RADAR SURABAYA - Di sebuah gang sempit kawasan Pabean Ganefo, Surabaya, terselip warung sop buntut legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 1957.
Warung ini tak memiliki papan nama mencolok, tapi berhasil memancing pelanggan datang dari berbagai penjuru kota.
Warung yang kini dikenal dengan nama Sop Buntut Pabean Ganefo ini dikelola oleh Amy Amabel, generasi penerus keluarga yang mempertahankan cita rasa khas turun-temurun.
Tempatnya unik, bukan di ruko atau restoran besar. Melainkan di dalam gang yang merupakan aset keluarga. Meski sederhana, warung ini tak pernah sepi pembeli.
Amy mengaku awalnya tak pernah membayangkan akan meneruskan usaha kuliner warisan orang tuanya itu.
“Awalnya saya ditawari orang tua untuk buka di mal supaya tidak kerja ikut orang. Tapi setelah dicoba, ternyata tidak semudah yang dilihat,” ujar Amy, Rabu (12/11).
Ia pun sempat membuka cabang di pusat perbelanjaan, namun akhirnya memilih fokus pada warung utama di kawasan Pabean Ganefo.
“Tahun 2021 saya tutup yang di mal dan fokus di sini. Saya ingin menjaga tempat ini agar tetap seperti dulu, karena ada nilai sejarahnya,” ungkapnya.
Menurut Amy, sang ibu sempat melatihnya selama satu bulan penuh sebelum benar-benar dilepas mengelola warung.
“Mama kasih target, dalam waktu sebulan saya harus bisa. Kalau tidak, ya dilepas. Saya ingin membuktikan kalau saya bisa, dan syukurlah penjualan malah naik setelah saya pegang,” katanya.
Keistimewaan Sop Buntut Ganefo terletak pada kuahnya yang bening tanpa tambahan sayur seperti kentang atau wortel.
“Menurut pelanggan, sayur bisa mengubah cita rasa asli. Tapi kalau ada yang minta, tetap saya sediakan,” jelas Amy.
Dalam sehari, Amy bisa menghabiskan hingga empat panci besar atau sekitar 40 kilogram buntut sapi lokal.
Ia menolak menggunakan bahan impor karena kualitasnya dinilai kurang baik. Semua proses pengolahan dilakukan sendiri agar rasa tetap konsisten.
Selain sop buntut klasik, warung ini juga menyediakan varian menu lain seperti kikil sumsum, nasi campur, sop buntut goreng, dan penyetan buntut.
Meski beberapa pelanggan menilai tempatnya kurang bersih, Amy justru menganggap suasana warung yang “apa adanya” itu sebagai ciri khas yang tak boleh hilang.
“Inilah keunggulan kami. Banyak pelanggan datang bukan hanya karena rasa, tapi juga untuk bernostalgia. Saya hanya memperbaiki bagian yang rusak, tidak mengubah konsepnya,” ujarnya.
Nama “Ganefo” sendiri diambil dari ajang olahraga internasional Games of the New Emerging Forces yang diselenggarakan di Indonesia.
Sejak berdiri, warung ini tidak pernah berpindah lokasi. Untuk menjaga eksistensi di tengah kawasan yang kini mulai sepi, Amy memanfaatkan media sosial dan layanan pesan online.
Ia juga melayani pengiriman sop buntut frozen ke berbagai kota, mulai dari Jakarta, Semarang, Bali, hingga Banjarmasin.
“Saya ingin warung ini tetap dikenal, meskipun zaman sudah berubah. Saya juga masih layani pemesanan lewat WhatsApp, nanti dikirim pakai kurir,” pungkasnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa