alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, June 29, 2022

Gardu Listrik Zaman Belanda Masih Ada di Surabaya

SURABAYA – Jika gardu listrik saat ini bentuknya silinder dengan tinggi lebih dari tiga empat meter, berbeda dengan bentuk gardu listrik zaman kolonial Belanda. Bentuk gardu listrik zaman Belanda adalah seperti bangunan rumah persegi dengan beberapa ventilasi dan pintu, disertai atap.

Gardu listrik peninggalan Belanda itu seperti bangunan rumah yang dibuat dari batu bata, pasir, maupun semen, berbeda dengan saat ini yang terbuat dari kontruksi baja, fiberglas atau kombinasinya.

“Gardu listrik itu dimiliki oleh perusahaan listrik yang bernama Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM). Orang zaman dulu banyak menyebutnya gardu ANIEM atau babon ANIEM,” ujar pegiat sejarah, Nur Setiawan.

Salah satu kawasan yang mendapatkan suplai listrik di Surabaya ketika itu adalah kawasan perumahan elit Eropa, seperti di kawasan darmo dan Diponegoro. Selain perkantoran dan perusahaan milik Belanda.

Menurut Nur Setiawan, sejak kawasan tersebut banyak bermunculan perumahan elit, ANIEM membangun sebuah travo besar untuk mengaliri listrik di kawasan Diponegoro.

Ketika itu perumahan elit Eropa sangat membutuhkan listrik. Orang-orang kaya dulu sudah mempunyai banyak fasilitas seperti pemanggang roti, kulkas, hingga lampu taman.

“Abad 20 rumah elit Eropa dulu sudah membutuhkan pasokan listrik sehingga, ANIEM membangun sebuah gardu travo untuk menyuplai kebutuhan listrik. Karena rumah elit saat itu sudah dilengkapi kulkas maupun pemanggang roti,” ujarnya.

Beberapa gardu listrik peninggalan Belanda tersebut masih bisa dijumpai di beberapa kawasan di Surabaya, seperti Diponegoro, Kedungdoro, Jalan Semarang, Panglima Sudirman, dan beberapa lokasi lain. (rmt/nur)

SURABAYA – Jika gardu listrik saat ini bentuknya silinder dengan tinggi lebih dari tiga empat meter, berbeda dengan bentuk gardu listrik zaman kolonial Belanda. Bentuk gardu listrik zaman Belanda adalah seperti bangunan rumah persegi dengan beberapa ventilasi dan pintu, disertai atap.

Gardu listrik peninggalan Belanda itu seperti bangunan rumah yang dibuat dari batu bata, pasir, maupun semen, berbeda dengan saat ini yang terbuat dari kontruksi baja, fiberglas atau kombinasinya.

“Gardu listrik itu dimiliki oleh perusahaan listrik yang bernama Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM). Orang zaman dulu banyak menyebutnya gardu ANIEM atau babon ANIEM,” ujar pegiat sejarah, Nur Setiawan.

Salah satu kawasan yang mendapatkan suplai listrik di Surabaya ketika itu adalah kawasan perumahan elit Eropa, seperti di kawasan darmo dan Diponegoro. Selain perkantoran dan perusahaan milik Belanda.

Menurut Nur Setiawan, sejak kawasan tersebut banyak bermunculan perumahan elit, ANIEM membangun sebuah travo besar untuk mengaliri listrik di kawasan Diponegoro.

Ketika itu perumahan elit Eropa sangat membutuhkan listrik. Orang-orang kaya dulu sudah mempunyai banyak fasilitas seperti pemanggang roti, kulkas, hingga lampu taman.

“Abad 20 rumah elit Eropa dulu sudah membutuhkan pasokan listrik sehingga, ANIEM membangun sebuah gardu travo untuk menyuplai kebutuhan listrik. Karena rumah elit saat itu sudah dilengkapi kulkas maupun pemanggang roti,” ujarnya.

Beberapa gardu listrik peninggalan Belanda tersebut masih bisa dijumpai di beberapa kawasan di Surabaya, seperti Diponegoro, Kedungdoro, Jalan Semarang, Panglima Sudirman, dan beberapa lokasi lain. (rmt/nur)

Most Read

Berita Terbaru


/