RADAR SURABAYA - Ragam kuliner khas China Peranakan kembali dihadirkan melalui sajian laksa khas Malaysia yang dikenal kaya rempah dan berkarakter kuat.
Kreasi menu bertajuk Nyonya Laksa ini menjadi salah satu hidangan yang memperkenalkan kekayaan cita rasa kuliner rumpun Melayu kepada penikmat kuliner di Surabaya.
Executive Chef Hotel Ciputra World Surabaya, Dale Daryl Laoh, menjelaskan, laksa yang disajikan memiliki perbedaan cukup menonjol dibandingkan laksa lainnya.
Perbedaan tersebut terletak pada pemilihan bahan serta racikan bumbu yang mengadopsi cita rasa autentik Malaysia.
“Laksa ini kuat di terasinya dan juga kuat di rempah-rempahnya. Itu yang membedakan dengan laksa-laksa lain,” ujar Dale, Selasa (10/2).
Laksa ini diberi nama Nyonya Laksa karena berasal dari tradisi kuliner Malaysia. Istilah “nyonya” sendiri merupakan sebutan yang lekat dengan budaya Peranakan, yang memadukan pengaruh budaya Tionghoa dan Melayu dalam satu sajian.
Dalam proses pembuatannya, Nyonya Laksa menggunakan terasi lokal yang dipilih dalam kondisi segar.
Menurut Dale, penggunaan terasi segar membuat rasa laksa menjadi lebih kuat dan alami.
“Kaldunya juga berasal dari udang, sehingga rasa gurihnya lebih terasa,” katanya.
Isian Nyonya Laksa terdiri atas tahu, udang, serta bawang putih dan bawang merah yang diracik bersama bumbu halus. Terasi yang digunakan berasal dari rebon lokal yang diulek langsung, sehingga aroma dan rasa khasnya semakin menonjol.
“Memang rasanya lebih strong karena kami mengadopsi langsung dari Malaysia,” tambah Dale.
Laksa sendiri merupakan kuliner khas China Peranakan yang berkembang luas di wilayah rumpun Melayu.
Di Indonesia, hidangan ini dikenal mulai dari Sumatera hingga kawasan Semenanjung Malaysia.
Kesamaan latar budaya membuat cita rasa laksa di berbagai daerah memiliki kemiripan, meski tetap menyimpan ciri khas masing-masing. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa