Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Potensi Besar, Pemanfaatan Energi Terbarukan Panel Surya di Surabaya Masih Minim

Moh. Afik • Kamis, 7 September 2023 | 06:01 WIB
Photo
Photo

SURABAYA - Sebagai kota industri utama, Surabaya dan Jatim memiliki potensi pemanfaatan energi terbarukan termasuk panel surya sangat besar. Namun sejauh ini pemanfaatannya masih sangat minim.

Oky Gunawan, Chief of Sales SUN Energy menjelaskan, sebagai negara tropis, Indonesia memiliki sumber daya alam untuk energy terbarukan sangat besar. Namun pemanfaatannya belum maksimal.

Sebagai gambaran, dalam road map pemerintah, tahun 2025 pemanfaatan energy terbarukan sekitar 23 persen. Dan tahun 2060 sudah net zero. Namun hingga saat ini, pemanfaatannya baru mencapai 7 pesen. Tidak hanya solar panel saja, namun juga biogas, biothermal dan lainnya.

“Karena itu potensinya sangat besar. Apalagi sekarang pemerintah sedang gencar masalah perubahan iklim. Sehingga energy terbarukan terus disuarakan,” kata Oky, Rabu (6/9).

Untuk itu, sebagai developer dalam energy terbarukan, SUN Energy akan semakin fokus menggarapnya termasuk di Jatim dan Surabaya. Bahkan untuk membuktikan keseriusannya dalam menggarap market di Surabaya dan Jatim, pihaknya juga membuka kantor cabang.

“Ini kantor cabang pertama di luar Jakarta. Saat ini secara nasional, ada 100 lebih industri yang menjadi mitra bisnis kami dimana 10-15 pabrik dan Lembaga Pendidikan ada di Surabaya dan Jatim seperti Wismilak Group, Tjiwi Kimia, ITN Malang dan banyak lagi lainnya,” katanya.

Dikatakan, Surabaya dan Jatim memiliki potensi pasar sangat besar karena jumlah industri di Surabaya dan Jatim sangat banyak baik sekala kecil maupun besar. Selain itu irradiation di Jatim juga sangat tinggi sehingga saving yang didapat industri akan signifikan jika memanfaatkan panel surya.

“Potensinya sangat besar. Bukan hanya solar panel namun juga source yang lainnya. Tinggal bagaimana pemerintah bisa membalance. Karena tidak mungkin meningggalkan energy lama sangat cepat. Nanti ada turbulensi. Di sinilah diperlukan kebijaksanaan supaya transisinya berjalan dengn baik,” tambahnya.

Dia mengaku proses pemanfaatan energy surya juga sangat muda dan minim investasi. Sebab, mitra bisnis tidak mengeluarkan biaya infrastruktur awal. Semua akan ditanggung SUN Energy. Mitra bisnis hanya membayar sewa selama 25 tahun. Setelah itu semua akan menjadi hak mitra bisnisnya.

“Gambaran mudahnya setiap panel surya yang menghasilkan 1 megawatt biayanya sekitar Rp 10-11 miliar. Mitra kjami yang terbesar di Jatim itu Tjiwi Kimia yang memasang 9,8 MW,” ujarnya.

Sementara itu, Tikto Priharmomo, Factory Manager PT Gelora Djaja, menjelaskan, Wismilak Group bersama anak usahanya, PT Gelora Djaja menginisiasi pemanfaatan sistem energi surya sebagai sumber energi alternatif yang mampu mengurangi dampak proses produksi terhadap lingkungan.

Hal itu bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam proses transisi energi terbarukan. Selain itu juga sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang diterapkan Wismilak Group di bidang lingkungan melalui; pengurangan emisi, efisiensi energi, pengelolaan dampak lingkungan dan penggunaan energi terbarukan.

“Sistem energi surya ini akan menghasilkan energi listrik sebesar 174,5 MWh per tahun dan bisa mereduksi emisi karbon 150 ton per tahun. Dari sisi efisiensi cost, bisa saving Rp 4 juta perbulan. Sebenarnya masih kurang. Namun aturannya kan hanya 15 persen dari total kebutuhan daya,” kata Tikto. (fix)

Editor : Jay Wijayanto
#Panel Surya #energi terbarukan #kota industri