alexametrics
25 C
Surabaya
Thursday, January 27, 2022
spot_img

Dibelani Kerja Banting Tulang, Eh Malah Ditinggal Ngilang

spot_img

Jangan pernah menuntut nafkah lebih dari kemampuan pasangan. Sebab jika dipaksakan, siap-siaplah bertengkar dan diceraikan.

LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Surabaya

Hari-hari Donwori, 43, penuh dengan perjuangan. Bekerja siang malam pun terus dilakukan. Terkadang rela tak pulang demi mencari nafkah buat Karin, 40, dan sang putri kesayangan. Hal itu dilakukan demi keluarga tersayang.

Maklum, sejak menikahi Karin, Donwori harus kerja keras. Sebab Karin tak mau jika nafkahnya pas-pasan. Seperti upah buruh pabrikan, nafkah untuk keluarga juga minta dinaikkan setiap tahunnya. Jika tidak, Karin bisa mencak-mencak.

“Sudah tahunan mas saya banting tulang. Pokoknya dia selalu minta nafkah lebih terus. Iya sejak menikah sudah langsung ngegas minta lebih,” ujar Donwori bercerita.

Namun, 15 tahun banting tulang, Donwori merasa sudah tak sanggup berjuang. Apalagi usianya yang sudah menginjak kepala empat, membuatnya kerap sakit-sakitan. Sayang, Karin seolah tak mau tahu menahu tentang keadaan.

“Tetap minta naik terus Mas. Mana bisa kerja naik setiap tahun. Dikasih Rp 3 juta, malah minta Rp 5 juta. Uang dari mana? Gaji saja enggak setiap tahun naik,” imbuhnya.

Puncaknya, rumah tangga Donwori pun mulai goyah. Tepat saat pandemi mulai melanda pada 2020 lalu. Gegaranya gaji Donwori juga terkena dampak. Hanya terima separo dari gaji bulanan sebelumnya.

Sayang, Karin justru makin garang karena nafkah mulai pas-pasan. Katanya tak bisa buat apa-apa. Sejak saat itu, Karin kerap pergi keluar rumah tanpa alasan yang jelas. Jika ditegur, Karin kerap melawan.

“Sudah enggak taat lagi Mas. Sejak saat itu, sudah pisah rumah. Saya sudah enggak bisa berharap lagi Mas,” paparnya sedih.

Akhirnya Donwori memutuskan pergi ke Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya. Mendaftarkan gugatan untuk Karin yang sudah pisah ranjang. Beruntung gugatan Donwori dikabulkan meski Karin tak pernah datang ke persidangan. “Verstek Mas. Ini jalan keluar. Harapan saya hanya satu, anak saya semata wayang,” jelasnya. (*/opi)

 

Jangan pernah menuntut nafkah lebih dari kemampuan pasangan. Sebab jika dipaksakan, siap-siaplah bertengkar dan diceraikan.

LUKMAN AL FARISI/Wartawan Radar Surabaya

Hari-hari Donwori, 43, penuh dengan perjuangan. Bekerja siang malam pun terus dilakukan. Terkadang rela tak pulang demi mencari nafkah buat Karin, 40, dan sang putri kesayangan. Hal itu dilakukan demi keluarga tersayang.

Maklum, sejak menikahi Karin, Donwori harus kerja keras. Sebab Karin tak mau jika nafkahnya pas-pasan. Seperti upah buruh pabrikan, nafkah untuk keluarga juga minta dinaikkan setiap tahunnya. Jika tidak, Karin bisa mencak-mencak.

“Sudah tahunan mas saya banting tulang. Pokoknya dia selalu minta nafkah lebih terus. Iya sejak menikah sudah langsung ngegas minta lebih,” ujar Donwori bercerita.

Namun, 15 tahun banting tulang, Donwori merasa sudah tak sanggup berjuang. Apalagi usianya yang sudah menginjak kepala empat, membuatnya kerap sakit-sakitan. Sayang, Karin seolah tak mau tahu menahu tentang keadaan.

“Tetap minta naik terus Mas. Mana bisa kerja naik setiap tahun. Dikasih Rp 3 juta, malah minta Rp 5 juta. Uang dari mana? Gaji saja enggak setiap tahun naik,” imbuhnya.

Puncaknya, rumah tangga Donwori pun mulai goyah. Tepat saat pandemi mulai melanda pada 2020 lalu. Gegaranya gaji Donwori juga terkena dampak. Hanya terima separo dari gaji bulanan sebelumnya.

Sayang, Karin justru makin garang karena nafkah mulai pas-pasan. Katanya tak bisa buat apa-apa. Sejak saat itu, Karin kerap pergi keluar rumah tanpa alasan yang jelas. Jika ditegur, Karin kerap melawan.

“Sudah enggak taat lagi Mas. Sejak saat itu, sudah pisah rumah. Saya sudah enggak bisa berharap lagi Mas,” paparnya sedih.

Akhirnya Donwori memutuskan pergi ke Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya. Mendaftarkan gugatan untuk Karin yang sudah pisah ranjang. Beruntung gugatan Donwori dikabulkan meski Karin tak pernah datang ke persidangan. “Verstek Mas. Ini jalan keluar. Harapan saya hanya satu, anak saya semata wayang,” jelasnya. (*/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru