RADAR SURABAYA - Banyak warga mengeluhkan lamanya waktu tunggu angkutan feeder di Surabaya Barat. Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya tengah mengkaji pemerataan dan peningkatan layanan, terutama untuk rute FD-06 Terminal Joyoboyo–Lakarsantri yang menjadi rute terpadat.
Kepala UPTD Pengelolaan Transportasi Umum Dishub Surabaya Eni Sugiharti Fajarsari mengakui rute Joyoboyo-Lakarsantri memiliki tingkat keterisian penumpang (load factor) tertinggi dibanding rute-rute lainnya.
“Rute Joyoboyo–Lakarsantri memang rute paling ramai. Load factor sudah mencapai di atas 150 persen,” ujar Eni Sugiharti Fajarsari di Surabaya, Jumat (27/2).
Rute ini melayani kawasan padat aktivitas seperti Wiyung, Karangpilang hingga koneksi ke Terminal Joyoboyo. Pada jam sibuk, khususnya pulang sekolah dan jam kerja, penumpukan penumpang kerap terjadi. Akibatnya, waktu tunggu terasa lebih lama bagi pengguna.
Saat ini, Dishub Surabaya mengoperasikan 19 unit armada di rute tersebut dengan headway atau jarak kedatangan antararmada sekitar delapan menit. Namun, tingginya lonjakan penumpang membuat kapasitas yang tersedia belum sepenuhnya mengimbangi permintaan, terutama pada sore hari.
“Terhadap keluhan masyarakat, Dishub sudah memantau dan berdasarkan hal tersebut kami mengkaji kebutuhan serta peningkatan kualitas layanan yang ada,” jelas Eni.
Kajian tersebut mencakup evaluasi kebutuhan tambahan armada maupun penyesuaian pola operasional agar distribusi layanan lebih merata dan responsif terhadap jam puncak.
Keluhan warga ramai disuarakan di media sosial. Terutama panjangnya antrean dan keterlambatan feeder yang berdampak pada mobilitas pelajar serta pekerja. Surabaya Barat sendiri menjadi salah satu kantong pertumbuhan permukiman dan kawasan pendidikan, sehingga permintaan transportasi publik terus meningkat.
Dishub Surabaya menegaskan komitmennya untuk menjaga pemerataan layanan di seluruh koridor, tidak hanya di pusat kota. Evaluasi ini diharapkan mampu menghadirkan solusi konkret agar waktu tunggu lebih terkendali dan kenyamanan penumpang meningkat. (*)
Editor : Lambertus Hurek