Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Musim Pandemi, Perajin Mebel Banjir Pesanan Peti Jenazah

Administrator • Sabtu, 23 Januari 2021 | 01:34 WIB
Musim Pandemi, Perajin Mebel Banjir Pesanan Peti Jenazah
Musim Pandemi, Perajin Mebel Banjir Pesanan Peti Jenazah

SURABAYA - Perajin mebel di Kota Surabaya banjir pesanan. Bukan pesanan kursi, lemari, atau meja, akan tetapi peti jenazah yang digunakan untuk pemakaman pasien Covid-19. 


Salah satu pengusaha mebel, Sutrisno mengatakan, sejak pertengahan tahun 2020 lalu dirinya banting stir melayani pembuatan peti jenazah. Hingga saat ini pun dirinya masih menerima banyak pesanan peti jenazah. 


Di toko mebel sederhana di Jalan Raya Menur itu tampak delapan orang pekerjanya sedang sibuk memotong dan menghaluskan papan kayu. Nantinya, potongan kayu itu akan digunakan sebagai peti jenazah. Sedangkan sebagian pekerjanya sibuk melakukan proses finishing dengan mengoleskan cat dan plitur ke permukaan kayu peti jenazah yang telah jadi. 


Sesekali Sutrisno turut melakukan pengecekan pada finishing kayu tersebut. “Kalau di sini bikinnya harus sesuai kontruksi. Kekuatan petinya kami pertimbangkan dan ini memakunya harus dengan tenaga manusia. Nggak pakai paku tembak, nanti kurang kuat,” kata laki-laki 45 tahun tersebut menunjukkan salah satu peti yang telah selesai dikerjakan. 


Dalam sehari, Sutrisno dan pekerjanya mampu menyelesaikan belasan peti jenazah. Sedangkan dalam seminggu bisa rampung 20 hingga 30 peti jenazah siap jual. “Kadang per hari 15 peti jenazah. Seminggu kami bikin kadang sampe 20 – 30 peti, karena buat jaga-jaga hari Sabtu ada yang beli,” kata Sutrisno. 


Sutrisno mengungkapkan, pembuatan peti sebenarnya bisa sampai 40 per minggu. Jika dalam pembuatan peti menggunakan paku tembak. Akan tetapi, menggunakan paku tembak dirasanya kurang bagus karena akan membuat kontruksi peti jenazah buatannya ringkih. “Pengaruh ke kekuatannya. Ini saja masih saya tambah lem khusus biar kekuatannya tahan lama,” jelas Sutrisno.


Sutrisno juga membeberkan soal harga. Per peti biasanya dibeli dengan harga Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu, tergantung ukuran. Peti yang Dia produksi tidak ada ornamen atau ukiran sama sekali. Hanya persegi panjang dengan balutan cat warna cokelat kayu. “Kalau ada ukiran ya nggak nututi. Karena pesanan juga banyak,” ungkapnya.


Sehari dia bisa menjual 12 peti. Rata-rata pelanggannya perorangan yang disuruh mencarikan tempat penjual, kemudian Sutrisno selaku pihak ke tiga hanya sekadar memproduksi saja. “Dia (pembeli) nggak pernah nunjukin buat apa, atau nama siapa yang meninggal. Biasanya datang terus pesan jumlahnya sekian, kami buatkan,” imbuhnya. 


Salah satu RS di Surabaya juga sering memesan jasanya. Yakni RSUD Dr Soetomo Surabaya yang sering memboyong hingga 12 peti jenazah per harinya. “Saya kirim nggak pakai surat jalan, rata-rata nggak sebutkan dari mana. Sekarang yang banyak pesanan dari RS Karang Menjangan (RSUD Dr soetomo). Sehari kadang pesan 12 kotak. Tapi yang paling banyak (pesan) perorangan,” pungkasnya. (gin/nur)


Editor : Administrator