Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tak Banyak yang Tahu, Kepiting dan Bandeng Punya Makna Filosofi dalam Tradisi Imlek

Muhammad Firman Syah • Selasa, 17 Februari 2026 | 13:31 WIB

Ilustrasi: Hidangan kepiting dan Bandeng.
Ilustrasi: Hidangan kepiting dan Bandeng.

RADAR SURABAYA – Menjelang perayaan Imlek, permintaan hidangan laut seperti kepiting dan bandeng biasanya meningkat tajam. Banyak warga Tionghoa berburu kepiting segar dan bandeng berukuran besar untuk disajikan saat makan malam Tahun Baru bersama keluarga.

Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Dalam budaya Tionghoa, setiap hidangan yang tersaji saat malam pergantian tahun mengandung makna simbolis, mulai dari doa keberuntungan hingga harapan akan keharmonisan keluarga.

Baca Juga: Rayakan Tahun Baru Imlek, Ratusan Umat Tri Dharma Sembahyang dan Doakan Kemajuan Bangsa di Kelenteng Cokro Surabaya

Dr. Olivia, dosen Bahasa Mandarin di Universitas Kristen Petra Surabaya, menjelaskan bahwa kepiting memiliki filosofi yang berkaitan dengan nilai kekeluargaan. Dalam bahasa Mandarin, kepiting disebut 螃蟹 (pángxiè). Pelafalan “蟹” (xiè) dianggap mirip dengan kata 和谐 (héxié) yang berarti harmonis.

Kesamaan bunyi tersebut membuat kepiting dimaknai sebagai simbol keharmonisan dalam kehidupan, terutama di lingkup keluarga. Selain itu, bentuk kepiting dengan kaki dan capit yang menyebar ke berbagai arah juga ditafsirkan sebagai lambang rezeki yang datang dari berbagai penjuru.

Baca Juga: Imlek 2026 Datang! Nasib Cinta, Karier, dan Rezeki 12 Shio di Tahun Kuda Api

Sebagian masyarakat juga mengaitkan bunyi “蟹” (xiè) dengan kata “谢” (xiè) yang berarti terima kasih. Karena itu, menyajikan kepiting saat Imlek dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada orang tua, keluarga, sahabat, serta diri sendiri atas perjuangan selama setahun terakhir.

Di sisi lain, ikan hampir selalu hadir dalam santap malam Imlek. Dalam bahasa Mandarin, ikan disebut “鱼” (), yang pelafalannya sama dengan “余” () berarti lebih atau sisa. Makna “lebih” tersebut ditafsirkan sebagai doa agar rezeki berlimpah dan kehidupan terus bertumbuh di tahun mendatang.

Baca Juga: Merah Jadi Simbol Imlek, Sarat Makna Keberuntungan dan Penolak Bala

Di Indonesia, bandeng menjadi salah satu ikan yang kerap dipilih. Selain mudah ditemukan, bandeng juga populer di berbagai daerah. Bandeng berukuran besar dengan duri yang banyak dimaknai sebagai simbol kemakmuran yang terus bertambah dan tidak terputus.

Melalui sajian kepiting dan bandeng, masyarakat Tionghoa tidak hanya merayakan pergantian tahun. Mereka juga meneguhkan doa, rasa syukur, serta harapan akan kehidupan yang harmonis dan berkecukupan sepanjang tahun baru. (shf/fir)

Editor : M Firman Syah
#Tradisi Tionghoa #imlek #kepiting #ikan bandeng #budaya