RADAR SURABAYA – Fenomena menarik terjadi di Indonesia. Ketika harga beras dan gandum impor terjangkau, beberapa pangan lokal seperti talas, ubi jalar, dan singkong justru lebih mahal.
F. Rahardi, pengamat sosial ekonomi pertanian, menjelaskan bahwa mahalnya harga pangan lokal disebabkan oleh rendahnya produksi dan tingginya permintaan.
"Produksi talas, singkong, dan ubi jalar di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan tanaman seperti jagung, gandum, atau padi. Contohnya, produksi talas dunia hanya 17,7 juta ton, sedangkan gandum mencapai 785 juta ton," jelas Rahardi.
Data harga menunjukkan bahwa tepung gandum per kilogram hanya Rp12.000, beras Rp 14.000, sementara talas mencapai Rp15.000 dengan kadar air tinggi.
"Harga talas masih dengan kulit dan pelepah, serta kadar air 70 persen. Bandingkan dengan beras atau gandum yang kadar airnya di bawah 14 persen," tambahnya.
Kondisi ini berimbas pada pola konsumsi masyarakat. Dengan melemahnya daya beli akibat kontraksi ekonomi, masyarakat kelas menengah yang biasanya makan di restoran kini beralih ke mi instan. Tak heran, omzet produsen mi instan seperti Indofood meningkat pesat.
Namun, Rahardi menilai fenomena ini menyedihkan. "Lha kenapa tidak makan singkong, ubi jalar, atau talas saja? Itu lebih sehat. Masalahnya, justru pangan lokal ini lebih mahal daripada gandum," ujar Rahardi.
Pangan lokal seperti singkong dan ubi seharusnya menjadi alternatif murah dan sehat. Namun, produksi yang terbatas dan logistik yang tidak efisien membuat harga melonjak. Sebaliknya, gandum yang diimpor dalam jumlah besar bisa dijual dengan harga murah karena mekanisme pasar global.
Rahardi menyarankan pemerintah untuk memperbaiki tata kelola pangan lokal agar dapat bersaing harga. "Jika produksi dan distribusi pangan lokal lebih efisien, kita tidak perlu terlalu bergantung pada impor gandum," tutupnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek