30 C
Surabaya
Thursday, December 8, 2022

Alasan Biaya Besar, Emoh Diajak Selamatan untuk Mertua

Perbedaan pandangan soal selamatn untuk meninggalnya orang tua bikin geger rumah tangga Donwori vs Karin. ‘Hanya’ gara-gara bancakan itu, rumah tanggg mereka dipertaruhkan.

TIM RADAR SURABAYA

Rumah tangga Donwori, 41, dan Karin, 40, ini sedang dalam proses persidangan di Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya.  Beberapa hari lalu, Karin keluar dari ruang sidang dengan wajah cemberut. Kelihatan kalau di dalam ruang sidang, ada peristiwa yang membuatnya kecewa campur marah. Begitu pula dengan Donwori yang kemudian juga langsung ke warung depan PA.

“Saya enggak pernah meminta istri aneh-aneh. Ya hanya berharap ia mau nylameti orang tuaku. Tapi, alasannya bidah, dosa karena orang mati ya sudah mati. Yang bikin mangkel itu alasan nanti ngabisin duit,” kata Donwori di sela sela sidang talak cerainya.

Bersama pengacaranya, Donwori tidak bisa mentoleransi sikap Karin. Terlebih, waktu orang tua Karin dulu meninggal, hampir seluruh biaya bancakannya menggunakan uang Donwori. Akan tetapi, kini berbalik. Ketika orang tua Donwori meninggal, justru Karin menolak untuk mengambil tabungannya dengan alasan biaya bancakan1.000 hari sang mertua membutuhkan biaya lebih dari Rp 20 juta.

“Dulu bancakan mertua, saya yang nanggung. Kakak dan adiknya gak mau ada yang nanggung. Ya pikirku, nylameti wong tua ada rezekinya sendiri,” papar pria yang bekerja di perbankan itu.

Ia pun melihat kalau orang tuanya juga sangat berpengaruh kepada kehidupannya. Orang tuanya dulu mendidik dengan kasih sayang, serta menyekolahkan hingga studi pasca sarjana. “Uang muka rumah juga dulu yang ngasih juga orang tuaku. Enggak tahu ada apa istri itu kok enggak mau nylameti ibuku. Bapakku sampai nelongso dan struk gara-gara istri bersikap seperti itu,” tegasnya.

Sampai akhirnya,  Donwori nekat meminjam uang temannya untuk biaya selamatan. Pasalnya, keuangan Donwori seluruhnya diserahkan pada Karin. “Istri marah, wes gak tak reken. Lha dipikir aku yo gak iso protes, marah yawis tak pegat. Gak sudi punya istri kurang ajar begitu,” urainya.

Sementara itu, Karin hanya diam. Ia mengaku alasan biaya selamatn bukanlah yang utama, namun lebih pada tradisi yang ia anggap bidah.”Biaya selamatan mahal, dulu waktu orang tuaku kan murah. Ya enggak bisa gitulah, harus dirundingkan,” kata ibu tiga anak itu.

Ia menolak menggunakan uang tabungannya karena tahun depan anaknya masuk kuliah sehingga ia tidak berani menggunakannya. “Masio Rp 20 juta dari tabunganku Rp 90 jutaan, ya itu namanya tetap duit. Harus tetap dieman eman,” pungkasnya. (*/opi)

Perbedaan pandangan soal selamatn untuk meninggalnya orang tua bikin geger rumah tangga Donwori vs Karin. ‘Hanya’ gara-gara bancakan itu, rumah tanggg mereka dipertaruhkan.

TIM RADAR SURABAYA

Rumah tangga Donwori, 41, dan Karin, 40, ini sedang dalam proses persidangan di Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya.  Beberapa hari lalu, Karin keluar dari ruang sidang dengan wajah cemberut. Kelihatan kalau di dalam ruang sidang, ada peristiwa yang membuatnya kecewa campur marah. Begitu pula dengan Donwori yang kemudian juga langsung ke warung depan PA.

“Saya enggak pernah meminta istri aneh-aneh. Ya hanya berharap ia mau nylameti orang tuaku. Tapi, alasannya bidah, dosa karena orang mati ya sudah mati. Yang bikin mangkel itu alasan nanti ngabisin duit,” kata Donwori di sela sela sidang talak cerainya.

Bersama pengacaranya, Donwori tidak bisa mentoleransi sikap Karin. Terlebih, waktu orang tua Karin dulu meninggal, hampir seluruh biaya bancakannya menggunakan uang Donwori. Akan tetapi, kini berbalik. Ketika orang tua Donwori meninggal, justru Karin menolak untuk mengambil tabungannya dengan alasan biaya bancakan1.000 hari sang mertua membutuhkan biaya lebih dari Rp 20 juta.

“Dulu bancakan mertua, saya yang nanggung. Kakak dan adiknya gak mau ada yang nanggung. Ya pikirku, nylameti wong tua ada rezekinya sendiri,” papar pria yang bekerja di perbankan itu.

Ia pun melihat kalau orang tuanya juga sangat berpengaruh kepada kehidupannya. Orang tuanya dulu mendidik dengan kasih sayang, serta menyekolahkan hingga studi pasca sarjana. “Uang muka rumah juga dulu yang ngasih juga orang tuaku. Enggak tahu ada apa istri itu kok enggak mau nylameti ibuku. Bapakku sampai nelongso dan struk gara-gara istri bersikap seperti itu,” tegasnya.

Sampai akhirnya,  Donwori nekat meminjam uang temannya untuk biaya selamatan. Pasalnya, keuangan Donwori seluruhnya diserahkan pada Karin. “Istri marah, wes gak tak reken. Lha dipikir aku yo gak iso protes, marah yawis tak pegat. Gak sudi punya istri kurang ajar begitu,” urainya.

Sementara itu, Karin hanya diam. Ia mengaku alasan biaya selamatn bukanlah yang utama, namun lebih pada tradisi yang ia anggap bidah.”Biaya selamatan mahal, dulu waktu orang tuaku kan murah. Ya enggak bisa gitulah, harus dirundingkan,” kata ibu tiga anak itu.

Ia menolak menggunakan uang tabungannya karena tahun depan anaknya masuk kuliah sehingga ia tidak berani menggunakannya. “Masio Rp 20 juta dari tabunganku Rp 90 jutaan, ya itu namanya tetap duit. Harus tetap dieman eman,” pungkasnya. (*/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/