RADAR SURABAYA — Memasuki malam kesembilan Ramadan, konsistensi ibadah mulai diuji. Setelah lebih dari sepekan menjalani puasa, sebagian umat Muslim mulai merasakan dinamika ritme ibadah. Meski demikian, salat tarawih tetap menjadi amalan malam yang dijaga pelaksanaannya.
Dalam kitab Durratun Nasihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi, disebutkan adanya keutamaan (fadhilah) khusus pada tarawih malam ke-9. Ibadah tersebut diibaratkan memiliki nilai seperti ibadah para nabi.
Baca Juga: Tarawih Malam ke-8, Diibaratkan Mendapat Anugerah Seperti Nabi Ibrahim AS
وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةِ فَكَأَنَّمَا عَبَدَ اللهَ تَعَالَى عِبَادَةَ النَّبِىِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
Artinya: “Pada malam kesembilan, seakan-akan beribadah kepada Allah sebagaimana ibadahnya para nabi.”
Perumpamaan tersebut menggambarkan tingginya nilai spiritual yang dikaitkan dengan pelaksanaan tarawih pada malam ke-9 Ramadan. Dalam ajaran Islam, nabi merupakan sosok pilihan yang menerima wahyu serta menjalankan ketaatan secara total kepada Allah SWT.
Baca Juga: Keutamaan Tarawih Malam ke-7, Diibaratkan Seperti Mendampingi Nabi Musa AS
Ibadah para nabi dipahami sebagai bentuk penghambaan yang paling sempurna penuh kesungguhan, keikhlasan, dan jauh dari kepentingan duniawi. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menjaga semangat dan kualitas ibadah, termasuk salat tarawih, agar tetap konsisten hingga akhir Ramadan.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa setiap malam Ramadan memiliki keutamaan tersendiri. Konsistensi dan keikhlasan menjadi kunci utama dalam meraih nilai ibadah yang optimal. (fid/fir)
Editor : M Firman Syah