alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

Ludruk, Berawal dari Pertemanan Cak Durasim dan dr Soetomo

SURABAYA – Ludruk merupakan salah satu seni pertunjukan panggung yang sudah ada sejak tahun 1930-an di Kota Surabaya. Kesenian ludruk berasal dari Surabaya, Jawa Timur.

Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Samidi mengatakan, ludruk sebagai seni pertunjukan panggung sebenarnya baru muncul sekitar tahun 1930 di Kota Surabaya. “Dahulu ada namanya ludruk Organisatie,” ungkapnya.

Awal mula berdirinya, lanjut Samidi, ketika Gondo Durasim atau Cak Durasim menjalin pertemanan baik dengan Dr Soetomo yang merupakan tokoh pergerakan. Setelah menjalin pertemanan yang baik, keduanya lalu berkolaborasi mendirikan ludruk Organisatie.

“Awal tahun 1930 ludruk sebagai pertunjukan panggung sandiwara. Ludruk sudah berubah menjadi ada drama, ada tarinya ada banyolan, dan ada unsur cerita,” terangnya.

Dia menyebutkan, pada tahun 1940-an ludruk sudah populer. Selain itu juga menjadi cara efektif mengumpulkan dana. Sebagian dana dari pertunjukan ludruk, kemudian disumbangkan ke tentara PETA (Pembela Tanah Air).

Cerita yang dibawakan ludruk, kata Samidi, banyak diambil dari cerita rakyat. Seperti lakon Cak Sakera, Untung, Sarip Tambak Oso dan lain-lainnya. Namun yang paling banyak cerita rekaan sebagai kritik sosial.

Aggota Begandring Surabaya Nanang Purwono menambahkan, ludruk kelompoknya Cak Durasim banyak menyuarakan pesan perjuangan dan membangkitkan semangat juang arek-arek Suroboyo. “Salah satu kidungnya atau parikan yang terkenal adalah bekupon omahe doro, urip melu nippon tambah sengsoro,” ucapnya menirukan kidung yang dipopulerkan Cak Durasim.

Hingga kini keberadaan ludruk di Surabaya masih ada dan juga dipentaskan. Hanya saja jumlahnya tidak sebanyak ketika tahun 1950-an. (rus/nur)


SURABAYA – Ludruk merupakan salah satu seni pertunjukan panggung yang sudah ada sejak tahun 1930-an di Kota Surabaya. Kesenian ludruk berasal dari Surabaya, Jawa Timur.

Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Samidi mengatakan, ludruk sebagai seni pertunjukan panggung sebenarnya baru muncul sekitar tahun 1930 di Kota Surabaya. “Dahulu ada namanya ludruk Organisatie,” ungkapnya.

Awal mula berdirinya, lanjut Samidi, ketika Gondo Durasim atau Cak Durasim menjalin pertemanan baik dengan Dr Soetomo yang merupakan tokoh pergerakan. Setelah menjalin pertemanan yang baik, keduanya lalu berkolaborasi mendirikan ludruk Organisatie.

“Awal tahun 1930 ludruk sebagai pertunjukan panggung sandiwara. Ludruk sudah berubah menjadi ada drama, ada tarinya ada banyolan, dan ada unsur cerita,” terangnya.

Dia menyebutkan, pada tahun 1940-an ludruk sudah populer. Selain itu juga menjadi cara efektif mengumpulkan dana. Sebagian dana dari pertunjukan ludruk, kemudian disumbangkan ke tentara PETA (Pembela Tanah Air).

Cerita yang dibawakan ludruk, kata Samidi, banyak diambil dari cerita rakyat. Seperti lakon Cak Sakera, Untung, Sarip Tambak Oso dan lain-lainnya. Namun yang paling banyak cerita rekaan sebagai kritik sosial.

Aggota Begandring Surabaya Nanang Purwono menambahkan, ludruk kelompoknya Cak Durasim banyak menyuarakan pesan perjuangan dan membangkitkan semangat juang arek-arek Suroboyo. “Salah satu kidungnya atau parikan yang terkenal adalah bekupon omahe doro, urip melu nippon tambah sengsoro,” ucapnya menirukan kidung yang dipopulerkan Cak Durasim.

Hingga kini keberadaan ludruk di Surabaya masih ada dan juga dipentaskan. Hanya saja jumlahnya tidak sebanyak ketika tahun 1950-an. (rus/nur)



Most Read

Berita Terbaru