SURABAYA - Kebun Raya Mangrove Surabaya kini jadi satu tujuan wisata utama di Kota Pahlawan sejak resmi memperkenalkan wajah barunya yang mengusung keindahan ekosistem mangrove.
Pembaruan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung, menekankan keberlanjutan lingkungan, dan menjadikan kebun raya ini sebagai pusat edukasi lingkungan yang unik di tengah kota Surabaya.
Salah satu perubahan yang mencolok adalah penataan ulang desain landskap dengan menciptakan suasana yang lebih alami dan menarik bagi pengunjung.
Mulai dari jalur setapak yang diperbarui yang memandu para pengunjung melewati keindahan alam mangrove dengan lebih nyaman.
Fasilitas area bersantai juga diperbarui untuk memberikan tempat yang ideal bersantai sambil menikmati keindahan alam.
Rumhul Fattah, salah satu pengunjung dari Tuban mengaku dirinya berkunjung ke kebun raya ini untuk pertama kalinya karena tertarik setelah melihat foto-foto dari media sosial.
Rasa penasaran itu yang membuatnya ingin mencari kesamaan antara Kebun Raya Mangrove Surabaya dengan kebun mangrove serupa yang ada di Tuban.
“Saya pikir Surabaya itu kota besar yang dipenuhi gedung dan fasilitas yang tinggi, ternyata ada kebun raya mangrove sebesar ini,” ungkapnya kagum.
“Di sisi lain, saya juga ingin membandingkan kebun mangrove ini dengan milik Tuban, apakah sama? Ternyata saya merasakan suasana seperti di Tuban, setelah berkeliling di kebun ini,” ucap mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) ini.
Apalagi dengan fasilitas terbarunya seperti kantin, perpustakaan dan penyewaan kendaraan untuk mengelilingi Kebun Raya Mangrove, ia mengakui membuat pengunjung semakin nyaman dan betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu berwisata di sini.
“Saya sudah berkeliling melihat-lihat di sini, ada kantin untuk bersantap bagi pengunjung, juga ada perpustakaan untuk membaca buku dengan santai ditemani suasana pepohonan yang rindang. Mungkin yang kurang di sini saya tidak menemukan kera, biasanya rata-rata kebun mangrove itu ada keranya,” kata Rohman Anawi, teman Rumhul Fattah.
Seiring dengan peningkatan fisik, aspek edukatif juga mendapat perhatian serius pengelola Kebun Raya Mangrove Surabaya.
Peningkatan tanda dan informasi edukatif di seluruh area kebun raya mangrove seluas 27 hektare ini memberikan panduan yang lebih baik kepada pengunjung tentang keanekaragaman hayati mangrove dan peran pentingnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
"Kebun ini salah satu yang menurut saya dikelola sangat baik dan konsisten. Selain itu, juga menciptakan pengalaman yang lebih mendalam bagi pengunjung, mengajak mereka untuk terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan dan menghargai keindahan alam," kata Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko saat berkunjung ke kebun raya mangrove terluas se-Asia Tenggara ini, pertengahan tahun lalu.
Kegiatan edukasi yang melibatkan pengunjung, termasuk tur panduan dan lokakarya alam, menjadi sarana efektif untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya pelestarian mangrove.
Salah satunya deskripsi tentang letak dan jenis tanaman yang ada di Kebun Raya Mangrove Surabaya.
“Kalian sudah tahu tentang jenis tanaman yang berada di kebun ini? Jadi, ada tanaman impor yang dari Jepang itu yang ketika ada tsunami bisa langsung redup, tanaman itu ditaruh di bagian paling ujung,” jelas Alfian, petugas di Kebun Raya Mangrove Surabaya.
“Ada juga tanaman impor dari Brazil. Itu ditaruh di bagian tengah kebun ini. Sedangkan tanaman (mangrove) lokal sendiri letaknya yang di dalam-dalam itu. Tanaman itu bisa dilihat perbedaannya dari bunga dan akarnya.” sambungnya.
Perubahan signifikan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif, tidak hanya bagi kebun raya itu sendiri, tetapi juga untuk kota Surabaya secara keseluruhan.
Dengan wajah baru yang dipadu dengan nilai-nilai keberlanjutan dan edukasi, Kebun Raya Mangrove Surabaya semakin kokoh sebagai destinasi wisata yang memberikan pengalaman berharga dan mempromosikan kepentingan pelestarian alam.
Dan untuk kali pertama, Kebun Raya Mangrove Surabaya kini menerapkan tarif tiket bagi pengunjung. Hal ini sesuai dengan Perda Kota Surabaya No 7 Tahun 2023 yang mengatur tentang penyesuaian tarif tempat wisata di Surabaya.
Meski demikian, jumlah pengunjung di Kebun Raya Mangrove Surabaya tercatat masih stabil. Terlebih pada weekend untuk Sabtu dan Minggu.
“Hari biasa saya menerima sekitar 25 kendaraan bermotor, paling sedikit itu 10-15 motor. Untuk kendaraan roda empat ada 5-10 yang parkir. Ini terhitung ramai. Karena juga baru buka 1 Januari kemarin. Kalau hari libur Sabtu atau Minggu, saya pernah menerima 55 motor dan sekitar 30-an kendaraan roda empat,” kata Candra Setiawan, petugas parkir dari Dinas Perhubungan Surabaya.
Tapi sebenarnya, kalau dihitung semua jumlah pengnjung ke kawasan wisata ini banyak. Karena banyak juga pengunjung yang naik mobil Wira-Wiri Surabaya dengan tarif terjangkau cuma Rp5000. (mg1/gus/jay)
Editor : Jay Wijayanto