RADAR SURABAYA - Kawasan Jalan Panggung pernah menjadi salah satu titik perdagangan paling ‘liar’ di Surabaya pada awal abad ke-20.
Arsip foto tahun 1906 milik Leiden University Library menunjukkan suasana Pasar Gelap di ujung barat Jalan Kembang Jepun.
Sebuah kawasan yang pada masa Hindia Belanda dikenal sebagai tempat beredarnya barang-barang selundupan.
Sejarawan asal Belanda Olivier Johannes Raap mengatakan, istilah Pasar Gelap pada masa itu tidak sekadar kiasan.
“Nama itu muncul karena banyak toko dan lapak yang menjual barang impor tanpa jalur resmi. Semuanya berjalan di luar sirkuit perdagangan yang dianggap ‘jujur’ oleh pemerintah kolonial,” ujarnya.
Menurut Olivier, kawasan ini berkembang karena pos pemeriksaan barang di pelabuhan relatif mudah ditembus.
Banyak pedagang lokal maupun pendatang memanfaatkan celah itu untuk memasok barang murah.
“Di foto tahun 1906 bahkan terlihat spanduk bertuliskan NEW PASSAR GELAP di salah satu bangunan. Itu semacam tanda tidak resmi bahwa pembeli bisa mendapatkan barang dengan harga miring, asalkan tidak banyak bertanya soal asal-usulnya,” katanya.
Barang yang beredar pun beragam . Mulai dari tekstil, minuman, alat rumah tangga, hingga barang mewah yang dibawa masuk lewat kapal-kapal kecil dari Singapura.
Olivier menjelaskan bahwa jalur menuju Jalan Panggung yang terhubung ke Kampung Arab dan Kampung Melayu semakin memudahkan arus keluar masuk komoditas tersebut.
“Pasar Gelap itu bagian dari dinamika kota pelabuhan. Surabaya adalah simpul perdagangan internasional. Jadi wajar bila selalu ada area abu-abu yang hidup berdampingan dengan pasar resmi,” kata Olivier.
Kini, jejak Pasar Gelap sudah hilang. Bangunan-bangunan lama banyak berubah fungsi, dan aktivitas gelap itu sudah lama tidak ada. (rek/opi)
Editor : Nofilawati Anisa