30 C
Surabaya
Thursday, December 8, 2022

Kampung Lawang Seketeng: Antara Peneleh, Plampitan dan Trowulan

SURABAYA – Kampung Lawang Seketeng menyimpan kisah sejarah lintas zaman. Keberadaannya tak terpisahkan dengan Kampung Peneleh dan Plampitan. Sejak berdiri, usianya sudah ratusan tahun.

Pengamat Sejarah Kota Surabaya Kuncarsono Prasetyo mengatakan, kampung bernuansa lawas itu sudah ada sejak era Majapahit. Salah satu yang menguatkan yaitu ditemukan Sumur Jobong. Kendati, bangunan di sana masih kokoh dan terawat. “Surabaya termasuk bagian penting pada saat itu,” ujarnya, Jumat (11/11).

Secara administratif, wilayah utara Surabaya menjadi pintu gerbang lalu-lintas kerajaan saat itu. Mobilitas saat itu mengandalkan transportasi air melalui Sungai Kalimas. Oleh karena itu, Surabaya tidak lepas dari masa Majapahit. “Sumur itu mirip di Trowulan, Mojokerto,” ucapnya.

Selain itu, Langgar Dukur Kayu yang dibangun pada 1893 silam itu memiliki peran penting. Pada era revolusi, tempat itu berfungsi sebagai markas pejuang. Saat itu, warga di sana menjadi bagian dalam pertempuran. “Saat ini bangunan itu menjadi cagar budaya,” tuturnya.

Kampung itu meninggalkan jejak proklamator kemerdekaan RI. Kampung di Jalan Peneleh itu dipercaya tempat kelahiran dan masa kecil Bung Karno. Selain itu, terdapat rumah HOS Tjokroaminoto.

“Memang di sana banyak daya tarik yang penuh cerita. Salah satunya itu, rumah jengki dengan arsitektur yang lepas dari gaya kolonial,” imbuhnya. (hil/nur)

 

SURABAYA – Kampung Lawang Seketeng menyimpan kisah sejarah lintas zaman. Keberadaannya tak terpisahkan dengan Kampung Peneleh dan Plampitan. Sejak berdiri, usianya sudah ratusan tahun.

Pengamat Sejarah Kota Surabaya Kuncarsono Prasetyo mengatakan, kampung bernuansa lawas itu sudah ada sejak era Majapahit. Salah satu yang menguatkan yaitu ditemukan Sumur Jobong. Kendati, bangunan di sana masih kokoh dan terawat. “Surabaya termasuk bagian penting pada saat itu,” ujarnya, Jumat (11/11).

Secara administratif, wilayah utara Surabaya menjadi pintu gerbang lalu-lintas kerajaan saat itu. Mobilitas saat itu mengandalkan transportasi air melalui Sungai Kalimas. Oleh karena itu, Surabaya tidak lepas dari masa Majapahit. “Sumur itu mirip di Trowulan, Mojokerto,” ucapnya.

Selain itu, Langgar Dukur Kayu yang dibangun pada 1893 silam itu memiliki peran penting. Pada era revolusi, tempat itu berfungsi sebagai markas pejuang. Saat itu, warga di sana menjadi bagian dalam pertempuran. “Saat ini bangunan itu menjadi cagar budaya,” tuturnya.

Kampung itu meninggalkan jejak proklamator kemerdekaan RI. Kampung di Jalan Peneleh itu dipercaya tempat kelahiran dan masa kecil Bung Karno. Selain itu, terdapat rumah HOS Tjokroaminoto.

“Memang di sana banyak daya tarik yang penuh cerita. Salah satunya itu, rumah jengki dengan arsitektur yang lepas dari gaya kolonial,” imbuhnya. (hil/nur)

 

Most Read

Berita Terbaru


/