25 C
Surabaya
Thursday, December 8, 2022

Pelakor di Saat Yang Tepat, Jadi Penyelamat Kehidupan

Pelakor atau perempuan perebuat suami orang identik dengan suatu kesalahan. Tapi, bagi Karin, pelakor dalam rumah tangganya adalah dewi penyelamat kehidupannya.

TIM RADAR SURABAYA

KARIN, 29, duduk dengan tenang di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1 A Surabaya pada suatu siang yang mendung, sepekan lalu. Setelah tiga tahun menikah dengan Donwori, ia memutuskan untuk menggugat suaminya yang hobi sekali main tangan.

Meski dibungkus dengan pakaian yang serba panjang, bekas pukulan dan tendangan itu masih terlihat jelas di mata dan pelipisnya. Membentuk tanda hitam yang besar.

KDRT yang dilakukan suaminya ini tergolong kumat-kumatan. Biasanya, Donwori berubah anarkis ketika sedang stres dalam pekerjaan. Seperti beberapa bulan belakangan, beban pekerjaan di kantornya sedang berat yang membuatnya terus uring-uringan. Imbasnya, Karin lah yang kena. Jangankan berbuat kesalahan, benar saja disalah-salahkan.

Tanpa hujan tampa angin, masalah pekerjaan Karin juga dibawa-bawa. Secara tiba-tiba Donwori melarang Karin untuk bekerja. Kata Donwori, perempuan itu di rumah saja. Ngurus suami. Kenapa pakai kerja-kerja segala. Urusan rumah tangga jadi berantakan.

Padahal jelas Karin, selama ini, tak ada masalah di rumah meskipun ia bekerja. Ia tetap masak, cuci baju, korah-korah, ngepel dan bersih rumah sendiri. “Pancen dia saja sing suka gawe perkoro. Kalau aku gak bantu kerja, kurang uang belanja buat kebutuhan sehari-hari. Jatah dari Mas Wori mepet banget,” omel Karin kesal.

Karena sama-sama ngengkel inilah, hubungan rumah tangga keduanya tak pernah ayem. Donwori pun makin gencar melakukan serangan. Entah dengan menendang dan memukul. Karin yang dipukul begitu juga kebal-kebal saja. Asalkan belum sampai mati saja istilahnya, ia akan tetap bertahan.

Sebenarnya, Karin ini juga sudah jengkel dengan suaminya. Maunya cerai saja. Tapi, dia belum nemu alasan yang tepat. Hingga akhirnya sang pelakor datang mempermudah langkahnya.

Ceritanya, Sephia, 28, ini sudah mengganggu hubungan Karin dan Donwori jauh sejak keduanya pacaran dulu. Namun saat itu Karin tetap menang karena Donwori ini cinta mati padanya. Karin sampai heran dengan kegetolan Sephia, ditolak begitu tetap bertahan. “Ya tak pikir dia wes nyerah lihat aku nikah sama MasWori. Wong jika dihitung-hitung sudah lima tahun lamanya,” katanya.

Menurut dugaan Karin, sepertinya Sephia ini menunggu waktu untuk menggoda suaminya. Buktinya, sampai sekarang dia juga tak menikah. Dan tahu-tahu ia muncul lagi setelah (mungkin) tahu kalau hubungan Karin dan Donwori sedang bergejolak. Tak tahu sejak kapan, e…si Sephia ini sudah menggaet Donwori saja. “Ya aku tahunya lewat chatting lah biasa,” lanjut Karin santai.

Tahu suaminya digoda, Karin mah woles saja. Karena memang sebenarnya kesempatan ini sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Dan kehadiran perempuan lain adalah alasan yang cukup masuk akal untuk membuat keluarganya menyerah memaksa Karin untuk mempertahankan rumah tangga.

“Aku gak heran sih kenapa dia tergila-gila. Suamiku sejak kuliah memang ganteng. Banyak yang suka. Tapi ya siap-siap aja kena pukul nanti. Aku angkat tangan, wegah ngilingno juga,” pungkasnya santai. (*/opi)

Pelakor atau perempuan perebuat suami orang identik dengan suatu kesalahan. Tapi, bagi Karin, pelakor dalam rumah tangganya adalah dewi penyelamat kehidupannya.

TIM RADAR SURABAYA

KARIN, 29, duduk dengan tenang di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1 A Surabaya pada suatu siang yang mendung, sepekan lalu. Setelah tiga tahun menikah dengan Donwori, ia memutuskan untuk menggugat suaminya yang hobi sekali main tangan.

Meski dibungkus dengan pakaian yang serba panjang, bekas pukulan dan tendangan itu masih terlihat jelas di mata dan pelipisnya. Membentuk tanda hitam yang besar.

KDRT yang dilakukan suaminya ini tergolong kumat-kumatan. Biasanya, Donwori berubah anarkis ketika sedang stres dalam pekerjaan. Seperti beberapa bulan belakangan, beban pekerjaan di kantornya sedang berat yang membuatnya terus uring-uringan. Imbasnya, Karin lah yang kena. Jangankan berbuat kesalahan, benar saja disalah-salahkan.

Tanpa hujan tampa angin, masalah pekerjaan Karin juga dibawa-bawa. Secara tiba-tiba Donwori melarang Karin untuk bekerja. Kata Donwori, perempuan itu di rumah saja. Ngurus suami. Kenapa pakai kerja-kerja segala. Urusan rumah tangga jadi berantakan.

Padahal jelas Karin, selama ini, tak ada masalah di rumah meskipun ia bekerja. Ia tetap masak, cuci baju, korah-korah, ngepel dan bersih rumah sendiri. “Pancen dia saja sing suka gawe perkoro. Kalau aku gak bantu kerja, kurang uang belanja buat kebutuhan sehari-hari. Jatah dari Mas Wori mepet banget,” omel Karin kesal.

Karena sama-sama ngengkel inilah, hubungan rumah tangga keduanya tak pernah ayem. Donwori pun makin gencar melakukan serangan. Entah dengan menendang dan memukul. Karin yang dipukul begitu juga kebal-kebal saja. Asalkan belum sampai mati saja istilahnya, ia akan tetap bertahan.

Sebenarnya, Karin ini juga sudah jengkel dengan suaminya. Maunya cerai saja. Tapi, dia belum nemu alasan yang tepat. Hingga akhirnya sang pelakor datang mempermudah langkahnya.

Ceritanya, Sephia, 28, ini sudah mengganggu hubungan Karin dan Donwori jauh sejak keduanya pacaran dulu. Namun saat itu Karin tetap menang karena Donwori ini cinta mati padanya. Karin sampai heran dengan kegetolan Sephia, ditolak begitu tetap bertahan. “Ya tak pikir dia wes nyerah lihat aku nikah sama MasWori. Wong jika dihitung-hitung sudah lima tahun lamanya,” katanya.

Menurut dugaan Karin, sepertinya Sephia ini menunggu waktu untuk menggoda suaminya. Buktinya, sampai sekarang dia juga tak menikah. Dan tahu-tahu ia muncul lagi setelah (mungkin) tahu kalau hubungan Karin dan Donwori sedang bergejolak. Tak tahu sejak kapan, e…si Sephia ini sudah menggaet Donwori saja. “Ya aku tahunya lewat chatting lah biasa,” lanjut Karin santai.

Tahu suaminya digoda, Karin mah woles saja. Karena memang sebenarnya kesempatan ini sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Dan kehadiran perempuan lain adalah alasan yang cukup masuk akal untuk membuat keluarganya menyerah memaksa Karin untuk mempertahankan rumah tangga.

“Aku gak heran sih kenapa dia tergila-gila. Suamiku sejak kuliah memang ganteng. Banyak yang suka. Tapi ya siap-siap aja kena pukul nanti. Aku angkat tangan, wegah ngilingno juga,” pungkasnya santai. (*/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/