RADAR SURABAYA – Di balik hiruk-pikuk pentas seni dan riuh sorak tawa anak-anak, Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik.
Siapa sangka, kawasan yang dikenal sebagai pusat hiburan rakyat ini dulunya hanyalah sebuah lapangan terbuka di kawasan Calnalaan, kini Jalan Kusuma Bangsa, yang rutin digunakan untuk olahraga dan kegiatan masyarakat.
Menurut sejarawan Surabaya, Nur Setiawan, sebelum dikenal sebagai THR, lapangan itu menjadi lokasi pasar malam tahunan bernama Jaarmarkt, tradisi khas masa penjajahan Belanda.
“Sebelum THR berdiri, kawasan itu merupakan sebuah lapangan yg terletak di daerah calnalaan dan kerap digunakan untuk berolahraga hingga menggelar pasar malem Jaarmart,” jelasnya.
Seiring waktu dan berkembangnya kebutuhan warga akan ruang seni dan budaya, lapangan tersebut mulai beralih fungsi.
Pemerintah saat itu membangun THR sebagai wadah hiburan sekaligus pelestarian budaya tradisional.
Bukan sekadar tempat rekreasi, THR menjadi titik temu beragam kesenian rakyat mulai dari ludruk, hingga pertunjukan wayang.
“Bukan hanya sebagai tempat hiburan saja, namun di kawasan itu juga untuk melestarikan seni budaya tradisional,” imbuh Nur Setiawan.
Kini, THR bukan hanya saksi perkembangan hiburan kota, tetapi juga simbol perjalanan Surabaya dalam merawat identitasnya sebagai kota seni dan rakyat. Sebuah warisan yang terus hidup di tengah arus zaman. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari