alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, June 29, 2022

Kerap Dihina Mertua karena Tak Punya, Pilih Mendua Sesuai Selera

Jika sudah berkeluarga, jangan pernah sekali-sekali menghina keluarga mertua. Bisa-bisa suami pilih mendua.
LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Surabaya 
Hidup dalam keluarga yang pas-pasan membuat Donwori, 32, harus ekstra sabar. Sebab istrinya, Karin, 30, kerap menghina keluarganya. Hal ini juga dilakukan sang mertua ibu dari Karin. Katanya, Karin menyesal hidup dengan pria tak punya.
Donwori mengaku, awal pernikahannya tak ada masalah apa-apa. Karin tak masalah walau Donwori bukan anak orang kaya. Ngaku cinta, dan akan menerima keluarga Donwori apa adanya.
“Karin memang anak orang kaya. Walau tinggal di desa, tapi ayahnya pengusaha mebel, dan banyak sawahnya juga,” ujar Donwori.
Sayang, baru 10 bulan menikah, Karin mulai berubah. Kerap marah-marah, merasa hidup tak berkecukupan. Katanya nafkah yang diberi Donwori tak cukup. Padahal sejak awal menikah, Karin tau kalau Donwori hanya seorang guru.
“Nah setiap kalo aki serahkan gaji, selalu kurang, kurang dan kurang. Katanya ayah sama gak bisa mendidik saya jadi suami yang baik,” imbuhnya.
Karena masih baru menikah, Donwori berusaha sabar. Sayang, lama-lama, hinaan Karin makin parah. Ibu, ayah, kakak, hingga saudaranya yang lain kerap dihina. Katanya keluarga miskin, dan tak tahu diri.
Merasa keluarga besarnya dibawa-bawa, Donwori pun marah bukan kepalang. Pergi dari rumah, dan kencan dengan wanita lain. “Hanya ingin balas dendam. Buat tahu, kalau wanita bukan dia saja,” ujar Donwori.
Sayang, hal itu makin memperparah keadaan. Karin pergi dari rumah dan tak pernah kembali. Merasa sudah tak ada jalan, Donwori pun pergi ke pengadilan agama klas 1A Surabaya.
“Saya sakit hati sama dia. Keluarga dibawa-bawa. Sudah sabar masih saja sering begitu. Ya sudah bubar sajalah,” jelasnya. (*/opi) 
Jika sudah berkeluarga, jangan pernah sekali-sekali menghina keluarga mertua. Bisa-bisa suami pilih mendua.
LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Surabaya 
Hidup dalam keluarga yang pas-pasan membuat Donwori, 32, harus ekstra sabar. Sebab istrinya, Karin, 30, kerap menghina keluarganya. Hal ini juga dilakukan sang mertua ibu dari Karin. Katanya, Karin menyesal hidup dengan pria tak punya.
Donwori mengaku, awal pernikahannya tak ada masalah apa-apa. Karin tak masalah walau Donwori bukan anak orang kaya. Ngaku cinta, dan akan menerima keluarga Donwori apa adanya.
“Karin memang anak orang kaya. Walau tinggal di desa, tapi ayahnya pengusaha mebel, dan banyak sawahnya juga,” ujar Donwori.
Sayang, baru 10 bulan menikah, Karin mulai berubah. Kerap marah-marah, merasa hidup tak berkecukupan. Katanya nafkah yang diberi Donwori tak cukup. Padahal sejak awal menikah, Karin tau kalau Donwori hanya seorang guru.
“Nah setiap kalo aki serahkan gaji, selalu kurang, kurang dan kurang. Katanya ayah sama gak bisa mendidik saya jadi suami yang baik,” imbuhnya.
Karena masih baru menikah, Donwori berusaha sabar. Sayang, lama-lama, hinaan Karin makin parah. Ibu, ayah, kakak, hingga saudaranya yang lain kerap dihina. Katanya keluarga miskin, dan tak tahu diri.
Merasa keluarga besarnya dibawa-bawa, Donwori pun marah bukan kepalang. Pergi dari rumah, dan kencan dengan wanita lain. “Hanya ingin balas dendam. Buat tahu, kalau wanita bukan dia saja,” ujar Donwori.
Sayang, hal itu makin memperparah keadaan. Karin pergi dari rumah dan tak pernah kembali. Merasa sudah tak ada jalan, Donwori pun pergi ke pengadilan agama klas 1A Surabaya.
“Saya sakit hati sama dia. Keluarga dibawa-bawa. Sudah sabar masih saja sering begitu. Ya sudah bubar sajalah,” jelasnya. (*/opi) 

Most Read

Berita Terbaru


/