alexametrics
25 C
Surabaya
Monday, September 26, 2022

PANJEBAR SEMANGAT: Alat Dr Soetomo Jangkau Rakyat Pedalaman & Kelabuhi Belanda

SURABAYA – Mengingat sejarah panjang perjuangan kemerdekaan di Surabaya, pasti nama Dr Soetomo tak bisa diabaikan dan sosoknya selalu diingat. Bahkan di Surabaya, jejak perjuangannya masih bisa disaksikan dan diabadikan hingga saat ini.

Yakni kompleks Gedung Negara Indonesia (GNI) yang dulu menjadi markas perjuangannya bersama para pemuda lain, serta surat kabar berbahasa Jawa Panjebar Semangat menjadi bukti perjuangannya.

Dr Soetomo lahir pada 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur. Sebelumnya, nama lahir Soetomo sebelum itu ialah Subroto. Ia lahir dari keluarga priyayi dan pejabat pemerintah.

Ayahnya bernama Raden Suwaji, seorang pegawai pangreh, sedangkan kakeknya bernama R. Ng. Singawijaya atau KH. Abdurakhman adalah seorang tokoh yang sangat terkenal dan berpengaruh. “Oleh karena itu, hidup Soetomo sedari kecil serba berkecukupan,” ujar pemerhati sejarah kota Surabaya, Yousri Nur Raja Agam.

Soetomo menempuh pendidikan dokter yang didirikan oleh pemerintah Belanda, yaitu School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera.

Makam Dr Soetomo di kompleks Gedung GNI Jalan Bubutan Surabaya. (ANTARAFOTO)

Yousri menuturkan, organisasi Boedi Oetomo (Budi Utomo) menjadi salah satu organisasi besar yang didirikan Soetomo dan memiliki banyak andil dalam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan, termasuk di Surabaya. Boedi Oetomo didirikan pada 20 Mei 1908 oleh dr Soetomo dan beberapa mahasiswa STOVIA lainnya.

Selain dikenal sebagai pendiri Boedi Oetomo, Soetomo juga dipandang sebagai tokoh pergerakan yang sangat mencintai dunia pers. Yousri menuturkan, untuk mengelabui pemerintah kolonial Belanda, tokoh perjuangan yang juga tokoh pers di Surabaya, dr Soetomo menerbitkan surat kabar berbahasa Jawa bernama Panjebar Semangat.

“Surat kabar yang terbit dalam bentuk lembaran sebanyak empat halaman itu, nomor perdananya diluncurkan pada 2 September 1933,” ujarnya.

Menurutnya, Panjebar Semangat memiliki misi utama untuk masyarakat pedalaman yang belum memahami bahasa Indonesia maupun Belanda. Sekaligus untuk mengelabui pihak Belanda yang kurang memahami bahasa Jawa.

“Dengan terbitnya koran ini, pesan-pesan perjuangan dapat langsung dicerna oleh masyarakat bawah. Itulah sebabnya bahasa Jawa yang digunakan adalah bahasa Jawa ngoko, sehingga dapat menghilangkan feodalisme,” ungkapnya. (mus/nur)

SURABAYA – Mengingat sejarah panjang perjuangan kemerdekaan di Surabaya, pasti nama Dr Soetomo tak bisa diabaikan dan sosoknya selalu diingat. Bahkan di Surabaya, jejak perjuangannya masih bisa disaksikan dan diabadikan hingga saat ini.

Yakni kompleks Gedung Negara Indonesia (GNI) yang dulu menjadi markas perjuangannya bersama para pemuda lain, serta surat kabar berbahasa Jawa Panjebar Semangat menjadi bukti perjuangannya.

Dr Soetomo lahir pada 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur. Sebelumnya, nama lahir Soetomo sebelum itu ialah Subroto. Ia lahir dari keluarga priyayi dan pejabat pemerintah.

Ayahnya bernama Raden Suwaji, seorang pegawai pangreh, sedangkan kakeknya bernama R. Ng. Singawijaya atau KH. Abdurakhman adalah seorang tokoh yang sangat terkenal dan berpengaruh. “Oleh karena itu, hidup Soetomo sedari kecil serba berkecukupan,” ujar pemerhati sejarah kota Surabaya, Yousri Nur Raja Agam.

Soetomo menempuh pendidikan dokter yang didirikan oleh pemerintah Belanda, yaitu School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera.

Makam Dr Soetomo di kompleks Gedung GNI Jalan Bubutan Surabaya. (ANTARAFOTO)

Yousri menuturkan, organisasi Boedi Oetomo (Budi Utomo) menjadi salah satu organisasi besar yang didirikan Soetomo dan memiliki banyak andil dalam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan, termasuk di Surabaya. Boedi Oetomo didirikan pada 20 Mei 1908 oleh dr Soetomo dan beberapa mahasiswa STOVIA lainnya.

Selain dikenal sebagai pendiri Boedi Oetomo, Soetomo juga dipandang sebagai tokoh pergerakan yang sangat mencintai dunia pers. Yousri menuturkan, untuk mengelabui pemerintah kolonial Belanda, tokoh perjuangan yang juga tokoh pers di Surabaya, dr Soetomo menerbitkan surat kabar berbahasa Jawa bernama Panjebar Semangat.

“Surat kabar yang terbit dalam bentuk lembaran sebanyak empat halaman itu, nomor perdananya diluncurkan pada 2 September 1933,” ujarnya.

Menurutnya, Panjebar Semangat memiliki misi utama untuk masyarakat pedalaman yang belum memahami bahasa Indonesia maupun Belanda. Sekaligus untuk mengelabui pihak Belanda yang kurang memahami bahasa Jawa.

“Dengan terbitnya koran ini, pesan-pesan perjuangan dapat langsung dicerna oleh masyarakat bawah. Itulah sebabnya bahasa Jawa yang digunakan adalah bahasa Jawa ngoko, sehingga dapat menghilangkan feodalisme,” ungkapnya. (mus/nur)

Most Read

Berita Terbaru


/