Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat, kinerja ekspor non migas Jatim pada Januari 2022 mencapai USD 1,78 miliar atau naik 28,80 persen jika dibandingkan dengan Januari 2021 yang hanya mampu mencapai USD 1,38 miliar.
“Kalau dilihat dari tahun ke tahun, ekspor non migas kita meningkat, meskipun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya atau Desember 2021 yang mencapai USD 1,98 miliar, memang ekspor non migas Jatim turun -10,26 persen,” jelas Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan dalam virtual paparan BRS, Selasa (15/2).
Dadang menambahkan, nilai ekspor Jatim Januari 2022 mencapai USD 1,82 miliar atau mengalami penurunan sebesar 11,17 persen dibandingkan Desember 2021. Nilai tersebut dibandingkan Januari 2021 meningkat sebesar 18,66 persen.
Nilai impor Jatim Januari 2022 mencapai USD 2,26 miliar atau mengalami penurunan sebesar 17,99 persen dibandingkan Desember 2021. “Nilai tersebut dibandingkan Januari 2021 meningkat sebesar 29,02 persen,” katanya.
Dadang mengatakan, dalam kinerja ekspor non migas Jatim tersebut, sejumlah sektor usaha juga mengalami peningkatan di antaranya sektor pertanian pada Januari 2022 mencatatkan nilai ekspor USD 146,34 juta atau naik 39,39 persen (yoy), begitu juga dengan industri pengolahan USD 1,62 miliar atau naik 27,45 persen, dan sektor pertambangan dan lainnya USD 8,62 juta naik 333,10 persen.
“Namun jika dibandingkan secara bulan ke bulan (mtm), secara umum semua sektor usaha mengalami penurunan ekspor, kecuali pertambangan yang berhasil naik 28,11 persen,” katanya.
Untuk komoditas ekspor nonmigas yang menyumbang 97,83 persen dari total ekspor Jatim yang mengalami peningkatan permintaan pasar pada Januari 2022 di antaranya adalah perhiasan/permata, daging dan ikan olahan, gula dan kembang gula, mesin-mesin pesawat mekanik, serta mesin peralatan listrik. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan permintaan adalah kertas/karton, tembaga, kayu dan barang dari kayu, berbagai produk kimia, lemak dan minyak nabati hewan.
Dadang menambahkan, untuk negara tujuan ekspor Jatim yang mengalami permintaan pasar pada Januari lalu di antaranya adalah Malaysia, Australia, Fed Russia, Mesir, dan Bangladesh. “Untuk negara tujuan ekspor kita yang permintaannya turun adalah Taiwan, Thailand, Jepang, Singapura dan China,” jelas Dadang.
Secara total pangsa ekspor Jatim pada Januari 2022 dikontribusi oleh Amerika Serikat (AS) sebesar 20,32 persen, Jepang 15,83 persen, China 9,79 persen, Malaysia 8,10 persen, India 3,93 persen, Vietnam 3,74 persen, Korea Selatan 3,69 persen, Thailand 2,94 persen, Australia 2,73 persen, dan Belanda 2,31 persen.
Neraca perdagangan Jatim selama bulan Januari 2022 mengalami defisit sebesar USD 441,64 juta. Defisit ini disebabkan karena selisih nilai perdagangan pada sektor migas sebesar USD 477,00 juta. “Sedangkan di sektor nonmigas mengalami surplus nilai perdagangan sebesar USD 35,35 juta,” pungkasnya. (mus/nur) Editor : Administrator