RADAR SURABAYA - Tak banyak yang tahu, kawasan Simpang di Surabaya pernah menjadi simbol kemewahan dan pusat elite kota pada masa kolonial.
Pegiat sejarah kota Surabaya, Nanang Purwono, mengungkapkan, Simpang sudah dikenal sejak era VOC pada paruh kedua abad ke-18.
“Simpang adalah salah satu kawasan elit di Surabaya yang sudah ada sejak era VOC. Tepatnya pada paruh kedua abad 18,” ujar Nanang, Kamis (30/10).
Menurutnya, Huiz van Simpang yang kini dikenal sebagai Gedung Negara Grahadi, menjadi penanda penting perkembangan Surabaya ke arah selatan, mengikuti aliran alami Sungai Kalimas.
Gedung megah itu dibangun pada 1790-an oleh Dirk Van Hovendorp sebagai kediaman resmi penguasa Java’s van den Oosthoek (Wilayah Pantai Utara Jawa) yang kala itu disebut Gezaghebber.
Tak hanya Grahadi, lanjut Nanang, kemegahan kawasan Simpang semakin lengkap dengan berdirinya Gedung Simpangsche Societeit pada tahun 1907, yang kini dikenal sebagai Balai Pemuda Surabaya.
Tempat itu menjadi pusat pergaulan kaum elite Eropa, tempat pesta dansa, konser musik, dan pertemuan sosial masyarakat kelas atas.
“Kehadiran Simpangsche Societeit menambah eksistensi keistimewaan kawasan Simpang sebagai jantung kehidupan sosial kaum elit,” jelas Nanang.
Memasuki awal abad ke-20, wajah Surabaya kian berubah. Kawasan-kawasan elite baru mulai tumbuh seperti Tunjungan, Ketabang, Gubeng, Darmo, Kaliasin, Sawahan, dan Kupang.
Deretan wilayah tersebut membentuk klaster kota yang dikenal sebagai Bovenstad atau kota atas, tempat hunian orang-orang berada.
“Klaster-klaster kawasan elit ini disebut Bovenstad alias kota atas atau kota elit,” kata Nanang.
Nanang juga meluruskan pemahaman umum soal nama Simpang. Ia menegaskan bahwa nama itu bukan berarti persimpangan jalan, seperti halnya Simpang Lima di Semarang.
“Simpang merupakan nama asli sebuah kawasan di Surabaya. Bukan berarti persimpangan seperti halnya Simpang Lima di Semarang,” jelasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa