26 C
Surabaya
Tuesday, January 31, 2023

KUE KERANJANG: Jajanan Wajib Saat Perayaan Imlek

SURABAYA – Perayaan tahun baru Imlek indentik dengan kue keranjang. Jajanan ini kerap muncul sebagai simbol keberuntungan. Untuk itu penjualannya meroket sejak akhir Desember lalu.

Pengusaha kue keranjang di kawasan Kalidami, Feri Andrea Cendy menuturkan, pihaknya kebanjiran pesanan kue keranjang sejak akhir Desember lalu setelah Natal. Dia mengaku, persiapannya cukup mepet. Karena dia hanya memiliki tiga pekan saja untuk produksi. “Kita ready stock tapi ya tiap hari selalu kehabisan,” ujarnya, Kamis (19/1).

Tiap hari di tempat usahanya mampu menghasilkan 300 kotak dengan beragam jumlah isian. Di antaranya, berisi dua, empat, hingga sembilan potong kue keranjang. “Totalnya sampai ribuan potong kue setiap hari,” paparnya.

Baca Juga :  Brooklyn Blackout: Hadirkan Egg Waffle Bernuansa Emas

Feri kewalahan menerima pesanan itu. Sehingga, dia rela untuk begadang untuk memproduksi kue keranjang. Tiga orang karyawan dan ibunya membantu selama produksi. “Mama juga hari ini (kemarin, Red) juga belum tidur sama sekali. Ini saya sampai muncul kantung mata,” ucapnya.

SIMBOL KEBERUNTUNGAN: Pekerja melakukan proses pengepakan kue keranjang di salah satu UMKM kawasan Kalidami, Kamis (19/1). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Dia bakal menghentikan produksinya setelah perayaan Cap Go Meh. Artinya 15 hari setelah Imlek yang jatuh pada Minggu (22/1). Karena, Fery memiliki pelanggan tetap dan loyal.

“Produksi kue keranjang ini hanya saat menjelang Imlek. Selain itu kita tidak produksi. Karena siapa yang mau beli? Kan ini kue wajib saat imlek saja,” terangnya.

Hal itu terbukti, karena, dia telah memproduksi sekitar 6.000 ribu kotak hingga saat ini. Pesanannya dari berbagai wilayah. Tidak hanya dalam kota, tapi juga luar kota. “Ada Gresik, Sidoarjo, Kalimantan, dan Papua,” sebutnya.

Baca Juga :  Selama Pandemi, Tren Berwisata Mengalami Perubahan

Sementara untuk Surabaya, dia memasarkan produknya di Pasar Atom. Selain itu, Feri memasukkan ke beberapa swalayan dan beberapa pusat oleh-oleh. Dia pun melayani pemesanan perorangan. “Ada yang datang langsung, lalu titip saudaranya untuk dikirim ke Kalimantan, dan ada yang pesan banyak lalu dibagikan di gereja atau tetangga,” urainya.

Usahanya itu berdiri sejak 1994 silam. Awalnya usaha kecil, saat ini sudah mulai berkembang. Dalam produksinya, membutuhkan sekitar 80 kilogram bahan baku setiap hari. (hil/nur)

SURABAYA – Perayaan tahun baru Imlek indentik dengan kue keranjang. Jajanan ini kerap muncul sebagai simbol keberuntungan. Untuk itu penjualannya meroket sejak akhir Desember lalu.

Pengusaha kue keranjang di kawasan Kalidami, Feri Andrea Cendy menuturkan, pihaknya kebanjiran pesanan kue keranjang sejak akhir Desember lalu setelah Natal. Dia mengaku, persiapannya cukup mepet. Karena dia hanya memiliki tiga pekan saja untuk produksi. “Kita ready stock tapi ya tiap hari selalu kehabisan,” ujarnya, Kamis (19/1).

Tiap hari di tempat usahanya mampu menghasilkan 300 kotak dengan beragam jumlah isian. Di antaranya, berisi dua, empat, hingga sembilan potong kue keranjang. “Totalnya sampai ribuan potong kue setiap hari,” paparnya.

Baca Juga :  Selama Pandemi, Tren Berwisata Mengalami Perubahan

Feri kewalahan menerima pesanan itu. Sehingga, dia rela untuk begadang untuk memproduksi kue keranjang. Tiga orang karyawan dan ibunya membantu selama produksi. “Mama juga hari ini (kemarin, Red) juga belum tidur sama sekali. Ini saya sampai muncul kantung mata,” ucapnya.

SIMBOL KEBERUNTUNGAN: Pekerja melakukan proses pengepakan kue keranjang di salah satu UMKM kawasan Kalidami, Kamis (19/1). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Dia bakal menghentikan produksinya setelah perayaan Cap Go Meh. Artinya 15 hari setelah Imlek yang jatuh pada Minggu (22/1). Karena, Fery memiliki pelanggan tetap dan loyal.

“Produksi kue keranjang ini hanya saat menjelang Imlek. Selain itu kita tidak produksi. Karena siapa yang mau beli? Kan ini kue wajib saat imlek saja,” terangnya.

Hal itu terbukti, karena, dia telah memproduksi sekitar 6.000 ribu kotak hingga saat ini. Pesanannya dari berbagai wilayah. Tidak hanya dalam kota, tapi juga luar kota. “Ada Gresik, Sidoarjo, Kalimantan, dan Papua,” sebutnya.

Baca Juga :  Lampion dan Amplop Angpau Paling Diburu untuk Rayakan Imlek

Sementara untuk Surabaya, dia memasarkan produknya di Pasar Atom. Selain itu, Feri memasukkan ke beberapa swalayan dan beberapa pusat oleh-oleh. Dia pun melayani pemesanan perorangan. “Ada yang datang langsung, lalu titip saudaranya untuk dikirim ke Kalimantan, dan ada yang pesan banyak lalu dibagikan di gereja atau tetangga,” urainya.

Usahanya itu berdiri sejak 1994 silam. Awalnya usaha kecil, saat ini sudah mulai berkembang. Dalam produksinya, membutuhkan sekitar 80 kilogram bahan baku setiap hari. (hil/nur)

Most Read

Berita Terbaru