RADAR SURABAYA - Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tokoh Empat Serangkai yang terdiri dari Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansur, sering disebut sebagai tokoh sentral pejuang tanpa senjata yang mengawal kemerdekaan Indonesia.
Nah, Mas Mansur ternyata menjadi salah satu pejuang Surabaya yang berjuang lewat organisasi dan karya tulisannya.
Jurnalis senior Surabaya, Agus Wahyudi mengatakan, Mas Mansur bukan hanya sebagai ulama besar dan tokoh pergerakan, tapi dia juga seorang jurnalis.
“Salah seorang pemimpin Muhammadiyah yang telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia,” katanya.
Sejak muda, Mas Mansur memang menyukai dunia tulis menulis. Banyak artikel berbobot yang lahir dari pemikirannya.
“Terutama tentang masalah gagasan pembaruan dan cita-citanya untuk kemerdekaan Indonesia,” lanjutnya.
Mas Mansur kali pertama menerbitkan Majalah Le Jinem di Surabaya, 1920.
Setahun kemudian, dia menerbitkan Suara Santri. Disusul Journal Erude dan Proprieteir. Semua majalah ini membawa suara kaum santri.
“Karena kata santri saat itu memang mendapat tempat di hati masyarakat,” kata Yudi, sapaan akrab Agus Wahyudi.
Nama-nama media yang diterbitkan Mas Mansur, kecuali Suara Santri, memang berasa asing.
Mas Mansur seolah sengaja mencomot istilah bahasa Prancis. Padahal kenyataan tidak demikian.
“Nama-nama media itu berasal dari bahasa Jawa dengan huruf Arab (pegon),” ungkapnya.
Mas Mansur memang kreatif. Ada yang mengasumsikan pemakaian nama dan logo majalah yang diterbitkan karena Mas Mansur pernah lama di Mesir, di mana Prancis pernah menjajah.
Mas Mansur sangat serius mengurus medianya. Tulisannya serius. Tidak ecek-ecek.
“Artikel-artikel yang ditulis Mas Mansur berkesan mudah dipahami, singkat, dan padat,” tegasnya.
Yudi menambahkan, kalau boleh menyebut, Mas Mansur sangat memegang teguh prinsip jurnalisme profetik.
Yang memegang teguh kejujuran, kepercayaan, selalu cek dan ricek, dan punya kecerdasan dalam menyampaikan gagasan dan pemikiran. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa