alexametrics
28 C
Surabaya
Wednesday, August 10, 2022

Jejak Pabrik Farmasi Jerman di Jalan Bongkaran Surabaya

SURABAYA – Salah satu bangunan tua yang menarik perhatian komunitas pencinta cagar budaya (heritage) berada di Jalan Bongkaran 44 Surabaya. Desain gedung itu masih terlihat cantik meski sudah lama tidak digunakan sebagai pabrik, gudang, atau kantor.

Di bagian atas dari bangunan tersebut terdapat tulisan “Pabrik Obat Helmig – Essence Tjap Lontjeng”. Yah.. tempo doeloe bangunan itu memang dipakai sebagai pabrik farmasi milik perusahaan asal Jerman yang berdiri tahun 1906.

“Awalnya pabrik Helmig’s di Jalan Jagalan,” kata Beni Making dari komunitas Jejak Petjinan.

Setelah berganti manajemen pada 1934, pabrik itu direlokasi ke Jalan Bongkaran. Esens (essence) Tjap Lontjeng merupakan merek legendaris legendaris di masa lalu. Varian rasanya antara lain pisang, vanila, dan frambozen.

Setelah dinasionalisasi, Helmig’s Chomische Fabrieken NV berubah menjadi perusahaan Pharmasi Industri Masyarakat (PIM) pada 1958. Nama PT PIM Pharmaceutical digunakan sampai sekarang oleh perusahaan farmasi eks Jerman tersebut.

Menurut Beni, produk-produk PT PIM alias Helmig ini sangat familier di kalangan masyarakat tempo dulu. Khususnya esens yang dipakai untuk pembuatan kue-kue dan sebagainya. Belum lagi minuman herbal atau suplemennya.

“Produk obat PT PIM Pharmaceutical yang terkenal adalah obat influenza dan aspirin. Banyak lagi varian obat lainnya,” kata Beni yang senang blusukan ke kota lama itu.

Dalam perkembangannya, tata ruang dan tata kota di Surabaya berubah. Kawasan kota lama seperti Jalan Bongkaran, Slompretan, Gula, Kopi, Karet dan sebagainya tidak lagi untuk kawasan industri. Hanya untuk perdagangan, pergudangan, dan perkantoran saja.

Karena itu, manajemen PT PIM merelokasi pabrik esens Tjap Lontjeng dan pabrik obat Helmig ke Candiwates, Prigen, Pasuruan. Juga membuka pabrik baru di Sidoarjo. “Sampai sekarang produk-produknya masih dinikmati masyarakat. Tapi sebagian besar orang tidak tahu kalau cikal bakal pabrik itu di Jalan Bongkaran, Surabaya,” kata Beni. (rek)

SURABAYA – Salah satu bangunan tua yang menarik perhatian komunitas pencinta cagar budaya (heritage) berada di Jalan Bongkaran 44 Surabaya. Desain gedung itu masih terlihat cantik meski sudah lama tidak digunakan sebagai pabrik, gudang, atau kantor.

Di bagian atas dari bangunan tersebut terdapat tulisan “Pabrik Obat Helmig – Essence Tjap Lontjeng”. Yah.. tempo doeloe bangunan itu memang dipakai sebagai pabrik farmasi milik perusahaan asal Jerman yang berdiri tahun 1906.

“Awalnya pabrik Helmig’s di Jalan Jagalan,” kata Beni Making dari komunitas Jejak Petjinan.

Setelah berganti manajemen pada 1934, pabrik itu direlokasi ke Jalan Bongkaran. Esens (essence) Tjap Lontjeng merupakan merek legendaris legendaris di masa lalu. Varian rasanya antara lain pisang, vanila, dan frambozen.

Setelah dinasionalisasi, Helmig’s Chomische Fabrieken NV berubah menjadi perusahaan Pharmasi Industri Masyarakat (PIM) pada 1958. Nama PT PIM Pharmaceutical digunakan sampai sekarang oleh perusahaan farmasi eks Jerman tersebut.

Menurut Beni, produk-produk PT PIM alias Helmig ini sangat familier di kalangan masyarakat tempo dulu. Khususnya esens yang dipakai untuk pembuatan kue-kue dan sebagainya. Belum lagi minuman herbal atau suplemennya.

“Produk obat PT PIM Pharmaceutical yang terkenal adalah obat influenza dan aspirin. Banyak lagi varian obat lainnya,” kata Beni yang senang blusukan ke kota lama itu.

Dalam perkembangannya, tata ruang dan tata kota di Surabaya berubah. Kawasan kota lama seperti Jalan Bongkaran, Slompretan, Gula, Kopi, Karet dan sebagainya tidak lagi untuk kawasan industri. Hanya untuk perdagangan, pergudangan, dan perkantoran saja.

Karena itu, manajemen PT PIM merelokasi pabrik esens Tjap Lontjeng dan pabrik obat Helmig ke Candiwates, Prigen, Pasuruan. Juga membuka pabrik baru di Sidoarjo. “Sampai sekarang produk-produknya masih dinikmati masyarakat. Tapi sebagian besar orang tidak tahu kalau cikal bakal pabrik itu di Jalan Bongkaran, Surabaya,” kata Beni. (rek)

Most Read

Berita Terbaru


/