27 C
Surabaya
Wednesday, June 7, 2023

Kawasan Perniagaan Surabaya Menggeliat Sejak Abad 18

SURABAYA – Pertumbuhan kawasan perniagaan di Surabaya dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk yang melakukan urbanisasi ke Surabaya. Mereka mencari pekerjaan sebagai pelayan, pekerja harian dan sebagainya.

“Di samping orang Eropa dan pribumi. Orang-orang asal Tiongkok juga golongan ketiga yang penting di Surabaya saat itu. Jika merujuk pada referensi buku perkembangan kota Surabaya,” kata Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika.

Di antara tanah-tanah yang ada termasuk yang masih tersisa. Ia mencontohkan, seperti di kawasan Pegirian maupun Kapasan atau di kawasan Surabaya Utara, baik di pinggiran maupun di pinggir jalan. Di situlah orang-orang pribumi dan Tiongkok mendirikan perumahan dan tempat usaha.

Chrisyandi menceritakan, awalnya orang Tionghoa ini mendiami suatu daerah yang berada di sebelah timur Kalimas, hingga di sekitar Jembatan Merah. Daerah itu merupakan Chinese Kamp jika dilihat dari peta Surabaya tahun 1866.

Baca Juga :  Kya-Kya Kembang Jepun Jadi Inspirasi Pasar Semawis di Pecinan Semarang

Dengan pola pembangunan yang memanjang di kawasan tersebut merupakan ciri khas model kawasan di Kota Surabaya. Pertumbahan ini menjadi masalah dalam kota. Sehingga penduduk asli Surabaya makin lama makin terdesak. Seperti di kawasan Srengganan, di bagian luar difungsikan untuk perniagaan sedangkan yang dalam untuk perkampungan.

Sedangkan banyak orang Eropa yang mengambil tanah luas dan membangun rumah-rumah yang besar, kantor dan toko-toko. Mereka berlomba-lomba membeli tanah, baik di tengah kota di pinggiran maupun dekat di persimpangan jalan. Meskipun saat itu ada larangan bagi warga Eropa. “Jadi mereka hidup di kampung-kampung,” pungkasnya. (rmt/nur)

SURABAYA – Pertumbuhan kawasan perniagaan di Surabaya dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk yang melakukan urbanisasi ke Surabaya. Mereka mencari pekerjaan sebagai pelayan, pekerja harian dan sebagainya.

“Di samping orang Eropa dan pribumi. Orang-orang asal Tiongkok juga golongan ketiga yang penting di Surabaya saat itu. Jika merujuk pada referensi buku perkembangan kota Surabaya,” kata Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika.

Di antara tanah-tanah yang ada termasuk yang masih tersisa. Ia mencontohkan, seperti di kawasan Pegirian maupun Kapasan atau di kawasan Surabaya Utara, baik di pinggiran maupun di pinggir jalan. Di situlah orang-orang pribumi dan Tiongkok mendirikan perumahan dan tempat usaha.

Chrisyandi menceritakan, awalnya orang Tionghoa ini mendiami suatu daerah yang berada di sebelah timur Kalimas, hingga di sekitar Jembatan Merah. Daerah itu merupakan Chinese Kamp jika dilihat dari peta Surabaya tahun 1866.

Baca Juga :  Kawasan Pecinan Surabaya Mutiara yang Perlu Dipoles Lagi

Dengan pola pembangunan yang memanjang di kawasan tersebut merupakan ciri khas model kawasan di Kota Surabaya. Pertumbahan ini menjadi masalah dalam kota. Sehingga penduduk asli Surabaya makin lama makin terdesak. Seperti di kawasan Srengganan, di bagian luar difungsikan untuk perniagaan sedangkan yang dalam untuk perkampungan.

Sedangkan banyak orang Eropa yang mengambil tanah luas dan membangun rumah-rumah yang besar, kantor dan toko-toko. Mereka berlomba-lomba membeli tanah, baik di tengah kota di pinggiran maupun dekat di persimpangan jalan. Meskipun saat itu ada larangan bagi warga Eropa. “Jadi mereka hidup di kampung-kampung,” pungkasnya. (rmt/nur)

Most Read

Berita Terbaru