Kalau Anda sedang berada di Solo, sempatkan singgah di Terminal Tirtonadi. Terminal yang beralamat di Jalan Ahmad Yani, Gilingan, Banjarsari itu punya keistimewaan yang jarang dimiliki terminal bus pada umumnya. Termasuk Terminal Purabaya, Bungurasih, terminal bus kebanggaan masyarakat Jawa Timur.
Apa sih keistimewaan itu? “Kamar mandinya gratis, tis. Kalau mau menggunakan kamar mandi, kita benar-benar tidak bayar. Sepeser pun tidak akan kehilangan rupiah,” kata Rahmat Wahyudi, penumpuang asal Wonogiri yang belum lama ini ditemui Radar Surabaya di Terminal Tirtonadi.
Wahyudi akan melakukan perjalanan ke Pemalang, Jawa Tengah. Dari Wonogiri ia singgah dulu di Terminal Tirtonadi untuk ganti bis menuju Pemalang. Tapi, belum sampai naik ke bus berikutnya, ia kebelet pipis. Jadilah pria 40-an tahun itu mencari-cari toilet. Akhirnya dia pun menemukan sebuah toilet di dekat masjid, di dalam kompleks terminal.
Betapa kagetnya Wahyudi, karena toilet tersebut tidak memungut biaya sama sekali. Supaya calon pengguna toilet tidak ragu, sebuah pengumuman berukuran 2x4 meter diletakkan di depan toilet tersebut. Tulisannya cukup jelas, “Toilet Gratis.”
Yang mengherankan, meskipun ada embel-embel gratis, tidak lantas kondisi toilet jorok dan bau pesing. Justru sebaliknya. Toilet benar-benar dikelola secara profesional. Hal itu bisa dilihat dari adanya seorang petugas yang siap 24 jam (ada shif-nya) yang berdiri di depan toilet.
Saat itu, Radar Surabaya kebetulan bertemu dengan petugas laki-laki. Sambil memegang sapu yang bentuknya mirip pel-pelan, dia membersihkan masing-masing ruangan toilet. Hal itu dilakukannya tidak hanya ketika ada pengguna yang masuk. Tapi, meskipun tidak ada pengguna toilet, setiap lima hingga sepuluh menit sekali ia keluar masuk kamar toilet untuk mengecek kebersihannya. “Sudah tugasnya begitu, Bu. Digunakan maupun tidak, ya sudah tugas kita untuk selalu membersihkannya,” kata si petugas itu.
Ada lima ruang toilet di salah satu sudut Terminal Tirtonadi itu. Tiga ruang untuk perempuan, dan dua ruang lainnya untuk laki-laki. Di depan toilet ada keset lebar yang fungsinya menahan air agar tidak masuk ke ruangan. Lantai keramik warna abu-abu, tampak bersih mengkilap. Bau harum terus keluar dari toilet tersebut, meskipun orang keluar masuk untuk pipis maupun beol. “Kalau mau menggunakan, silahkan, Bu. Di sini benar-benar gratis, kok. Mau pipis, buang hajat ataupun mandi, silahkan saja. Yang penting ikut jaga kebersihan ya. Tolong buang sampah di tempatnya,” petugas mengingatkan setiap pengguna yang mau masuk toilet.
Toilet tersebut tidak hanya digunakan penumpang. Tapi, semua pekerja yang mengais rezeki setiap hari di Terminal Tirtonadi, juga boleh menggunakannya. Juga tanpa dipungut biaya. Toilet tersebut juga buka 24 jam, sehingga penumpang yang datang di jam berapapun, tak akan kebingungan kalau mau buang hajat atau mandi. “Kalau pagi sampai siang, yang makai sampai antre-antre. Kalau malam, relatif sepi, sih,” kata petugas lainnya.
Air yang digunakan juga bening. Ember tempat menampung air, terlihat bersih. Tidak ada lumut atau kotoran lain, lazimnya kita temui di bak-bak mandi tpilet umum di terminal.
Total ada lima titik toilet di Terminal Tirtonadi. Di sisi tengah ada satu, dua di sisi barat, dan dua lainnya di sisi timur. Dengan penyebaran ini, diharapkan setiap orang yang singgah di terminal tak bingung untuk mencari toilet.
Lantas, bisakah toilet-toilet di Terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo juga dibuat gratis seperti di Terminal Tirtonadi? Ternyata manajemen terminal yang terletak di perbatasan Surabaya-Sidoarjo itu mempunyai jawaban sendiri.
Kepala Sub (Kasub) Keamanan dan Penertiban UPT Terminal Purabaya, Harjo mengatakan jika hal itu belum bisa diterapkan. Sebab, retribusi yang didapat UPT dari penggunaan toilet digunakan untuk membayar penjaga dan pekerja yang bertugas membersihkan toilet tersebut. (mus/opi)
Editor : Administrator