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan sebesar 25,55 persen terhadap PDRB Pulau Jawa.

"Ini menunjukkan bahwa Jawa Timur masih menjadi lokomotif perekonomian nasional," kata

Adhy menjelaskan, perekonomian Jatim didominasi oleh tiga sektor utama.

Yakni sektor industri pengolahan sebesar 30,72 persen, diikuti oleh sektor perdagangan sebesar 18,75 persen, dan pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 11,20 persen.

"Sedangkan 14 sektor lainnya memberikan kontribusi sebesar 39,33 persen terhadap PDRB Jawa Timur," terangnya.

Selain itu, lanjut Adhy, hingga triwulan III-2024 nilai realisasi investasi Jawa Timur sebesar Rp 111,4 triliun.

Berdasarkan data Kementerian Investasi RI capaian realisasi tersebut didominasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 69,93 triliun.

"Ini menjadi indikasi bahwa sektor swasta dalam negeri memiliki kepercayaan dalam menanamkan dan merealisasikan modalnya di Jawa Timur," tuturnya.

Ia juga menyampaikan sektor industri Jatim juga menjadi salah satu pilar utama dalam mendongkrak perekonomian, yang sampai dengan triwulan III 2024 mencatatkan angka pertumbuhan sebesar 5,4 persen diatas pertumbuhan nasional sebesar 4,2 persen.

Orang nomor satu di Jatim ini mengungkapkan, beragam fasilitas telah dibuat untuk meningkatkan realisasi investasi di Jatim.

Diantaranya penyediaan lahan/lokasi, kemudahan perizinan berusaha melalui aplikasi JOSS, fasilitasi dan koordinasi penyelesaian masalah investasi, serta penyediaan data dan informasi peluang investasi melalui aplikasi Point Jatim.

"Berbagai fasilitas telah kita upayakan untuk mempermudah dan meningkatkan realisasi investasi di Jawa Timur," ucapnya.

Adhy juga mengingatkan agar semua pihak mematuhi regulasi yang berlaku, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan pekerja.

Karena dengan begitu, semua akan berkontribusi tidak hanya bagi perekonomian tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan kehidupan yang sehat untuk generasi mendatang. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#industri pengolahan #roda perekonomian #iht #Investasi #Jawa Timur #Tenaga Kerja