alexametrics
28 C
Surabaya
Wednesday, August 10, 2022

Tinggal di Rumah Mertua Tak Selalu Indah

Senikmat-nikmatnya tinggal di rumah mertua, masih lebih membahagiakan tinggal di rumah sendiri. Meskipun rumahnya masih ngontrak.

Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya

Dua kalimat di atas benar-benar diugemi Karin. Perempuan 27 tahun yang tinggal di kawasan  Wonorejo itu memilih pisah dari suaminya, Donwori, bila dibandingkan dengan tinggal serumah bersama mertuanya.

Ceritanya, Karin dan Donwori menikah di 2019. Sejak masih single, Karin bercita-cita membangun rumah tangga secara mandiri dengan laki-laki yang kelak menikahinya. Tak peduli siapa laki-laki itu, entah kaya atau miskin, yang penting Karin ingin membangun keluarga yang mandiri.

Rupanya, cita-citanya itu tak kesampaian. Ia dinikahi Donwori, 27, cowok berdagu lancip yang ternyata anak mama. “Ia anak tunggal dari keluarga yang kaya raya,” curhat Karin pada Radar Surabaya. 

Karena anak tunggal, begitu menikah, orang tua Donwori tak mau begitu saja melepas anaknya. Karin malah diminta tinggal di rumah Donwori. “Karena mama-papa nggak ada temannya. Mas Wori kan anak tunggal. Maunya ya serumah,” lanjutnya.

Setelah dirayu Donwori, Karin menyetujui tinggal dengan mertua. Tapi S dan K berlaku. Artinya ada syarat dan ketentuannya. “Saya minta hanya setahun saja, setelah itu kita harus punya rumah sendiri. Kita tinggal di rumah sendiri. Saat itu Mas Wori pun sepakat,” ungkap Karin.

Setelah setahun berjalan, Karin nagih soal ‘mandiri’ itu ke Donwori.  Ternyata Donwori tak bisa menjawab. “Alasannya, papa-mama nggak ngebolihin kita keluar rumah. Diminta tinggal sama mertua saja,” ujarnya.

Bolak-balik Karin menagihnya. Bolak-balik pula Donwori tak bisa memberi jawaban. “Dasar Mas Wori anak mama. Gak punya kemandirian sama sekali. Kalau gini terus, rumah tangga macam apa yang akan kita jalani. Ya mending kita selesai saja sampai di sini. Saya ingin hidup dengan laki-laki yang punya kemandirian. Bukan yang apa-apa selalu kata mama,” gerutu Karin.  

Rupanya, Karin tak betah tinggal di rumah mertua karena sejumlah alasan. Ia yang berasal dari keluarga sederhana, tak bisa mengikuti irama keluarga Donwori yang kelasnya jauh di atas keluarganya.  “Meskipun rumahnya besar, pembantunya aja lima, tapi tinggal di rumah mertua tak selalu membuat hidup terasa indah,” pungkas Karin tanpa mau menjelaskan lebih detail. (*/opi)

Senikmat-nikmatnya tinggal di rumah mertua, masih lebih membahagiakan tinggal di rumah sendiri. Meskipun rumahnya masih ngontrak.

Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya

Dua kalimat di atas benar-benar diugemi Karin. Perempuan 27 tahun yang tinggal di kawasan  Wonorejo itu memilih pisah dari suaminya, Donwori, bila dibandingkan dengan tinggal serumah bersama mertuanya.

Ceritanya, Karin dan Donwori menikah di 2019. Sejak masih single, Karin bercita-cita membangun rumah tangga secara mandiri dengan laki-laki yang kelak menikahinya. Tak peduli siapa laki-laki itu, entah kaya atau miskin, yang penting Karin ingin membangun keluarga yang mandiri.

Rupanya, cita-citanya itu tak kesampaian. Ia dinikahi Donwori, 27, cowok berdagu lancip yang ternyata anak mama. “Ia anak tunggal dari keluarga yang kaya raya,” curhat Karin pada Radar Surabaya. 

Karena anak tunggal, begitu menikah, orang tua Donwori tak mau begitu saja melepas anaknya. Karin malah diminta tinggal di rumah Donwori. “Karena mama-papa nggak ada temannya. Mas Wori kan anak tunggal. Maunya ya serumah,” lanjutnya.

Setelah dirayu Donwori, Karin menyetujui tinggal dengan mertua. Tapi S dan K berlaku. Artinya ada syarat dan ketentuannya. “Saya minta hanya setahun saja, setelah itu kita harus punya rumah sendiri. Kita tinggal di rumah sendiri. Saat itu Mas Wori pun sepakat,” ungkap Karin.

Setelah setahun berjalan, Karin nagih soal ‘mandiri’ itu ke Donwori.  Ternyata Donwori tak bisa menjawab. “Alasannya, papa-mama nggak ngebolihin kita keluar rumah. Diminta tinggal sama mertua saja,” ujarnya.

Bolak-balik Karin menagihnya. Bolak-balik pula Donwori tak bisa memberi jawaban. “Dasar Mas Wori anak mama. Gak punya kemandirian sama sekali. Kalau gini terus, rumah tangga macam apa yang akan kita jalani. Ya mending kita selesai saja sampai di sini. Saya ingin hidup dengan laki-laki yang punya kemandirian. Bukan yang apa-apa selalu kata mama,” gerutu Karin.  

Rupanya, Karin tak betah tinggal di rumah mertua karena sejumlah alasan. Ia yang berasal dari keluarga sederhana, tak bisa mengikuti irama keluarga Donwori yang kelasnya jauh di atas keluarganya.  “Meskipun rumahnya besar, pembantunya aja lima, tapi tinggal di rumah mertua tak selalu membuat hidup terasa indah,” pungkas Karin tanpa mau menjelaskan lebih detail. (*/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/