alexametrics
34 C
Surabaya
Friday, October 22, 2021

Tugu Pahlawan, Ikon Kota yang Dibangun dari Sumbangan Rakyat

TUGU Pahlawan merupakan monumen bersejarah di kota Surabaya. Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Tinggi monumen ini adalah 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sejarawan Kota Surabaya Prof Purnawan Basundoro mengatakan, Presiden Soekarno ingin agar di Surabaya diberi penanda sejarah. Sehingga, pada tahun 1950 dibangun Tugu Pahlawan. “Dulu ada yang bilang, tugu pensil, ada yang bilang tugu terbalik juga,” ujarnya.

Purnawan menambahkan, ada sejumlah kisah yang masih belum diketahui publik di balik hikayat Tugu Pahlawan. Salah satunya adalah dana yang dipergunakan untuk membangun Tugu Pahlawan.

Ia menambahkan, dana yang digunakan untuk membangun Tugu Pahlawan dari iuran masyarakat. “Jadi siapa pun menyumbang karena pada waktu itu keuangan negara dan kota tidak sebagus sekarang. Sehingga, untuk membangun itu perlu partisipasi dari masyarakat dan masyarakat mau. Saya kira, ada dari APBD. Bagi saya Tugu Pahlawan itu adalah simbol menyatunya arek Suroboyo dengan pemerintah,” terangnya.

Tugu Pahlawan didirikan pada tanggal 10 November 1951 dan diresmikan pada tanggal 10 November 1952 oleh Presiden Soekarno. Dengan tujuan untuk mengenang sejarah perjuangan para pahlawan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Pada tanggal 10 November 1991 mulai dibangun Museum Sepuluh November dengan luas 1.366 meter persegi pada kedalaman 7 meter di bawah permukaan tanah di areal Kompleks Tugu Pahlawan. Tujuannya untuk mendukung keberadaan Tugu Pahlawan serta melengkapi fasilitas sejarahnya dan diresmikan pada tanggal 19 februari 2000 oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid. (mus/nur/jay)


TUGU Pahlawan merupakan monumen bersejarah di kota Surabaya. Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Tinggi monumen ini adalah 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sejarawan Kota Surabaya Prof Purnawan Basundoro mengatakan, Presiden Soekarno ingin agar di Surabaya diberi penanda sejarah. Sehingga, pada tahun 1950 dibangun Tugu Pahlawan. “Dulu ada yang bilang, tugu pensil, ada yang bilang tugu terbalik juga,” ujarnya.

Purnawan menambahkan, ada sejumlah kisah yang masih belum diketahui publik di balik hikayat Tugu Pahlawan. Salah satunya adalah dana yang dipergunakan untuk membangun Tugu Pahlawan.

Ia menambahkan, dana yang digunakan untuk membangun Tugu Pahlawan dari iuran masyarakat. “Jadi siapa pun menyumbang karena pada waktu itu keuangan negara dan kota tidak sebagus sekarang. Sehingga, untuk membangun itu perlu partisipasi dari masyarakat dan masyarakat mau. Saya kira, ada dari APBD. Bagi saya Tugu Pahlawan itu adalah simbol menyatunya arek Suroboyo dengan pemerintah,” terangnya.

Tugu Pahlawan didirikan pada tanggal 10 November 1951 dan diresmikan pada tanggal 10 November 1952 oleh Presiden Soekarno. Dengan tujuan untuk mengenang sejarah perjuangan para pahlawan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Pada tanggal 10 November 1991 mulai dibangun Museum Sepuluh November dengan luas 1.366 meter persegi pada kedalaman 7 meter di bawah permukaan tanah di areal Kompleks Tugu Pahlawan. Tujuannya untuk mendukung keberadaan Tugu Pahlawan serta melengkapi fasilitas sejarahnya dan diresmikan pada tanggal 19 februari 2000 oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid. (mus/nur/jay)


Most Read

Berita Terbaru