Pasar sederhana itu terbilang lengkap dan tak kalah dari mal. Hampir semua barang-barang yang menjadi kebutuhan hidup masyarakat tersedia. Misalnya saja berbagai macam baju, sepatu, hingga peralatan rumah tangga pun ada.
Meski bekas, namun barang-barang itu masih layak pakai. Tak jarang, pemburu barang bekas kerap datang ke pasar loak yang dihuni lebih dari 100 pedagang itu. Harganya pun cukup murah meriah dan sangat terjangkau.
"Sebenarnya wilayah pasar Loak itu wilayah jalan dan perkampungan biasa. Tapi lama kelamaan banyak orang jualan hingga bisa menjadi sebuah pasar," kata Pustakawan Sejarah Universitas Ciputra Chrisyandi Tri Kartika.
Perlahan namun pasti, pedagang yang berjualan di kawasan jalan perkampungan itu kian hari makin banyak. Sehingga warga Surabaya menyebutnya dengan Pasar Gembong. Chrisyandi juga mengatakan, jika ada pula yang menyebutnya Pasar Rombeng.
"Tapi kalau untuk kapan kawasan ini mulai jadi pasar, sulit untuk dijelaskan. Karena memang semua itu dimulai dari pedagang yang menjual dagangannya di sana hingga menjadi banyak," ujar pegiat Sejarah Kota Surabaya itu.
Meski begitu, hingga saat ini pasar loak terlihat tak pernah sepi dari pengunjung. Khususnya bagi para pemburu barang bekas. Mulai yang memburu berbagai alat pertukangan hingga yang sedang mencari buku-buku bacaan. (far/nur) Editor : Lambertus Hurek