alexametrics
27 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

Nikahi Gadis Fresh Graduate bak Ngemong Keponakan

Beda usia, beda pemikiran. Yang satu masih suka kelayapan, dolan sana sini. Satunya lagi, maunya di rumah saja, disayang-sayang.

Mus Purmadani-Wartawan Radar Surabaya

DONWORI masuk kategori pria telat menikah. Umur 45 baru punya greget berumah tangga. Itu pun karena desakan keluarga besar. Malu kalau punya saudara, tapi telat menikah. Dianggap ora payu.

Padahal secara casing, Donwori ini termasuk pria idaman. Tinggi, lumayan tampan, nggak ganteng tapi manis. Juga punya pekerjaan tetap yang menggiurkan. Donwori ini manajer pemasaran di sebuah perusahaan properti.

“Kepikiran menikah baru dua tahun ini. Ibuk yang minta saya berumah tangga. Padahal saya belum ada rencana ke arah sana (berumah tangga, Red),” ungkap Donwori mengawali ceritanya pada Radar Surabaya yang menemuinya pekan lalu di sebuah restoran di Tunjungan Plaza.

Singkat kata singkat cerita, Donwori dijodohkan. Dengan cucu teman ibu Donwori. Usianya masih 23 tahun, fresh graduate. “Usianya separo usia saya,” lanjut Donwori diiringi tawa yang nggak enak dilihat dan didengar.

Anehnya, pertama kali ketemu dengan Karin, Donwori langsung klik. “Saat itu saya bilang, ini bener-bener jodoh saya,” akunya.

Tanpa pacaran lama, Donwori gercep melamar Karin. Karin pun menerima dengan bungah. Lamaran beres lanjut pesta pernikahan. “Tapi karena saat itu masih pandemi, nikahnya dibuat intimate. Hanya untuk keluarga besar. Yang datang cuma 30-an orang. Yang penting sah,” curhat Donwori.

Hingga tiga bulan menikah, semua baik-baik saja. Rumah tangga Donwori vs Karin penuh kemesraan, laiknya pengantin baru. “Tapi, masuk setengah tahun pernikahan, saya mulai naik darah,” akunya.

“Kok bisa?” tanya Radar Surabaya, spontan.

“Saya persis ngemong keponakan saya. Anaknya rumit, ngambekan, belum dewasa sama sekali,” curhat Donwori.

Donwori mencontohkan, Karin ini hobi kelayapan dengan geng kuliahannya. Kalau malam minggu, pasti ada acara di luar. Ngemall, kongkow, kulineran, belanja dan hal-hal lain yang menurut Donwori sangat tidak ada manfaatnya.

“Padahal kalau weekend, saya inginnya di rumah aja. Weekday kan sudah capek kerja, inginnya me time dengan istri. Eh lha kok istri malah pilih kelayanan sama tementemennya. Gak bisa lah saya hidup begini terus dengan dia,” pungkas Donwori yang sudah berencana membawa pernikahan singkatnya itu ke Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya. (*/opi)


Beda usia, beda pemikiran. Yang satu masih suka kelayapan, dolan sana sini. Satunya lagi, maunya di rumah saja, disayang-sayang.

Mus Purmadani-Wartawan Radar Surabaya

DONWORI masuk kategori pria telat menikah. Umur 45 baru punya greget berumah tangga. Itu pun karena desakan keluarga besar. Malu kalau punya saudara, tapi telat menikah. Dianggap ora payu.

Padahal secara casing, Donwori ini termasuk pria idaman. Tinggi, lumayan tampan, nggak ganteng tapi manis. Juga punya pekerjaan tetap yang menggiurkan. Donwori ini manajer pemasaran di sebuah perusahaan properti.

“Kepikiran menikah baru dua tahun ini. Ibuk yang minta saya berumah tangga. Padahal saya belum ada rencana ke arah sana (berumah tangga, Red),” ungkap Donwori mengawali ceritanya pada Radar Surabaya yang menemuinya pekan lalu di sebuah restoran di Tunjungan Plaza.

Singkat kata singkat cerita, Donwori dijodohkan. Dengan cucu teman ibu Donwori. Usianya masih 23 tahun, fresh graduate. “Usianya separo usia saya,” lanjut Donwori diiringi tawa yang nggak enak dilihat dan didengar.

Anehnya, pertama kali ketemu dengan Karin, Donwori langsung klik. “Saat itu saya bilang, ini bener-bener jodoh saya,” akunya.

Tanpa pacaran lama, Donwori gercep melamar Karin. Karin pun menerima dengan bungah. Lamaran beres lanjut pesta pernikahan. “Tapi karena saat itu masih pandemi, nikahnya dibuat intimate. Hanya untuk keluarga besar. Yang datang cuma 30-an orang. Yang penting sah,” curhat Donwori.

Hingga tiga bulan menikah, semua baik-baik saja. Rumah tangga Donwori vs Karin penuh kemesraan, laiknya pengantin baru. “Tapi, masuk setengah tahun pernikahan, saya mulai naik darah,” akunya.

“Kok bisa?” tanya Radar Surabaya, spontan.

“Saya persis ngemong keponakan saya. Anaknya rumit, ngambekan, belum dewasa sama sekali,” curhat Donwori.

Donwori mencontohkan, Karin ini hobi kelayapan dengan geng kuliahannya. Kalau malam minggu, pasti ada acara di luar. Ngemall, kongkow, kulineran, belanja dan hal-hal lain yang menurut Donwori sangat tidak ada manfaatnya.

“Padahal kalau weekend, saya inginnya di rumah aja. Weekday kan sudah capek kerja, inginnya me time dengan istri. Eh lha kok istri malah pilih kelayanan sama tementemennya. Gak bisa lah saya hidup begini terus dengan dia,” pungkas Donwori yang sudah berencana membawa pernikahan singkatnya itu ke Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya. (*/opi)



Most Read

Berita Terbaru