alexametrics
27 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

Srengganan, Sisa Perjuangan dan Penyangga Wilayah Utara (3)

Kawasan yang Diisi Percampuran Penduduk Asli dengan Kaum Pendatang

Kawasan Srengganan merupakan kawasan padat penduduk yang diapit oleh Kertopaten di sisi utara dan Sidodadi di sisi selatan. Namun, di sisi luar yang menghadap ke sungai yang tembus ke Kalimas terlihat bangunan yang digunakan sebagai perniaagaan.

Rahmat Sudrajat – Wartawan Radar Surabaya

Menurut Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika, kawasan Srengganan memiliki model bangunan yang lebih cenderung untuk perniaagaan. Terutama lokasinya yang dipinggir jalan menghadap ke sungai. Sedangkan Srengganan yang di dalam tetap digunakan sebagai pemukiman penduduk.

“Yang pinggir jalan untuk perniaagaan. Kalau yang didalam modelnya perkampungan untuk hunian,” katanya kepada Radar Surabaya.

Chrisyandi menjelaskan, hampir semua model kawasan yang mempunyai historis mempunyai kesamaan. “Kalau saya lihat hampir semua model dalam foto lama pinggir jalan selalu dipakai untuk jualan atau perkantoran. Sampai saat ini konsep itu juga masih dilakukan,” jelasnya.

Selain itu, jika dilihat dari riwayat sejarahnya, penduduk yang bermukim di Srengganan juga beraneka ragam. Ada yang berasal dari penduduk asli Surabaya dan pendatang. “Kemungkinan yang tinggal di area sana (Srengganan) penduduk asli Surabaya dan pendatang,” imbuhnya.

Namun alasan bercampurnya penduduk dikarenakan kawasan itu masuk dalam tembok kota. Meskipun tembok tersebut batal untuk dikerjakan. “Kalau berdasarkan peta 1866, terlihat pada gambar kota dikelilingi oleh tembok kota. Sedang pada ujungnya di tepi laut terdapat benteng Prins Hendrik. Yang sekarang menjadi Jalan Benteng. Jadi pembangunan benteng tersebut dimulai tahun 1830-an sampai tahun 1860. Tapi 1871 tembok benteng ini mulai dibongkar,” terangnya.

Sehingga semua penduduk asli Surabaya harus keluar dari kota perbentengan tersebut, kecuali beberapa ratus orang yang diperlukan tenaga kerja. ”Selanjutnya sejak saat itu perkembangan Kota Surabaya berkembang ke arah selatan,” pungkasnya. (bersambung/nur)


Kawasan Srengganan merupakan kawasan padat penduduk yang diapit oleh Kertopaten di sisi utara dan Sidodadi di sisi selatan. Namun, di sisi luar yang menghadap ke sungai yang tembus ke Kalimas terlihat bangunan yang digunakan sebagai perniaagaan.

Rahmat Sudrajat – Wartawan Radar Surabaya

Menurut Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika, kawasan Srengganan memiliki model bangunan yang lebih cenderung untuk perniaagaan. Terutama lokasinya yang dipinggir jalan menghadap ke sungai. Sedangkan Srengganan yang di dalam tetap digunakan sebagai pemukiman penduduk.

“Yang pinggir jalan untuk perniaagaan. Kalau yang didalam modelnya perkampungan untuk hunian,” katanya kepada Radar Surabaya.

Chrisyandi menjelaskan, hampir semua model kawasan yang mempunyai historis mempunyai kesamaan. “Kalau saya lihat hampir semua model dalam foto lama pinggir jalan selalu dipakai untuk jualan atau perkantoran. Sampai saat ini konsep itu juga masih dilakukan,” jelasnya.

Selain itu, jika dilihat dari riwayat sejarahnya, penduduk yang bermukim di Srengganan juga beraneka ragam. Ada yang berasal dari penduduk asli Surabaya dan pendatang. “Kemungkinan yang tinggal di area sana (Srengganan) penduduk asli Surabaya dan pendatang,” imbuhnya.

Namun alasan bercampurnya penduduk dikarenakan kawasan itu masuk dalam tembok kota. Meskipun tembok tersebut batal untuk dikerjakan. “Kalau berdasarkan peta 1866, terlihat pada gambar kota dikelilingi oleh tembok kota. Sedang pada ujungnya di tepi laut terdapat benteng Prins Hendrik. Yang sekarang menjadi Jalan Benteng. Jadi pembangunan benteng tersebut dimulai tahun 1830-an sampai tahun 1860. Tapi 1871 tembok benteng ini mulai dibongkar,” terangnya.

Sehingga semua penduduk asli Surabaya harus keluar dari kota perbentengan tersebut, kecuali beberapa ratus orang yang diperlukan tenaga kerja. ”Selanjutnya sejak saat itu perkembangan Kota Surabaya berkembang ke arah selatan,” pungkasnya. (bersambung/nur)



Most Read

Berita Terbaru