alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, June 29, 2022

PKL di Surabaya Ada Sejak Zaman Belanda, Kebanyakan Asongan

SURABAYA – Pedagang kaki lima (PKL) menjadi permasalahan sosial di kota besar, tak terkecuali di Surabaya. Keberadaan PKL sendiri menjadi hal yang biasa. Mereka menjual berbagai macam barang kebutuhan masyarakat dengan harga yang sama dengan pasar tradisional, namun PKL bisa meminimalisir jarak. Sehingga keberadaan PKL menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk membeli kebutuhannya.

Keberadaan PKL ternyata tidak hanya ada saat ini saja. PKL sudah ada sejak zaman dulu. Salah satunya pada masa penjajahan Belanda. “Sudah ada sejak dulu. PKL ini biasanya berkumpul di tempat keramaian seperti tempat pemberhentian trem atau di pasar,” kata Pegiat Sejarah Surabaya Nur Satriawan, Rabu (2/3).

Dulu PKL lebih banyak ditemui adalah pedagang asongan dan yang berkeliling kampung menjajahkan makanan. Mereka ini juga berhenti di lokasi keramaian kala itu. Untuk pedagang di sekitar pasar tradisional mereka membuka lapak karena tidak memiliki uang untuk membuka stan.

Mereka akhirnya memilih berjualan di depan pasar menjajakan barang dagangannya. “Zaman Belanda sudah ada penertiban, mereka tidak mau ada PKL yang mengganggu kerapian hingga kebersihan lokasi yang ditempati,” jelasnya.

Sampai saat ini kondisi dan cara kerja PKL tetap sama meskipun jenis dagangan kian beragam. Penertiban dan relokasi PKL juga terus dilakukan demi menjaga kebersihan dan ketertiban kota. (gun/nur)

SURABAYA – Pedagang kaki lima (PKL) menjadi permasalahan sosial di kota besar, tak terkecuali di Surabaya. Keberadaan PKL sendiri menjadi hal yang biasa. Mereka menjual berbagai macam barang kebutuhan masyarakat dengan harga yang sama dengan pasar tradisional, namun PKL bisa meminimalisir jarak. Sehingga keberadaan PKL menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk membeli kebutuhannya.

Keberadaan PKL ternyata tidak hanya ada saat ini saja. PKL sudah ada sejak zaman dulu. Salah satunya pada masa penjajahan Belanda. “Sudah ada sejak dulu. PKL ini biasanya berkumpul di tempat keramaian seperti tempat pemberhentian trem atau di pasar,” kata Pegiat Sejarah Surabaya Nur Satriawan, Rabu (2/3).

Dulu PKL lebih banyak ditemui adalah pedagang asongan dan yang berkeliling kampung menjajahkan makanan. Mereka ini juga berhenti di lokasi keramaian kala itu. Untuk pedagang di sekitar pasar tradisional mereka membuka lapak karena tidak memiliki uang untuk membuka stan.

Mereka akhirnya memilih berjualan di depan pasar menjajakan barang dagangannya. “Zaman Belanda sudah ada penertiban, mereka tidak mau ada PKL yang mengganggu kerapian hingga kebersihan lokasi yang ditempati,” jelasnya.

Sampai saat ini kondisi dan cara kerja PKL tetap sama meskipun jenis dagangan kian beragam. Penertiban dan relokasi PKL juga terus dilakukan demi menjaga kebersihan dan ketertiban kota. (gun/nur)

Most Read

Berita Terbaru


/