alexametrics
29 C
Surabaya
Monday, May 23, 2022

Kantor PCNU Kota Surabaya di Jalan Bubutan Dibangun 1909

SURABAYA – Bangunanya terlihat masih kokoh dan terawat. Bangunan bergaya arsitektur kolonial itu memiliki pintu utama dan jendela berukuran besar. Di bagian atas depan gedung terlihat tulisan mencolok ‘Hoofdbestuur’ berwarna hijau seperti warna bendera Nahdlatul Ulama (NU).

Ya, bangunan tua di Jalan Bubutan VI Nomor 2 itu adalah kantor pengurus besar Nahdlatul Ulama pertama. Dahulu masih disebut Hoofdbestuur Nahdlatul Oelama (HBNO).

Bangunan bercat warna putih itu kini digunakan sebagai kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya.

Bangunan tersebut dibangun oleh Belanda pada tahun 1909. Meski sudah berusia seabad lebih, keaslian bangunan masih terjaga. Suasana tempo dulu cukup terasa saat berada di dalam bangunan.

Di ruang pertama terdapat beberapa kursi dan meja. Selain itu juga dipajang lambang NU, foto naskah Resolusi Jihad, tokoh NU, foto perjuangan santri melawan penjajah dan foto lawas bangunan.

Baca Juga :  Cak Markeso, Tokoh Ludruk Garingan Surabaya

Sementara di bagian ruang dalam terdapat ruangan besar seperti aula. Wakil Ketua PCNU Surabaya KH Solahuddin Azmi mengatakan, bangunan gedung PCNU Surabaya merupakan bangunan penting dan bersejarah.

Setelah NU berdiri di Surabaya 31 Januari 1926, gedung yang kini sebagai kantor PCNU Surabaya dijadikan gedung pengurus besar NU atau HBNO (Hoofdbestuur Nahdlatul Oelama) pertama pada tahun 1935. “Kantor itu sebagai gedung pengurus besar NU pertama. Dahulu masih HBNO,” ujar Solahuddin kepada Radar Surabaya.

Pria yang akrab disapa Gus Uddin itu menjelaskan, selain dipakai sebagai kantor pertama pengurus besar NU, gedung bernuansa Eropa ini dahulu juga dipakai tempat terselenggarannya konferensi Anshor NU.

Selain itu, gedung juga dipakai rapat besar oleh KH Hasyim Asyari dan ulama NU se-Jawa-Madura yang akhirnya sepakat dicetuskan Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945.

Baca Juga :  Asal Usul Nama Kenjeran karena Dulu Dipenuhi Genjer

“Setelah dicetuskan Resolusi Jihad banyak santri ikut berperang melawan penjajah yang ingin kembali menguasai Surabaya,” bebernya.

Pada masa peperangan tersebut, kata Solahuddin, kantor HBNO sempat pindah beberapa kali. Sebab, di kawasan Bubutan menjadi lokasi sentral pertempuran. Banyak warga terutama anak-anak, perempuan dan lansia mengungsi.

“Ketika itu kantor HBNO sempat pindah ke Bangil, kemudian pindah ke Pasuruan, dan Jombang,” sebutnya.

Tak hanya itu, kantor HBNO juga sempat pindah ke Madiun. Pasalnya, perang mempertahankan kemerdekaan berlangsung cukup lama. “Ketika dari Madiun setelah penyerahan kedaulatan 1949, kantor HBNO kembali ke Surabaya,” paparnya.

Kantor PCNU Surabaya sudah ditetapkan cagar budaya. Bangunan sebagian besar masih asli. Penetapan cagar budaya tersebut sesuai SK Wali Kota Nomor : 188.45/502/436.1.2/201 tanggal 11 Desember 2013. (rus/nur)

SURABAYA – Bangunanya terlihat masih kokoh dan terawat. Bangunan bergaya arsitektur kolonial itu memiliki pintu utama dan jendela berukuran besar. Di bagian atas depan gedung terlihat tulisan mencolok ‘Hoofdbestuur’ berwarna hijau seperti warna bendera Nahdlatul Ulama (NU).

Ya, bangunan tua di Jalan Bubutan VI Nomor 2 itu adalah kantor pengurus besar Nahdlatul Ulama pertama. Dahulu masih disebut Hoofdbestuur Nahdlatul Oelama (HBNO).

Bangunan bercat warna putih itu kini digunakan sebagai kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya.

Bangunan tersebut dibangun oleh Belanda pada tahun 1909. Meski sudah berusia seabad lebih, keaslian bangunan masih terjaga. Suasana tempo dulu cukup terasa saat berada di dalam bangunan.

Di ruang pertama terdapat beberapa kursi dan meja. Selain itu juga dipajang lambang NU, foto naskah Resolusi Jihad, tokoh NU, foto perjuangan santri melawan penjajah dan foto lawas bangunan.

Baca Juga :  Botoputih Dulunya Pulau Kecil di Kawasan Pegirian

Sementara di bagian ruang dalam terdapat ruangan besar seperti aula. Wakil Ketua PCNU Surabaya KH Solahuddin Azmi mengatakan, bangunan gedung PCNU Surabaya merupakan bangunan penting dan bersejarah.

Setelah NU berdiri di Surabaya 31 Januari 1926, gedung yang kini sebagai kantor PCNU Surabaya dijadikan gedung pengurus besar NU atau HBNO (Hoofdbestuur Nahdlatul Oelama) pertama pada tahun 1935. “Kantor itu sebagai gedung pengurus besar NU pertama. Dahulu masih HBNO,” ujar Solahuddin kepada Radar Surabaya.

Pria yang akrab disapa Gus Uddin itu menjelaskan, selain dipakai sebagai kantor pertama pengurus besar NU, gedung bernuansa Eropa ini dahulu juga dipakai tempat terselenggarannya konferensi Anshor NU.

Selain itu, gedung juga dipakai rapat besar oleh KH Hasyim Asyari dan ulama NU se-Jawa-Madura yang akhirnya sepakat dicetuskan Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945.

Baca Juga :  Stasiun Semut Peninggalan Belanda Bakal Difungsikan Lagi

“Setelah dicetuskan Resolusi Jihad banyak santri ikut berperang melawan penjajah yang ingin kembali menguasai Surabaya,” bebernya.

Pada masa peperangan tersebut, kata Solahuddin, kantor HBNO sempat pindah beberapa kali. Sebab, di kawasan Bubutan menjadi lokasi sentral pertempuran. Banyak warga terutama anak-anak, perempuan dan lansia mengungsi.

“Ketika itu kantor HBNO sempat pindah ke Bangil, kemudian pindah ke Pasuruan, dan Jombang,” sebutnya.

Tak hanya itu, kantor HBNO juga sempat pindah ke Madiun. Pasalnya, perang mempertahankan kemerdekaan berlangsung cukup lama. “Ketika dari Madiun setelah penyerahan kedaulatan 1949, kantor HBNO kembali ke Surabaya,” paparnya.

Kantor PCNU Surabaya sudah ditetapkan cagar budaya. Bangunan sebagian besar masih asli. Penetapan cagar budaya tersebut sesuai SK Wali Kota Nomor : 188.45/502/436.1.2/201 tanggal 11 Desember 2013. (rus/nur)

Most Read

Berita Terbaru


/