SURABAYA – Kawasan Kampung Bulak Banteng Surabaya dulunya adalah lahan kosong atau persawahan. Dengan lahan kosong itulah banyak tumbuhan Bulu. Tanaman ini tumbuhnya tidak digenangi air seperti tumbuhan mangrove, tapi beda jenis.
Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan, munculnya nama Bulak Banteng pasca kemerdekaan, sekitar tahun 1960-an atau 1970-an. Awalnya kawasan Bulak Banteng dikelilingi oleh kampung Pogot, Kedinding dan Endrosono. “Jadi kawasan kampung Bulak Banteng dikelilingi oleh kampung tersebut,”kata Nus Setiawan.
Kmapung tersebut dinamakan Bulak Banteng karena berasal dari asal nama tumbuhan Bulu yang ditanam di pinggir sungai agar tidak digenangi oleh air. Sehingga disebut Bulak Banteng.
“Hal tersebut tidak lepas dari orang perantau dari pulau garam atau Madura. Sehingga tumbuhan Bulu menjadi Bulak Banteng dan di Bulak Banteng banyak sekali orang-orang Madura,” terangnya.
Menurut Nur Setiawan, Bulak Banteng adalah salah satu kampung di Surabaya Utara yang mempunyai akulturasi budaya yang identik dengan kawasan Ampel yang didominasi orang-orang Arab.
Namun kenyataannya di kawasan Surabaya Utara didominasi oleh orang-orang Madura. Sehingga berwarna dan berkarakter serta budaya yang ada di Surabaya Utara. “Di sana banyak pekerjaan-pekerjaan non formal seperti berdagang yang mayoritas dari orang Madura,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu warga Bulak Banteng, Mat Bahri, 56, menjelaskan bahwa kampung Bulak Banteng dulu adalah sawah dan banyak tumbuhan buah. “Dulu di sana banyak tumbuhan buah-buahan,” ucapnya. (jar/nur)