Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kalibutuh, Salah Satu Kampung Lawas di Surabaya

Mus Purmadani • Kamis, 20 Februari 2025 | 22:24 WIB

 

RING KEDUA KERATON: Tampilan satelit kawasan Kalibutuh Surabaya yang padat penduduk.
RING KEDUA KERATON: Tampilan satelit kawasan Kalibutuh Surabaya yang padat penduduk.

RADAR SURABAYA - Kalibutuh adalah salah satu kawasan di Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur. Di jalan ini terdapat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Kalibutuh Surabaya.

Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, Kalibutuh merupakan salah satu kampung tua di Surabaya yang sudah dihuni oleh masyarakat Surabaya sejak dahulu.

Sebelum abad 19 kawasan ini adalah ring kedua sisi selatan keraton Surabaya.

"Di kawasan ini juga terdapat makam sepuh yang dikeramatkan oleh warga. Makam tersebut ialah pesarean Raden Ayu Pandansari, yang tiap tahun selalu diperingati sedekah bumi oleh masyarakat sekitar," ujar Wawan, Minggu (9/2).

"Pada hari-hari tertentu pesarean itu kerap dikunjungi oleh peziarah untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa," imbuhnya.

Wawan mengatakan, tak ada keterangan pasti siapa sosok RA Pandansari di kampung Kalibutuh tersebut.

Namun, menurut cerita tutur warga asli kampung di sana menceritakan bahwa jenazah yang dimakamkan di tempat itu adalah sesosok bayi perempuan.

Ceritanya pada zaman Belanda terdapat jenazah bayi yang hanyut di aliran sungai sekitar situ.

Kebetulan jenazah bayi itu mengapung lalu berhenti di kali yang melintasi kampung kalibutuh.

“Oleh masyarakat sekitar jenazah itu dihanyutkan kembali tapi tak bisa hanyut malah tetap berhenti di tepi kali kampung kalibutuh. Padahal aliran kali tersebut masih panjang ke utara,” kata Wawan.

Sementara itu, karena jenazah tersebut tidak bisa hanyut maka oleh warga dimakamkan di kampung Kalibutuh.

Menurut warga, dahulu masyarakat yang menemukan jenazah bayi perempuan itu melihat wajah sang bayi mempunyai wajah mirip orang Belanda campuran Jawa.

Masyarakat menduga bayi ini berasal dari pasangan orang Belanda dan bumiputera, yang diduga memiliki hubungan namun tak direstui oleh keluarganya hingga menjalin asmara secara diam-diam.

Penamaan RA Pandansari di makam tersebut dimunculkan sekitar tahun 1960-an oleh seorang paranormal atau orang pintar.

Awalnya pesarean itu mempunyai cungkup kecil, dan agak terbuka. Tapi sekarang sudah dipugar dan menjadi bagus.

“Bahkan tiap tahun di makam RA Pandansari dilaksanakan ritual sedekah bumi," jelasnya.

Wawan menambahkan, penamaan Kalibutuh karena terdapat sungai/kali kecil yanng membujur dari utara ke selatan.

Menurutnya, sungai ini masih ada hingga kini, namun di beberapa ruas sudah hilang akibat pesatnya pembangunan.

"Sedangkan butuh bisa multitafsir. Ada yang mengatakan jika butuh merupakan tumbuhan. Pendapat lain menyatakan butuh adalah perlu. Yang diduga pada zaman dahulu penduduk sekitar sangat membutuhkan air untuk keperluan sehari hari mengambil air dari kali tadi," pungkasnya. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Surabayapedia #surabaya #Pesarean #Kalibutuh #Kampung Lawas