alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

Kuliah S2 di Luar Kota, Pulang Bawa Istri Kedua

Tresno jalaran soko kulino, cinta karena terbiasa. Cinta juga bisa hadir karena setiap hari diglibeti.

MUS PURMADANI-Wartawan Radar Surabaya

LIMA tahun lalu, Donwori, 38, pamit sekolah lagi. Meneruskan S2 di luar kota, tidak di Surabaya. Ada beasiswa dari perusahaan.  Full study ples biaya hidup ples sangu bulanan. Siapa yang nggak bangga, termasuk Karin.

Jelas ini menjadi kabar bahagia bagi perempuan 34 tahun itu. Ia merasa punya suami yang tak hanya hebat di rumah, tapi juga di pekerjaannya. “Siapa yang nggak bangga, karena sekolah lagi itu kesempatan yang tidak diberikan kepada semua karyawan. Hanya karyawan yang terpilih saja,” cerita Karin pada Radar Surabaya yang menemuinya pekan lalu.

Tak apa jika harus berpisah, pikir Karin. Toh jarak Surabaya dengan Malang tak lebih dari dua jam. Seminggu sekali masih bisa ketemu. Atau kalau kangen dadakan, Karin bisa nyusul kapan pun. “Kami sepakat Mas Wori mengambil beasiswa itu. Demi masa depan yang lebih baik untuk rumah tangga kami,” lanjut Karin.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, lima bulan hingga setengah tahun perkuliahan, semua berjalan lancar. Seminggu sekali Donwori pulang ke Surabaya. Kalau repot, Karin yang menyusul ke Malang. “Apalagi kita kan belum ada anak, jadi ya nggak terlalu berat,” kata Karin.

Di pertengahan tahun, sebenarnya Karin pingin full ikut Donwori tinggal di Malang. Tapi, Donwori tidak mengizinkan. “Alasannya, eman-eman dengan pekerjaan saya yang sudah bagus. Saya manut, tetap tinggal di Surabaya saja,” lanjut Karin.

Donwori mulai menunjukkan ketidakberesan di akhir-akhir semester 2 masa perkuliahan. Selain mulai jarang pulang saat weekend, juga makin tak perhatian ke Karin. “Biasanya setiap hari video call. Eh mulai nggak lagi. Saya pikir karena sibuk dengan tugas,” ungkapnya.

Makin lama ternyata Donwori kian menunjukkan gelagat yang tidak baik. Sebagai istri yang sudah menemani Donwori lima tahun, jelas Karin merasakan ketidakberesan itu. “Ada tanda-tanda Mas Wori punya perempuan lain. Feeling saya saat itu sangat kuat,” katanya menahan pedih.

Benar juga feeling Karin itu. Ternyata Donwori kepincut dengan teman satu kelasnya. “Hubungannya sudah sangat dalam,” aku Karin tanpa mau menjelaskan lebih detil.

Saking dalamnya hubungan itu, Karin memilih mengakhiri pernikahannya dengan Donwori yang sudah berumur 9 tahun. “Saya tidak mau dimadu. Itu sangat menyakitkan. Saya bahagia Mas Wori sekolah lagi. Eh kok pulang bukannya bawa ijazah malah punya istri lagi,” pungkas Karin. (*/opi)


Tresno jalaran soko kulino, cinta karena terbiasa. Cinta juga bisa hadir karena setiap hari diglibeti.

MUS PURMADANI-Wartawan Radar Surabaya

LIMA tahun lalu, Donwori, 38, pamit sekolah lagi. Meneruskan S2 di luar kota, tidak di Surabaya. Ada beasiswa dari perusahaan.  Full study ples biaya hidup ples sangu bulanan. Siapa yang nggak bangga, termasuk Karin.

Jelas ini menjadi kabar bahagia bagi perempuan 34 tahun itu. Ia merasa punya suami yang tak hanya hebat di rumah, tapi juga di pekerjaannya. “Siapa yang nggak bangga, karena sekolah lagi itu kesempatan yang tidak diberikan kepada semua karyawan. Hanya karyawan yang terpilih saja,” cerita Karin pada Radar Surabaya yang menemuinya pekan lalu.

Tak apa jika harus berpisah, pikir Karin. Toh jarak Surabaya dengan Malang tak lebih dari dua jam. Seminggu sekali masih bisa ketemu. Atau kalau kangen dadakan, Karin bisa nyusul kapan pun. “Kami sepakat Mas Wori mengambil beasiswa itu. Demi masa depan yang lebih baik untuk rumah tangga kami,” lanjut Karin.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, lima bulan hingga setengah tahun perkuliahan, semua berjalan lancar. Seminggu sekali Donwori pulang ke Surabaya. Kalau repot, Karin yang menyusul ke Malang. “Apalagi kita kan belum ada anak, jadi ya nggak terlalu berat,” kata Karin.

Di pertengahan tahun, sebenarnya Karin pingin full ikut Donwori tinggal di Malang. Tapi, Donwori tidak mengizinkan. “Alasannya, eman-eman dengan pekerjaan saya yang sudah bagus. Saya manut, tetap tinggal di Surabaya saja,” lanjut Karin.

Donwori mulai menunjukkan ketidakberesan di akhir-akhir semester 2 masa perkuliahan. Selain mulai jarang pulang saat weekend, juga makin tak perhatian ke Karin. “Biasanya setiap hari video call. Eh mulai nggak lagi. Saya pikir karena sibuk dengan tugas,” ungkapnya.

Makin lama ternyata Donwori kian menunjukkan gelagat yang tidak baik. Sebagai istri yang sudah menemani Donwori lima tahun, jelas Karin merasakan ketidakberesan itu. “Ada tanda-tanda Mas Wori punya perempuan lain. Feeling saya saat itu sangat kuat,” katanya menahan pedih.

Benar juga feeling Karin itu. Ternyata Donwori kepincut dengan teman satu kelasnya. “Hubungannya sudah sangat dalam,” aku Karin tanpa mau menjelaskan lebih detil.

Saking dalamnya hubungan itu, Karin memilih mengakhiri pernikahannya dengan Donwori yang sudah berumur 9 tahun. “Saya tidak mau dimadu. Itu sangat menyakitkan. Saya bahagia Mas Wori sekolah lagi. Eh kok pulang bukannya bawa ijazah malah punya istri lagi,” pungkas Karin. (*/opi)



Most Read

Berita Terbaru