alexametrics
28 C
Surabaya
Wednesday, August 10, 2022

Diurus Pakai Logika, Rumah Tangga Malah Bubrah

Urusan rumah tangga itu tidak bisa diselesaikan pakai rumus apa pun. Juga tidak bisa dipikir secara logis, karena saking sering mbelesetnya.

FAJAR YULIYANTO-Wartawan Radar Surabaya

Donwori, 34, dan Karin, 34, punya banyak kesamaan. Sama-sama wong pinter. Donwori seorang dosen yang sedang menempuh S3, sementara Karin adalah manager marketing di sebuah perusahaan minuman. Keduanya sering berlogika untuk menyelesaikan persoalan apa pun.

”Bukan karena aku pastinya, itu suami yang apa-apa sesuai pemikirannya. Misalnya, aku berpikir begini, dia nolak karena rumusnya gak pas. Pokoknya semua pakai rumus,” sambat Karin.

Bersama pengacaranya, Karin menceritakan awal mula ia menikah dengan Donwori. Keduanya bertemu saat sama-sama menempuh studi S2 di sebuah kampus terkenal di Bandung. Keduanya pun makin dekat karena jauh dari Surabaya. Karin pun mengaku kagum dengan Donwori yang pandai dengan retorika ilmu fisika, berbeda dengannya yang lebih pada ilmu manajemen.

Keduanya sering bertemu dalam berbagai kegiataan mahasiswa. Setelah dua tahun pacaran, keduanya menikah dan memutuskan mengambil pekerjaaan di Kota Pahlawan. Donwori bekerja di salah satu kampus swasta, sedangkan Karin dapat kerjaan cukup mentereng di salah satu pabrik minuman.

”Aduh kalau ketemu orang sains itu selalu serius bawaannya. Suami itu aku lihat tiap waktu ngitung enggak jelas. Pernah aku protes dan ia diam saja. Jadi rumah tanggaku itu enggak fun. Serius terus,” kata ibu satu anak itu.

Begitu pula waktu urusan anak dan keluarganya. Si anak selalu diberi materi yang berat-berat, misalnya mengerjakan soal fisika sekelas SMA. Akibatnya, si anak kini sudah depresi. ”Saya juga sering ngajarin anak belajar, tapi enggak sampai bikin depresi. Pokoknya yang egois ini suami, kapok aku nikah sama orang pinter,” kata warga kelurahan Sukolilo tersebut.

Sementara itu, Donwori mengaku istrinya juga terlalu cerewet dan semuanya selalu dihubungkan dengan teori ekonomi yang dipelajari saat kuliah. Padahal, sebagai lelaki ia tidak ingin membahas persoalan pekerjaan di rumah. ”Saya jadi ngikut juga gaya dia. Bukan salah saya,” bela Donwori. (*/opi)

Urusan rumah tangga itu tidak bisa diselesaikan pakai rumus apa pun. Juga tidak bisa dipikir secara logis, karena saking sering mbelesetnya.

FAJAR YULIYANTO-Wartawan Radar Surabaya

Donwori, 34, dan Karin, 34, punya banyak kesamaan. Sama-sama wong pinter. Donwori seorang dosen yang sedang menempuh S3, sementara Karin adalah manager marketing di sebuah perusahaan minuman. Keduanya sering berlogika untuk menyelesaikan persoalan apa pun.

”Bukan karena aku pastinya, itu suami yang apa-apa sesuai pemikirannya. Misalnya, aku berpikir begini, dia nolak karena rumusnya gak pas. Pokoknya semua pakai rumus,” sambat Karin.

Bersama pengacaranya, Karin menceritakan awal mula ia menikah dengan Donwori. Keduanya bertemu saat sama-sama menempuh studi S2 di sebuah kampus terkenal di Bandung. Keduanya pun makin dekat karena jauh dari Surabaya. Karin pun mengaku kagum dengan Donwori yang pandai dengan retorika ilmu fisika, berbeda dengannya yang lebih pada ilmu manajemen.

Keduanya sering bertemu dalam berbagai kegiataan mahasiswa. Setelah dua tahun pacaran, keduanya menikah dan memutuskan mengambil pekerjaaan di Kota Pahlawan. Donwori bekerja di salah satu kampus swasta, sedangkan Karin dapat kerjaan cukup mentereng di salah satu pabrik minuman.

”Aduh kalau ketemu orang sains itu selalu serius bawaannya. Suami itu aku lihat tiap waktu ngitung enggak jelas. Pernah aku protes dan ia diam saja. Jadi rumah tanggaku itu enggak fun. Serius terus,” kata ibu satu anak itu.

Begitu pula waktu urusan anak dan keluarganya. Si anak selalu diberi materi yang berat-berat, misalnya mengerjakan soal fisika sekelas SMA. Akibatnya, si anak kini sudah depresi. ”Saya juga sering ngajarin anak belajar, tapi enggak sampai bikin depresi. Pokoknya yang egois ini suami, kapok aku nikah sama orang pinter,” kata warga kelurahan Sukolilo tersebut.

Sementara itu, Donwori mengaku istrinya juga terlalu cerewet dan semuanya selalu dihubungkan dengan teori ekonomi yang dipelajari saat kuliah. Padahal, sebagai lelaki ia tidak ingin membahas persoalan pekerjaan di rumah. ”Saya jadi ngikut juga gaya dia. Bukan salah saya,” bela Donwori. (*/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/