alexametrics
28 C
Surabaya
Wednesday, August 10, 2022

Tinggal di Rumah Mertua Cerewet, Ngenes Sampai Ingin Bunuh Diri

Jika anak sudah menikah, orang tua tak boleh terlalu ikut campur. Sebab jika selalu ikut-ikutan, bisa-bisa menantu tak betah dan pilih bercerai.

LUKMAN AL FARISI – Wartawan Radar Surabaya

Nasib Karin, 35, sunggah malang. Lima tahun menikah dengan Donwori, 35, dan tinggal bersama mertua, justru membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi kalau bukan gara-gara mertua yang selalu mencampuri urusan keluarganya.

Setiap pagi, sindiran ibu mertua, sebut saja namanya Mira, 55, selalu membuat Karin sesak dada. Apalagi kalau bangun kesiangan dan telat nyapu halaman, serangan mertua pun silih berganti datang tak pernah memudar. Katanya seperti rudal.

”Mantu kok ya gak tau diri. Turu terus kerjaane. Apes anakku rabi karo kowe,” kata Karin menirukan ucapan ibu mertuanya yang membuatnya mengelus dada.

Padahal kata Karin, dirinya selalu bangun pagi. Hanya saja, Donwori memang dikenal manja. Apa-apa tak pernah bilang Karin. Mau makan, minta diambilin orang tua. Ingin keluar rumah, pamitnya juga sama orang tua.

Karin pun seolah hanya jadi pembantu rumah tangga. Suruh urus rumah sendirian, namun tak pernah dimanja, apalagi direken. Menjadi semacam anak tiri, bukan istri.

Lima tahun hidup dalam penjara yang dibuat Mira, Karin pun hampir ingin bunuh diri. ”Koyok enggak onok hargae aku, Mas. Kalau dimarahin mertua, bukan aku seng dibela, tapi orang tuane. Tapi lek bengi maunya dikelonin. Koyok budak wes,” kata perempuan asli Sumenep itu dengan mata berkaca-kaca.

Tak ingin terus-terusan menjadi seperti tawanan perang, Karin pun pergi dari rumah tak bilang-bilang. Karin lantas mencurahkan kehidupannya kepada ibu satusatunya. Atas sarannya, Karin pun memilih bercerai.

“Ibu sampai nangis, katanya dulu pas aku nikah masih seger. Tapi sekarang aku iki kok kurusan. Ya mau gimana lagi, bendino loro batin, Mas,” ucapnya ditemui di Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya, pekan lalu. (*/opi)

Jika anak sudah menikah, orang tua tak boleh terlalu ikut campur. Sebab jika selalu ikut-ikutan, bisa-bisa menantu tak betah dan pilih bercerai.

LUKMAN AL FARISI – Wartawan Radar Surabaya

Nasib Karin, 35, sunggah malang. Lima tahun menikah dengan Donwori, 35, dan tinggal bersama mertua, justru membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi kalau bukan gara-gara mertua yang selalu mencampuri urusan keluarganya.

Setiap pagi, sindiran ibu mertua, sebut saja namanya Mira, 55, selalu membuat Karin sesak dada. Apalagi kalau bangun kesiangan dan telat nyapu halaman, serangan mertua pun silih berganti datang tak pernah memudar. Katanya seperti rudal.

”Mantu kok ya gak tau diri. Turu terus kerjaane. Apes anakku rabi karo kowe,” kata Karin menirukan ucapan ibu mertuanya yang membuatnya mengelus dada.

Padahal kata Karin, dirinya selalu bangun pagi. Hanya saja, Donwori memang dikenal manja. Apa-apa tak pernah bilang Karin. Mau makan, minta diambilin orang tua. Ingin keluar rumah, pamitnya juga sama orang tua.

Karin pun seolah hanya jadi pembantu rumah tangga. Suruh urus rumah sendirian, namun tak pernah dimanja, apalagi direken. Menjadi semacam anak tiri, bukan istri.

Lima tahun hidup dalam penjara yang dibuat Mira, Karin pun hampir ingin bunuh diri. ”Koyok enggak onok hargae aku, Mas. Kalau dimarahin mertua, bukan aku seng dibela, tapi orang tuane. Tapi lek bengi maunya dikelonin. Koyok budak wes,” kata perempuan asli Sumenep itu dengan mata berkaca-kaca.

Tak ingin terus-terusan menjadi seperti tawanan perang, Karin pun pergi dari rumah tak bilang-bilang. Karin lantas mencurahkan kehidupannya kepada ibu satusatunya. Atas sarannya, Karin pun memilih bercerai.

“Ibu sampai nangis, katanya dulu pas aku nikah masih seger. Tapi sekarang aku iki kok kurusan. Ya mau gimana lagi, bendino loro batin, Mas,” ucapnya ditemui di Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya, pekan lalu. (*/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/