Luckyanto, CEO Propnex Indonesia mengatakan, rencana pemerintah yang mengijinkan orang asing bisa memiliki properti di Indonesia dipastikan akan berdampak sangat signifkan. Pasar properti kelas high-end diperkirakan menjadi incaran investor asing.
Pasalnya, harga properti di Indonesia dibanding dengan negara asia lainnya masih tergolong lebih murah. Sehingga investor asing akan tertarik menanamkan modalnya dengan membeli properti di sini baik landed house maupun apartemen.
Sebagai pembanding di Singapura harga apartemen di daerah pinggiran sudah SGD 1,5 juta atau Rp 15 miliar. Pajaknya juga cukup tinggi yakni 20 persen atau sekitar Rp 2,5 miliar. Sehingga uang yang digunakan untuk membayar tax saja sudah bisa dipakai membeli rumah mewah di Indonesia.
“Kami yakin tahun ini akan banyak investor asing yang membeli properti di Indonesia terutama di Jakarta, Bali dan Batam. Di Surabaya yang paling banyak diincar industrial,” kata Luckyanto, Rabu (8/3).
Pihaknya semakin optimis penjualan tahun ini juga akan naik minimal dua kali lipat dari tahun 2022. Tahun lalu, Propnex Indonesia berhasil membukukan transaksi sebesar Rp 2,5 triliun. Jumlah tersebut naik sekitar 100 persen dari tahun 2021 yang sebesar Rp 1,4 triliun.
Lucky mengaku sangat optimis tahun 2023 penjualannya akan menembus angka Rp 5 triliun. Dari jumlah tersebut sekitar 40 persen berasal dari transaksi rumah atau apartemen baru (primary market). Dan sisanya 60 persen dari secondariy market. Tiga bulan pertama penjualannya sudah naik 50 persen lebih dari tahun lalu periode yang sama.
“Untuk foreigner tahun ini kami yakin transaksinya mencapai 50 persen dari tahun lalu. Selain dari Singapura juga banyak investor dari China yang akan membeli properti di Indonesia,” tambahnya.
Dia mengaku siap menyambut kebijakan pemerintah yang mengijinkan orang asing membeli properti di Indonesia. Sebab, Propnex memiliki jaringan global lewat Propnex Singapura dan JLL ( Jones Lang Lasalle). Data base pembeli asing di Singapura cukup besar dan itu yang akan dibawa ke Indonesia.
Untuk itu, selain menyiapkan sistem pemasaran digital baik lewat platform sendiri maupun kerjasama dengan platform Lamudi dan OLX, pihaknya juga terus meng upgrade tenaga pemasar atau agent untuk meningkatkan skillnya baik pemasaran maupun service-nya terhadap pembeli asing.
“Nanti AJB-nya dari Notaris juga menggunakan multi language, Indonesia-Inggris atau Indonesia-China. Sekarang trendnya yang paling banyak dicari tipe besar yang harganya Rp 2 miliar lebih,” katanya.
Sementara itu, Ismail Gafoor, Founder dan CEO Propex Singapura menambahkan, pihaknya sangat mengapresiasi kinerja Propnex Indonesia yang tahun lalu mengalami pertumbuhan luar biasa. Hal itu tidak mudah. Sebab kondisi ekonomi global lagi mengalami situasi yang tidak menentu.
Dia yakin, tahun ini Propnex akan mencapai kinerja yang lebih bagus lagi. Apalagi sekarang peluang market yang bisa digarap semakin luas dengan diperbolehkannya orang asing membeli properti di Indonesia.
“Propnex Indonesia sangat impressive. Bisa tetap grow disaat situasi global tidak menentu. Tahun ini tobe stronger. Harga properti sangat mahal sehingga akan banyak yang beli properti di Indonesia. Ini good opportunity,” ujar Ismail Gafoor. (fix/jay) Editor : Administrator